»»»  digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~  Genjot Teruuusss...!!!

-----Original Message-----
From: "Benedictus Dwiagus S." <[email protected]>
Date: Tue, 22 Dec 2009 01:46:06 
To: Djarot Purbadi<[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: selamat Dr. Djarot

Selmat buat Pak Dr.Djarot.
Sukses dan jaya selalu, hehehe

Salam
Dwiagus

»»»  digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~  Genjot Teruuusss...!!!

-----Original Message-----
From: Djarot Purbadi <[email protected]>
Date: Mon, 21 Dec 2009 16:29:00 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: selamat Dr. Djarot

Pak Eka, terima kasih atas semangat yang diberikan kepada saya. Doanya terkabul 
Pak. 

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Tue, 12/22/09, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: selamat Dr. Djarot
To: [email protected]
Date: Tuesday, December 22, 2009, 1:39 AM







 



  


    
      
      
      

Mohon Pak Eko sumbernya disampaikan via japri.



Untuk Pak Dr. Djarot, hehehe pangling nih, selamat ya pak.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Eko B K <ekobu...@.. .> wrote:

>

> Dari sebuah sumber yg tidak bisa saya ungkapkan di sini, saya mendapat

kabar Pak Djarot dgn sangat sukses telah melalui sidang doktorat nya,

selamat Pak!

>

> salam..

>

> --- On Mon, 12/21/09, Eko B K ekobu...@... wrote:

>

> From: Eko B K ekobu...@...

> Subject: Re: [referensi] Re: posmo, induktif vs deduktif Pak Djarot

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Monday, December 21, 2009, 1:29 PM

>

>

>

>

>

>

>

> Â

>

>

>

>

>

>

>

>

>

> Pak Risfan, Pak Djarot, Pak Eka ysh

>

> Terimakasih atas masukannya.. . bukan survey Pak Eka, saya hanya ingin

mendapatkan masukan saja, barangkali ada pandangan yg berbeda...:)

>

> salam..

>

> --- On Sat, 12/19/09, Djarot Purbadi dpurb...@yahoo. com> wrote:

>

> From: Djarot Purbadi dpurb...@yahoo. com>

> Subject: Re: [referensi] Re: posmo, induktif vs deduktif Pak Djarot

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Saturday, December 19, 2009, 4:56 PM

>

>

>

>

>

>

>

> Â

>

>

>

>

>

>

> Pak Risfan, Pak Eka dan Pak Eko,

>

> Saya juga memilih yang ketiga, sebab sehalus apapun jika masih terkait

dengan manusia (peneliti) maka selalu saja ada unsur dirinya yang

terkait dalam penelitian kualitatif ataupun kuantitatif. Ada yang

bilang, toh bisa diturunkan kadar subyektivitasnya sampai mencapai

pengetahuan inter-subyektif. Mungkin ya bisa begitu, saya belum mencoba,

sebab dalam konteks lain isinya bisa menjadi negatif.

>

> Tentang penelitian induktif bersifat mewah, saya kok belum memahami

Pak Risfan, mohon penjelasan.

>

> Jika saya punya skenario pemelitian ingin memetakan jaringan penjual

mi jowo di Yogyakarta dengan langkah santai,

> maksudnya dikerjakan sedikit-demi- sedikit dengan target pencapaian

dalam waktu yang panjang, cara pengerjaannya bisa sangat menarik dan

murah (tidak mewah). Saya bisa santai mewawancara penjual mi di

perumahan

> saya sebagai awal (entry point) (lihat di http://eloknogotirt

o,wordpress. com tentang Agus Mie atau di http://penghunikota

.wordpress. com tentang Kang Parjono), kemudian satu per satu seminggu

dua kali jajan mie yang dituntun informasi sebelumnya mewawancara

penjual mie yang lain, maka lama-lama jaringan dan sebaran spasial

penjual mi jowo di Yogyakarta bisa terlihat dengan jelas dan mendalam.

>

> Jika saya yang mengerjakan, santai sekali dan murah karena harga

makanan tidak mahal di kios mie. Paling-paling kita bisa menghabiskan 3

- 4 gelas air jeruk yang panas (sengaja minta yang panas, biar lama

wawancaranya, menjadi jam seperti jam pasir). Memang satu penjual mie

bisa kita datangi lebih dari sekali (skenario grand-tour dan mini-tour)

untuk melakukan validasi dsb. Akhirnya informasi akan terkumpul secara

induktif. Pengamatan awal saya masih memperkuat tesis sebelumnya, bahwa

kekerabatan ada kaitan dengan jaringan dan sebaran spasial penjual mie

> jowo di Jogjakarta.

>

> Nah, jika kita akan meneliti secara deduktif, kita gunakan teori

kekerabatan sebagai basis hipotesisnya, kiranya lebih mudah lagi sebab

indikasi dapat diturunkan dari hipotesis ini dan segera bisa dibuat

kuesionernya. ..mungkin bisa lebih cepat dikerjakan.. ..waktunya pendek

(beayanya sedikit; saya ke Kaenbaun hanya dua kali, jadi beayanya juga

nggak sampai ratusan juta untuk kerja lapangan sebuah disertasi). Sekali

lagi, saya belum mengerti mewahnya dimana Pak ?

>

> Persoalannya, apakah dengan substansi seperti itu kita sedang menulis

disertasi atau sekedar latihan riset....disini peran pembimbing

menentukan, bagaimana sebuah proposal mengarah kepada penulisan

disertasi ataukah tidak.

>

> Salam,

>

>

>

> Djarot Purbadi

>

>

>

> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

>

> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

>

> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

>

> --- On Sat, 12/19/09, Risfan M risf...@yahoo. com> wrote:

>

> From: Risfan M risf...@yahoo. com>

> Subject: [referensi] Re: posmo, induktif vs deduktif Pak Djarot

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Saturday, December 19, 2009, 6:37 PM

>

>

>

>

>

>

>

> Â

>

>

>

>

>

>

> Pak Eko dan temans ysh,

>

>

>

> Kalau saya ditanya pilih mana: kuantitatif/ deduktif atau kualitatif

induktif. Dalam hal riset, saya mengidamkan banyaknya hasil riset

kualitatif.

>

> Tapi kalau dalam hal perumusan kebijakan, terkait pekerjaan konsultan

yang terikat waktu, biaya, maka milih kuantitatif.

>

>

>

> Saya dari dulu terkesan trilogi nya Geertz ttg Mojokuto. Yang menurut

saya bisa menjelaskan bagaimana pola ruang, sosial-ekonomi, budaya itu

terbentuk. Kan bagus kalau bisa diterapkan untuk meneliti fenomena

aglomerasi kegiatan ekonomi spt Jepara, Kemang atau Cihapelas/ Dago/

Riau. Sehingga kalau mau intervensi pengembangan UMKM, ekonomi lokal,

penataan ruang atau perbaikan lingkungan, kita bisa lebih tepat

pendekatannya bagaimana, mualinya dari mana.

>

> Karena pendekatan yang deduktif, seragam, apalagi top-down, ngandelin

peraturan jelas selama ini gak efektif.

>

>

>

> Namun, kecuali kita lagi sekolah, atau ada sponsor, kayaknya riset

induktif itu sesuatu yg "mewah" ya.

>

>

>

> Tapi saya baca buku aplikasi ethnography dalam bisnis itu juga menarik

lho. Walau tak se"ideal" riset S-3, tapi menunjukkan kegunaan praktis

analisis kualitatif.

>

>

>

> Pendapat yang agak campur-campur ya.

>

>

>

> Salam,

>

> Risfan Munir

>





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke