Pak Djarot ysh, memang benar kajian spatial-culture sangat tipikal di
milis ini dan dikembangkan cukup lama, dan malah anda mereguk manfaat
lebih dulu untuk disertasi anda. Lebih awal lagi sejak thread Panen
Lontar (2004) yang dipicu oleh Pak Sujana, dan terus menjadi letupan
kecil-kecil sampai kini. Namun memang belum tersusun sebagai suatu
metodologi, yang kita harapkan dapat menjadi metodologi asli dan khas
Indonesia; karenanya membutuhkan partisipasi yang luas dari kita
bersama. Seperti kasus pemindahan ibukota yang sedang didiskusikan,
sudah diakui oleh para pakar kita bila metodologi yang ada belum memadai
atau malah tidak tersedia, namun 'sense'-nya hal ini dapat terjawab
dengan kajian spatial-culture, tanpa bisa terbantahkan argumentasinya.

Sebagai doktor spatial-culture dari institusi pendidikan formal tentunya
hal ini menarik perhatian anda, saya kira ini menjadi tantangan kita
bersama pula. Karenanya diharapkan bagi anda melebur dalam diskusi yang
ada untuk menaruh lilin-lilin kecil secara tersebar untuk memberikan
penerangan dalam menemukan jalan metodologi yang bisa disepakati pada
akhirnya. Bila hal ini dapat kita pecahkan, wah sudah pasti lulus jadi
Dr.ref, mungkin secara rame-rame. Jadi teringat dengan penelitian
tentang Gunung Merapi, yang telah menghasilkan puluhan doktor dari
berbagai disiplin ilmu hanya karena meneliti satu gunung itu saja.

Sebenarnya selain berbagai referensi yang telah anda sebutkan, telah
diberikan sinyal-sinyal oleh Pak Wawo sebagaimana dapat dilihat dalam
diskusi 4 tahun yang lalu itu. Saya kira menarik bila Pak Wawo memancing
dari Immanuel Kant untuk mendeliberasikan ruang-waktu, sehingga kita
perlu juga melakukan 'reinventing' ke dalam penemuan-penemuan tua, yang
akan menuntun kita juga dalam penjelajahan past-past dan past-future
yang lebih lama dari itu. Sebagai contoh kita sudah memiliki referensi
penelitian post-strukturalis dari Foucault ketika menjelajah ulang
penelitian "The Prince" oleh Machiavelli yang telah banyak dibelokkan
seiring dengan perjalanan waktu. Sambil kita juga menyimak pandangan
ruang-waktu-kultural dari Prof.Dr. ATA yang mungkin berbeda dan telah
menghayati permasalahan itu lebih lama.

Dengan demikian pak, perdebatan itu merupakan jalan kebaikan
(mu'aqobah), walau akan membangkitkan adrenalin dan neuro linguistic
kita bersama. Sementara demikian pak, saya izin 3 hari untuk muhasabah
dan ber-weekend syndrome. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Pak Eka, refleksinya menarik dan mengundang gagasan-gagasan untuk
menanggapi. Mengingat begitu panjang refleksinya, saya ingin membacanya
pelan-pelan di sela-sela liburan akhir tahun, selain juga karena memang
harus didalami dengan pikiran dan hati.
>
> Saya tidak tahu bahwa panjenengan sedang dalam proses memasuki tahap
metamosfosis untuk mengubah diri dari ulat menjadi kupu-kupu dan
sekarang berada di tahap kepompong. Setelah melalui tahap penjajagan,
kemudian pelontaran tema diskusi tentang penelitian (khususnya), saya
telah berhasil meneguk manfaat forum ini, sampai pada tahap "numpang
cerdas" (melanjutkan istilah Pak Harya). Meskipun saya rajin mengikuti
diskusi di forum S3 Arsitektur UGM, saya belum puas di ruang kami,
mungkin karena kebetulan saja saya termasuk kelompok senior yang masih
tersisa. Oleh karenanya, saya mencari partner di luar ruang absolut dan
berusaha menggelitik kemapanan berpikir para sahabat saya di ruang
virtual ini. Terima kasih telah bersedia meladeni saya, demi memantapkan
persiapan saya sampai menerima anugerah lulus dengan sangat baik.
>
> Satu dulu tanggapan dari saya, tentang tata spasial. Ada teman arsitek
akademisi yang mengatakan bahwa terminologi spatial digunakan di
arsitektur dan PWK, tetapi harus hati-hati karena substansinya beda.
Konsep spasial yang mudah dipahami menurut saya adalah konsepnya
Rapoport (1977) yang mengatakan bahwa tata spasial adalah hubungan benda
dengan benda, benda dengan manusia, dan manusia dengan manusia.
Pertanyaannya, apakah demikian juga pengertian di PWK (planning) ?
>
> Tentang "spatial culture" saya menemukan tulisan Bill Hillier (1989)
yang mengatakan bahwa arsitektur sarat dengan human content yang secara
fisik terlihat pada keberadaan artefak-artefaknya, maka itulah spasial
culture. Secara lebih tefas dikatakan bahwa spatial culture adalah
tatanan ruang tertentu yang mengungkapkan tatanan artefak-artefak
berdasarkan prinsip-prinsip tatanan sosial masyarakatnya. Hillier juga
mengatakan, masyarakat manusia menata spasial milieu dalam rangka
menghasilkan suatu konstruksi yang disebut spatial culture. Uraian dalam
alinea ini sudah saya tuliskan di naskah disertasi saya halaman 56-57.
>
> Pertanyaan saya: bagaimana konsep spatial culture yang dimaksudkan
dalam kajian Pak Eka ? Sesuai dengan tuntutan sebuah disertasi,
kebaharuan apa yang ingin ditemukan dari konsep / teori spatial culture
yang sudah pernah ada ?
>
> Tanggapan yang lain menyusul ya Pak.
>
> Salam,
>
>
>
> Djarot Purbadi
>
>
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
>
> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
>
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On Thu, 12/24/09, ffekadj 4ek...@... wrote:


Kirim email ke