Milister ysh,
Menarik  bhw dalam bbrp  posting diskusi tata ruang dimilis akhir ini   kita 
bisa temukan  dipakainya peristilahan salah obat….. 
Mengindikasikan bhw masalah tata ruang yg semula pernah terkesan bhw oleh 
sementara kalangan planner ia msh lbh banyak cenderung dipercaya hanya pantas 
berkutat diseputar aspek2 propasip normatip dan fisik.…. kini sudah banyak 
bergeser didiskusikan diranah sosial, ekonomi, hankam, bahkan kesehatan dsb…….
Utk lbh jelasnya…. Masalah keruangan yg sedang didiskusikan dan dibilang salah 
obat adlh mslh pemindahan ibukota baik di Brazil (dari Rio ke Brasilia) maupun 
dinegeri kita  yg kabarnya itu mrpkn rencana SBY (dari Jkt ke Kalimantan 
Tengah)….. yg ini jg dibilang sbg salah obat…… 
Kalau sudah bicara ttg ‘salah obat’ dan itu terjadi bbrp kali ….. mau tak mau 
kita perlu serba sedikit singgung jg logika2 didunia  kedokteran dan 
kefarmasian, teknik dan akurasi diagnosis, dan terakhir sangat penting tak lupa 
juga kita hrs bicara ttg kepastian siapa sih sebenarnya sosok pasien yg mau 
diobati itu?…… sebab tak boleh terjadi ada fallacy…...hanya karena sisakit 
malah nampak gemuk dan bicaranya masih lantang  sedangkan yg mengantar malah 
nampak kurus dan pucat dan bicaranya gemetaran lalu nanti yang keliru  diberi 
resep, disuntik, diinfus atau diobati justru yg mengantar sisakit………
Logika2 dunia teknik kedokteran dan kefarmasian tak sesederhana atau senaif spt 
itu…… hanya ada satu penyakit tunggal dan obat tunggal…..
Utk kemunculan simptom yg sama …  spt misal benjol dikulit… bisa disebabkan krn 
disengat lebah, karena alergi, kanker atau karena bekas ditonjok tetangga…..
Orang berpenyakit paru bisa saja sekaligus berpenyakit gula….. orang 
berpenyakit lever bisa juga sekaligus sakit jantung dsb…… tdk setiap penyakit 
harus pula obatnya hanya 1 (satu) macam obat tunggal saja…… radang tenggorok 
diobati dgn (1) antibiotik utk membunuh kumannya…… (2) anti inflamasi utk 
pembangun kembali jaringan mukosa yg rusak….. (3) analgesik utk pereda rasa 
sakit….. (4) minum makan yg lunak dan hangat dan leher dibalut syal  krn kuman 
tak kerasan tinggal pd suhu tenggorok yg hangat…….
Ttg kabar rencana SBY  ttg pindah pusat pemerintahan ke Kalteng lalu dibilang 
salah obat itu….. itu sangat mungkin terjadi krn yg melihat (dn yg katakan 
demikian) telah salah membuat bbrp persepsi/ asumsi….. pertama ia mengira bahwa 
jumlah pasiennya adalah hanya  1 (satu) buah obyek saja ……kesalahan kedua 
adalah bhw ia mengira …. Pasiennya (atau sosok yg sakit) adalah hanya  kota 
Jakarta (saja)….. kesalahan ketiga ….ia mengira (karenanya) yg perlu diobati 
hanyalah kota Jakarta saja…. Karenanya lalu muncul pula kesalahan keempat 
….ialah dikira kepindahan pusat pemerintahan itu justru semata2 utk mengobati 
masalah sakitnya kota Jakarta saja……… lalu kesalahan kelima… menuduh langkah 
pemindahan ibukota sebagai salah obat……..
Padahal kalau mau fair dan berpikir jernih……bukanlah yg sakit itu sebenarnya 
adalah sistem tata ruang secara nasional di Indonesia dan bukan semata2 
Jakarta?…. Yg sakit itu bukankah adalah sistem integrasi dan sistem distribusi 
kota2 di Indonesia? (maklum warisan masa penjajahan maupun warisan masa 
kerajaan2 sebelumnya dan blm pernah dirombak)…. Atau maap maap sekali lagi maap 
.…ataukah jangan2 yg sakit atau sosok pasiennya itu ada pula diantaranya malah 
justru malah dari kalangan planners sendiri?..... spt misalnya sakit bila 
dengar urusan ttg perlunya ditambah jumlah kota2 besar (krn asumsi bhw kota2 
haruslah kecil2 saja, banyak pohon2, taman2 dan burung berkicau) ….sakit bila 
dengar masalah wilayah tertinggal (krn terbiasa jawasentris dan jakarta 
sentris)…. Sakit bila dengar masalah perlunya penegakan hirarkhi dan sistem 
kota secara nasional (krn percaya pd Friedmann dan Douglass 1978 bhw kota2 di 
Asia cukuplah kecil2 saja, tak pantas
 punya kota metropolitan) …….sakit bila dengar masalah tata ruang tak sekedar 
aspek fisik saja ….. namun juga sosial, ekonomi, industri, kesempatan kerja, 
kewiraswastaan, arsitektural, interior desain, hankam dsb dsb  ….
Pindah ibukota samasekali bukanlah the best action …. Tapi adlh langkah 
keruangan yg baik bagi kepentingan nasional… atau setidaknya saya lihat 
kepindahan ibukota sbg mending ketimbang samasekali tak ada tindakan keruangan 
apapun utk mengurai fungsi2 rangkap kota primat sekaligus ibukota negara yg 
merangkap fungsi2  pusat bisnis dan industri dan pemerintahan… alamat akan 
terjadi proses migrasi kaum intelektual dan kerah putih yg baik bagi 
pertumbuhan wilayah tujuan….. maupun juga alamat akan tambah lagi kemunculan 
kota besar baru utk menambah kekurangan jumlah kota2 besar kita dikawasan 
tertinggal spt Kalimantan … terlebih utk jumlah penduduk nasional yg 235 juta 
ini…… kebaikan dari kepindahan ibukota  perlu lbh dipandang sbg kebaikan kepada 
perbaikan sistem tata ruang nasional yg lebih baik……… bukan sekedar apakah Jkt 
jadi lbh baik atau tidak…… lagipula PWK bukankah adalah teknik atau teknologi 
ttg rekayasa ruang ……agar dpt
 mengubah ruang disatu kawasan pedalaman manapun yg tadinya terpencil kurang 
produktip menjadi produktip…. Tadinya kurang nyaman agar menjadi nyaman….… 
tadinya bukan apa2 lalu menjadi pusat kesempatan kerja dan pemukiman…… tadinya 
tak menarik jadi menarik dsb ……kenapa takut?..... gak kuasai teknologinyakah? 
.......salam,
aby


      

Kirim email ke