Pak Wilmar, saya belum pernah membaca buku PJM Nas tersebut, tetapi saya pernah mendengar dongengan dia ketika berkunjung ke UGM, waktu itu saya masih S2 dan Prof Parmono Atmadi masih sugeng. Menurut interpretasi Nas simbolisme kota Jakarta sangat lucu ketika obyek-obyek, khususnya patung-patung diinterpretasikan secara berantai. Saya lupa kelucuannya, tetapi memang patung-patung itu bagaikan sedang berbicara dengan bahasa non-verbal dalam pandangan Paduka Jang Mulia Nas (kepanjangan ini menurut Prof Parmono). Benarlah, ada multi-interpretasi.
Kekuatan simbol terletak pada kaitan antara pemahaman pengamat dengan simbol yang diamati. Tanpa ada kaitan yang otentik (makna simbolis dari pencipta), maka simbol akan menjadi obyek yang kosong atau bahkan mainan bagi para pengamat. Artinya, diperlukan adanya "sosialisasi" pengertian simbolis yang diwujudkan menjadi simbol supaya kekuatannya muncul dan menjadi daya penggerak positif. Saya kira kita bisa belajar dari simbol-simbol apapun (misalnya dari agama), yang sangat besar daya pengaruhnya kepada seseorang jika pemahamannya sesuai dengan aoa yang seharusnya (termasuk apa yang tidak seharusnya), dan muncul pada perilaku. Dalam kasus ibukota negara, saya duga ada hal yang sama, selain untuk membangun kebanggaan juga ada aspek lain yang belum saya ketahui. Apakah simbolisme juga menjadi domain planning ataukah tidak ya, mohon pencerahan. Dalam arsitektur, simbolisme penting, bahkan menjadi salah satu cara pengungkapan yang paling kerap dipakai tetapi kadang tidak disadari. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Tue, 1/5/10, wilmarsalim <[email protected]> wrote: From: wilmarsalim <[email protected]> Subject: Bls: Re: [referensi] Re: Ibukota baru, multi-interpretasi To: [email protected] Date: Tuesday, January 5, 2010, 2:32 AM Pak Djarot ysh, Benar, dengan perspektif simbolisme aspek intangible menjadi berarti. Peter Nas dalam Urban Symbolism (1993) menyatakan simbol bisa berupa obyek, perbuatan maupun bentuk ekspresi lain yang mewakili sesuatu yang biasanya sebuah gagasan yang abstrak sifatnya. Hanya saja perlu kita sadari bahwa sebuah simbol perkotaan (urban symbol) bisa dimaknai secara berbeda-beda baik oleh penggagasnya, pemimpin yang berkuasa, rakyat jelata, arsitek, perencana, pengusaha, dlsbnya. Ada multi-interpretasi makna sebuah simbol, yang bisa dipengaruhi oleh mereka yang mencoba membacanya, yang kemudian dapat pula mempengaruhi orang lain yang mencoba membacanya. Lantas mereka yang mencoba membaca maknanyapun dipengaruhi oleh suasana batin ybs yang tidak datang begitu saja, tapi dipengaruhi oleh berbagai aspek ybs alami sejak tumbuh dewasa, dalam keluarga, sekolah, tempat kerja, dlsbnya. Saya melihat dalam menyikapi gagasan ttg ibukota barupun kita semua berbeda pendapat karena kita mempunyai perbedaan interpretasi dalam memaknai gagasan tsb. Hal ini tentu wajar saja. Pada akhirnya memang apakah sebuah gagasan akan terlaksana atau tidak bergantung pada pemimpin yang berkuasa dan bagaimana ybs memaknai gagasan tsb, yang suatu saat bisa mempengaruhi banyak orang dalam memaknai hal yang sama. Bisa saja ybs terlihat lebih tradisional daripada rasional atau sebaliknya. Yang penting menurut saya dalam kerangka demokratisasi, semua pendapat yang berbeda dapat dicermati bersama sehingga keputusan dapat diambil dalam 'hikmat kebijaksanaan' . Selain itu dalam kerangka desentralisasi, hubungan antara pusat dan daerah bisa dipererat dengan penguatan peran daerah dalam pengambilan keputusan. Salam, Wilmar --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote: > > Pak Wilmar, jika benar perspektifnya adalah simbolisme, maka tentu tidak > terbatas pada aspek geografi, geometri yang lebih tangible. Jika kita > berpikir simbolisme, maka ada aspek-aspek intangible yang ikut bermain, > secara disadari ataukah tidak. Pada waktu membangun Monas, misalnya, ada > interpretasi bahwa konsepnya adalah Lingga-Yoni dan itu tentunya referensi > dari Hindu sekte tertentu. Jika dalam sorotan saya, aspek titik tengah > menjadi penting sebab mengandung nilai transenden (boleh saja disebut > metafisika, meskipun tidak selalu demikian). > > Kenapa dulu Bung Karno selalu membawa tongkat komando yang unik, sementara > sekarang presiden kita tidak demikian, tentu ada pemikiran khas di balik > perilaku beliau. BK adalah pemimpin dalam situasi transisi, dari budaya > tradisional ke yang rasional (yang konon diklaim lebih tinggi). Nah, apakah > para presiden kita sekarang ini cenderung lebih rasional dan mengabaikan > aspek irrasional (metafisika) yang umum ada dalam kehidupan tradisional ? > Pertanyaannya, apakah dengan pemimpin (cara berpikir) rasional kehidupan akan > menjadi lebih baik atau maju ? Tugas kita barangkali adalah menyeimbangkan > atau mensinerjikan pemikiran tradisional dan rasional sehingga menjadi > kekuatan yang unik mampu menemukan solusi-solusi bagi problema arsitektur dan > planning yang kita hadapi. Mohon pencerahan. > > Salam, > > > > Djarot Purbadi >

