Pak Djarot,

Itulah masalah yang saya maksud Pak. Temuan yang oleh peneliti sbg hasil 
"temuan induktif" plus rekomendasi, pada saat mau diterapkan oleh masyarakat, 
stakeholders dianggap sesuatu yang deduktif, top-down juga, apalagi kalau 
lintas waktu.
Tapi memang kita harus menyadari dalam proses planning sekarang "temuan 
induktif + rekomendasi" itu msh dianggap bagian proses teknokratik, yang mesti 
lewat proses partisipatif, proses politis. Disini lah nanti pengambilan 
keputusan terjadi. Dan, nanti riilnya ada lagi proses penganggaran, yang bisa 
lain lagi kejadiannya.
Terima kasih.

Salam,
Risfan Munir

Pada Sen, 04 Jan 2010 16:07 CST Djarot Purbadi menulis:

>Pak Risfan, berpikir induktif biasanya ditemani dengan deduktif seperti 
>gambaran naik dan turun gunung iru. Ketika kita sudah melakukan induksi dan 
>menemukan "teori" biasanya akan dipraktekkan (ada bagian saran atau 
>rekomendasi dalam penelitian). Nah untuk mempraktekkan sesuatu kita 
>menggunakan acuan, maka di dalam pikiran kita sudah ada teori dan tindakan 
>kita dituntun oleh teori yang kita temukan atau kita yakini. Ini memang proses 
>deduktif. 
>
>Jika kita bicara khusus tentang penelitian memang ada dua, penelitian induktif 
>dan penelitian deduktif. Nah, ketika kita sudah menemukan konsep atau teori 
>melalui kedua jenis penelitian ini, kita sudah menyimpan suatu teori untuk 
>landasan aksi, maka ini dikatakan kita sedang berpikir deduktif atau melakukan 
>deduksi. Dalam hal ini kita memang harus kritis, deduksi pada posisi mana: 
>apakah pada saat membangun teori ataukah pada langkah mengawali aksi. Begitu 
>kira-kira ceritanya Pak.
>
>Salam,
>
>
>
>Djarot Purbadi
>
>
>
>http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
>
>http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
>
>http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
>--- On Tue, 1/5/10, Risfan M <[email protected]> wrote:
>
>From: Risfan M <[email protected]>
>Subject: Bls: Re: [referensi] Re: Ibukota baru, multi-interpretasi
>To: [email protected]
>Date: Tuesday, January 5, 2010, 4:16 AM
>
>
>
>
>
>
>
> 
>
>
>
>  
>
>
>    
>      
>      
>      Pak Wilmar dan rekans ysh,
>
>
>
>Setuju, simbol artinya sangat relatif ternyata untuk tiap orang. Ekstremnya, 
>tergantung kata tour-guide.
>
>
>
>Siapa yang tahu arti Monas seperti yang dikatakan Pak Djarot. Juga patung 
>"7-Up, Pizza delivery, Kereta Kuda" dst. Saya kira tidak banyak lagi yang tahu 
>apa artinya (dulu).
>
>
>
>Tapi yang bersifat fungsional geometrik barangkali "terasa fungsi 
>orientasinya" , seperti Lapangan Monas, Banteng, Bundaran HI, Jembatan Semaggi.
>
>
>
>Kaena itu bagus Kevin Lych mengenalkan adanya "landmark", "node". Yang 
>pengaruh kesannya memang beda.
>
>
>
>Simbol sekali lagi sangat relatif bagi tiap orang. Pada masa sekarang, "pusat 
>kota" itu dimana? Di kompleks pekantoran pemerintahan, atau di CBD? 
>
>Pada jaman ekonomi susah, dana terbatas. Demokrasi, desentralisasi. Masyarakat 
>yang plural dan fungsional. Menempatkan lokasi "ibu kota" hanya dgn 
>pertimbangan geometris di "wudelnya bumi", rasanya apa ndak memaksakan. 
>
>
>
>Pak Djarot, saya kok punya anggapan pendekatan kualitatif, induktif itu 
>mendasarkan pada "pandangan warga, komunitas", sering bersifat lokal. Itu 
>kekuatannya. Kalau tiba-tiba Pak Djarot mengangkat "kepercayaan budaya masa 
>lalu" yang menganggap pemimpin seperti "raja, titisan dewa, sabda pandita 
>ratu, dengan tongkat komando simsalabim nya". Apa ini tidak sangat top-down, 
>deduktif? 
>
>
>
>Kesimpulan saya, pilihan-pilihan relokasi ibu-kota, sebagai kajian dari masa 
>ke masa menarik. Tapi realisasi tentu dengan pertimbangan fungsional dan 
>kelayakan (teknis, finansial, ekonomis) dan proses demokrasi serta otonomi 
>daerah yang riil sifatnya.
>
>
>
>Simbol fisik, barangkali lebih kena untuk "sejauh mata memandang", kalau skala 
>nasional, cuma tampak geometrisnya di atas peta 1:100.000.000 apa gunanya? 
>Sekali lagi Pak Djarot, mendesain ruang mengandalkan geometri "putaran jangka 
>& penggaris" itu apa nggak terlalu deduktif?
>
>
>
>Salam,
>
>Risfan Munir
>
>
>
>Pada Sen, 04 Jan 2010 13:32 CST wilmarsalim menulis:
>
>
>
>>Pak Djarot ysh,
>
>>
>
>>Benar, dengan perspektif simbolisme aspek intangible menjadi berarti. Peter 
>>Nas dalam Urban Symbolism (1993) menyatakan simbol bisa berupa obyek, 
>>perbuatan maupun bentuk ekspresi lain yang mewakili sesuatu yang biasanya 
>>sebuah gagasan yang abstrak sifatnya. Hanya saja perlu kita sadari bahwa 
>>sebuah simbol perkotaan (urban symbol) bisa dimaknai secara berbeda-beda baik 
>>oleh penggagasnya, pemimpin yang berkuasa, rakyat jelata, arsitek, perencana, 
>>pengusaha, dlsbnya. Ada multi-interpretasi makna sebuah simbol, yang bisa 
>>dipengaruhi oleh mereka yang mencoba membacanya, yang kemudian dapat pula 
>>mempengaruhi orang lain yang mencoba membacanya. Lantas mereka yang mencoba 
>>membaca maknanyapun dipengaruhi oleh suasana batin ybs yang tidak datang 
>>begitu saja, tapi dipengaruhi oleh berbagai aspek ybs alami sejak tumbuh 
>>dewasa, dalam keluarga, sekolah, tempat kerja, dlsbnya.
>
>>
>
>>Saya melihat dalam menyikapi gagasan ttg ibukota barupun kita semua berbeda 
>>pendapat karena kita mempunyai perbedaan interpretasi dalam memaknai gagasan 
>>tsb. Hal ini tentu wajar saja. Pada akhirnya memang apakah sebuah gagasan 
>>akan terlaksana atau tidak bergantung pada pemimpin yang berkuasa dan 
>>bagaimana ybs memaknai gagasan tsb, yang suatu saat bisa mempengaruhi banyak 
>>orang dalam memaknai hal yang sama. Bisa saja ybs terlihat lebih tradisional 
>>daripada rasional atau sebaliknya. Yang penting menurut saya dalam kerangka 
>>demokratisasi, semua pendapat yang berbeda dapat dicermati bersama sehingga 
>>keputusan dapat diambil dalam 'hikmat kebijaksanaan' . Selain itu dalam 
>>kerangka desentralisasi, hubungan antara pusat dan daerah bisa dipererat 
>>dengan penguatan peran daerah dalam pengambilan keputusan. 
>
>>
>
>>Salam,
>
>>
>
>>Wilmar
>
>>
>
>>--- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote:
>
>>>
>
>>> Pak Wilmar, jika benar perspektifnya adalah simbolisme, maka tentu tidak 
>>> terbatas pada aspek geografi, geometri yang lebih tangible. Jika kita 
>>> berpikir simbolisme, maka ada aspek-aspek intangible yang ikut bermain, 
>>> secara disadari ataukah tidak. Pada waktu membangun Monas, misalnya, ada 
>>> interpretasi bahwa konsepnya adalah Lingga-Yoni dan itu tentunya referensi 
>>> dari Hindu sekte tertentu. Jika dalam sorotan saya, aspek titik tengah 
>>> menjadi penting sebab mengandung nilai transenden (boleh saja disebut 
>>> metafisika, meskipun tidak selalu demikian). 
>
>>> 
>
>>> Kenapa dulu Bung Karno selalu membawa tongkat komando yang unik, sementara 
>>> sekarang presiden kita tidak demikian, tentu ada pemikiran khas di balik 
>>> perilaku beliau. BK adalah pemimpin dalam situasi transisi, dari budaya 
>>> tradisional ke yang rasional (yang konon diklaim lebih tinggi). Nah, apakah 
>>> para presiden kita sekarang ini cenderung lebih rasional dan mengabaikan 
>>> aspek irrasional (metafisika) yang umum ada dalam kehidupan tradisional ? 
>>> Pertanyaannya, apakah dengan pemimpin (cara berpikir) rasional kehidupan 
>>> akan menjadi lebih baik atau maju ? Tugas kita barangkali adalah 
>>> menyeimbangkan atau mensinerjikan pemikiran tradisional dan rasional 
>>> sehingga menjadi kekuatan yang unik mampu menemukan solusi-solusi bagi 
>>> problema arsitektur dan planning yang kita hadapi. Mohon pencerahan.
>
>>> 
>
>>> Salam,
>
>>> 
>
>>> 
>
>>> 
>
>>> Djarot Purbadi
>
>>> 
>
>>
>
>>
>
>
>
>
>
>    
>     
>
>    
>    
>
>
> 
>
>
>
>  
>
>
>
>
>
>
>      


      

Kirim email ke