Pak Suhadi ysh, belum lama ini saya ada menemukan tulisan bapak tentang
kriteria ibukota, namun ketelingsut. Apakah bapak masih menyimpannya dan
rela membaginya di milis ini? Sebelumnya terima kasih. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Risfan M <risf...@...> wrote:
>
> Pak Wilmar dan rekans ysh,
>
> Setuju, simbol artinya sangat relatif ternyata untuk tiap orang.
Ekstremnya, tergantung kata tour-guide.
>
> Siapa yang tahu arti Monas seperti yang dikatakan Pak Djarot. Juga
patung "7-Up, Pizza delivery, Kereta Kuda" dst. Saya kira tidak banyak
lagi yang tahu apa artinya (dulu).
>
> Tapi yang bersifat fungsional geometrik barangkali "terasa fungsi
orientasinya", seperti Lapangan Monas, Banteng, Bundaran HI, Jembatan
Semaggi.
>
> Kaena itu bagus Kevin Lych mengenalkan adanya "landmark", "node". Yang
pengaruh kesannya memang beda.
>
> Simbol sekali lagi sangat relatif bagi tiap orang. Pada masa sekarang,
"pusat kota" itu dimana? Di kompleks pekantoran pemerintahan, atau di
CBD?
> Pada jaman ekonomi susah, dana terbatas. Demokrasi, desentralisasi.
Masyarakat yang plural dan fungsional. Menempatkan lokasi "ibu kota"
hanya dgn pertimbangan geometris di "wudelnya bumi", rasanya apa ndak
memaksakan.
>
> Pak Djarot, saya kok punya anggapan pendekatan kualitatif, induktif
itu mendasarkan pada "pandangan warga, komunitas", sering bersifat
lokal. Itu kekuatannya. Kalau tiba-tiba Pak Djarot mengangkat
"kepercayaan budaya masa lalu" yang menganggap pemimpin seperti "raja,
titisan dewa, sabda pandita ratu, dengan tongkat komando simsalabim
nya". Apa ini tidak sangat top-down, deduktif?
>
> Kesimpulan saya, pilihan-pilihan relokasi ibu-kota, sebagai kajian
dari masa ke masa menarik. Tapi realisasi tentu dengan pertimbangan
fungsional dan kelayakan (teknis, finansial, ekonomis) dan proses
demokrasi serta otonomi daerah yang riil sifatnya.
>
> Simbol fisik, barangkali lebih kena untuk "sejauh mata memandang",
kalau skala nasional, cuma tampak geometrisnya di atas peta
1:100.000.000 apa gunanya? Sekali lagi Pak Djarot, mendesain ruang
mengandalkan geometri "putaran jangka & penggaris" itu apa nggak terlalu
deduktif?
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
> Pada Sen, 04 Jan 2010 13:32 CST wilmarsalim menulis:
>
> >Pak Djarot ysh,
> >
> >Benar, dengan perspektif simbolisme aspek intangible menjadi berarti.
Peter Nas dalam Urban Symbolism (1993) menyatakan simbol bisa berupa
obyek, perbuatan maupun bentuk ekspresi lain yang mewakili sesuatu yang
biasanya sebuah gagasan yang abstrak sifatnya. Hanya saja perlu kita
sadari bahwa sebuah simbol perkotaan (urban symbol) bisa dimaknai secara
berbeda-beda baik oleh penggagasnya, pemimpin yang berkuasa, rakyat
jelata, arsitek, perencana, pengusaha, dlsbnya. Ada multi-interpretasi
makna sebuah simbol, yang bisa dipengaruhi oleh mereka yang mencoba
membacanya, yang kemudian dapat pula mempengaruhi orang lain yang
mencoba membacanya. Lantas mereka yang mencoba membaca maknanyapun
dipengaruhi oleh suasana batin ybs yang tidak datang begitu saja, tapi
dipengaruhi oleh berbagai aspek ybs alami sejak tumbuh dewasa, dalam
keluarga, sekolah, tempat kerja, dlsbnya.
> >
> >Saya melihat dalam menyikapi gagasan ttg ibukota barupun kita semua
berbeda pendapat karena kita mempunyai perbedaan interpretasi dalam
memaknai gagasan tsb. Hal ini tentu wajar saja. Pada akhirnya memang
apakah sebuah gagasan akan terlaksana atau tidak bergantung pada
pemimpin yang berkuasa dan bagaimana ybs memaknai gagasan tsb, yang
suatu saat bisa mempengaruhi banyak orang dalam memaknai hal yang sama.
Bisa saja ybs terlihat lebih tradisional daripada rasional atau
sebaliknya. Yang penting menurut saya dalam kerangka demokratisasi,
semua pendapat yang berbeda dapat dicermati bersama sehingga keputusan
dapat diambil dalam 'hikmat kebijaksanaan'. Selain itu dalam kerangka
desentralisasi, hubungan antara pusat dan daerah bisa dipererat dengan
penguatan peran daerah dalam pengambilan keputusan.
> >
> >Salam,
> >
> >Wilmar
> >
> >--- In [email protected], Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:
> >>
> >> Pak Wilmar, jika benar perspektifnya adalah simbolisme, maka tentu
tidak terbatas pada aspek geografi, geometri yang lebih tangible. Jika
kita berpikir simbolisme, maka ada aspek-aspek intangible yang ikut
bermain, secara disadari ataukah tidak. Pada waktu membangun Monas,
misalnya, ada interpretasi bahwa konsepnya adalah Lingga-Yoni dan itu
tentunya referensi dari Hindu sekte tertentu. Jika dalam sorotan saya,
aspek titik tengah menjadi penting sebab mengandung nilai transenden
(boleh saja disebut metafisika, meskipun tidak selalu demikian).
> >>
> >> Kenapa dulu Bung Karno selalu membawa tongkat komando yang unik,
sementara sekarang presiden kita tidak demikian, tentu ada pemikiran
khas di balik perilaku beliau. BK adalah pemimpin dalam situasi
transisi, dari budaya tradisional ke yang rasional (yang konon diklaim
lebih tinggi). Nah, apakah para presiden kita sekarang ini cenderung
lebih rasional dan mengabaikan aspek irrasional (metafisika) yang umum
ada dalam kehidupan tradisional ? Pertanyaannya, apakah dengan pemimpin
(cara berpikir) rasional kehidupan akan menjadi lebih baik atau maju ?
Tugas kita barangkali adalah menyeimbangkan atau mensinerjikan pemikiran
tradisional dan rasional sehingga menjadi kekuatan yang unik mampu
menemukan solusi-solusi bagi problema arsitektur dan planning yang kita
hadapi. Mohon pencerahan.
> >>
> >> Salam,
> >>
> >>
> >>
> >> Djarot Purbadi



Kirim email ke