Pak Aby, biasanya sih, kalau sudah ada keputusan lokasinya, nanti teknik-teknik 'mengisi pot itu supaya pohon bisa tumbuh berbuah' pasti menyusul... Hehhehee Jadi nanti kalau Keppressnya sudah keluar, pasti nanti bakal ada anggaran konsultansi untuk memikirkan bagaimana-bagaimana yang diuraikan pak Aby. Dan planolog2 itu pasti tanggap deh menggarap pekerjaan2 seperti itu.
Sama seperti ketika program transmigrasi, kalau sudah ditetapkan lokasi transmigrasi, skarang sudaah banyak pekerjaan-pekerjaan merancang bagaimana menggairahkan kawasan transmigrasi itu supaya mandiri (dgn KTM) Jadi, jangan khawatir, pak aby, hehehhee. Aspek mengisi pot itu pasti gak akan terlepas terpisah dr keputuaan di mana lokasi pot itu, hehehehe Salam tanpa stigma, dwiagus »»» digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~ Genjot Teruuusss...!!! -----Original Message----- From: hengky abiyoso <[email protected]> Date: Fri, 8 Jan 2010 02:33:16 To: referensi<[email protected]> Subject: [referensi] Re : (2) Bandara Intl dan Kota2 Kita di Timur Milisters ysh, Ttg ‘teknologi’ pengembangan kota2 besar dilokasi2 terpencil….. sebenarnya kalau kita mau tengok analogi spt “teknik menanam tanaman buah dlm drum”….. pd dasarnya kita dpt melihat analogi spt bhw pot/ drum perlu diisi dgn media tanah dgn komposisi dan struktur yg ideal spt berupa a/ campuran tanah, b/ pupuk kandang dan c/ sedikit pasir lalu bak tanaman disiram air dan dipupuk secara teratur dan terbukti… tanaman spt durian, mangga, rambutan, jambu, anggur dsb dpt tumbuh dan berbuah subur…… Kalau awam yg berimajinasi apapun ttg kota sih gak papa, namanya awam ……tapi tentu agak disesalkan kalau sampai terjadi ahli tata ruang jg terbawa2 berimajinasi jg spt awam (mdh2n gak, spy gak perlu stigma) … bhw asal bicara ttg pengembangan kota baru ditempat lain … hampir tak ketinggalan lalu dibicarakan jg ttg kemungkinan mindahin ibukota’ (spt seolah tak ada imajinasi/ artikulasi lain)…… pdhal bukankah sebagai ‘teknolog dibidang menata ruang’ ... bukankah planolog jg sebenarnya perlu dan bisa dn harus amat bisa ….analog dgn insinyur pertanian yg mengembangkan habitat buatan bagi pohon2 buah didalam drum lalu drum itu dpt diletakkan dimana saja?...... dan berbuah?....... Pdhal kalau kita mau scr sederhana saja menelaah apa isi ‘drum’ daripada pohon tanaman bernama “kota besar buatan” itu?........ kita bisa identifikasikan bhw kota besar (agr layak memiliki bandara intl) itu setidaknya memerlukan jumlah tertentu total penduduknya (population treshold)…. Ia perlu jumlah tertentu minimum SDM kota tsb dgn penghasilan menengah atas ..… agar kota itu jg memiliki daya beli dan pola konsumsi yg membangkitkan perekonomian wilayah…… kota itu jg perlu employment resources … bukan hanya berupa aktivitas pemerintahan, namun utamanya ekonomi dan kewirawastaan… seperti industri manufaktur atau industri jasa…….. tak lupa juga perlu pengembangan vista kota…. Krn kota buatan ditempat terpencil bukan hanya utk sekedar jaga2 melayani kalau ada pesawat yg nyasar dan terpaksa mampir mendarat saja…… namun juga akan diperuntukkan bagi ruang tinggal dan bekerja selama bertahun2 utk mereka yg akan di(tugas)migrasikan menuju kota terpencil tsb … bahkan beserta keluarganya ……jg demi utk menarik arus migrasi dan pembentukan aglomerasi selanjutnya…… jg kelak pariwisata…... Krn itu kalau planolog tak mengakrabkan diri dgn logika spt tabulampot (tanaman buah dalam pot) tadi itu… sulit rasanya akan muncul artikulasi2 keruangan baru (pdhal jg gak baru) dinegeri ini seperti teknik migrasi kerah putih…… teknik semai industri manufaktur memimpin ….. teknik desain kota besar dan teknik land readjustment … dan bukankah perlu dikuatirkan jangan2 hanya akan muncul artikulasi teknik keruangan dari itu keitu lagi…. Teknik zonasi ….. building code…. garis sempadan …. RTRWN …… RDTR…. krn mengembangkan/ menata ruang kota2 dikawasan terpencil itu beda besar paradigmanya dgn penataan ruang dikawasan maju …..…paradigma yg pertama bukannya ‘mengendalikan’ tapi sebaliknya ….’menggalakkan’ pemanfaatan ruang ……walau kelak bila kawasn terpencil itu jadi maju lalu boleh saja mulai muncul kebutuhan ‘pengendalian pemanfaatan ruang’ spt apa yg terjadi dikawasan maju……….

