Pro Sahabats Asw. saya baru melintasi jalan Slamet Riyadi Solo terus melewati mal 'Solo Square'..menuju Kartosuro. Di sisi kiri jalan utama ada jalan jalur lambat, di pisah tanaman pohon pelindung (jenis Filicium). Situasinya persis jalan di sekitar Palur yang sisi timur jalan utama ada jalur lambat. Akan tetapi jalur lambat di sepanjang jalan setelah Solo Square (lupa namanya, mungkin jl jend A. Yani), muspro alias tidak berguna sebagaimana yang direncanakan. Di Jalur lambat banyak lubang, tempat mangkal pickup box, truk, kendaraan rusak, kios PKL, sampah..dan lain2 rupa. Pengendara sepeda, sepeda motor tidak ada yang menggunakannya jalur lambat ini, mereka masuk di jalur cepat/utama. Para pedestrian lah yang akhirnya memanfaatkan jalan jalur lambat ini...sebab trotoirnya tidak jelas. Setting disain jalan jadi tidak karuan, tata lanskap kurang menarik/perawatan, pembangunan jalan (investasi pemerintah) jadi muspro. Muspro di sekitar trotoir juga banyak tersebar di kota besar dan di Ibukota Repubik ini. di Jakarta, salah satu potretnya ada di trotoir jl Raya Pasar Minggu (dari Pasar Minggu hingga Pancoran) yang telah beralih fungsi sebagai: - perluasan ruang usaha toko2 di sekitarnya - ruang parkir pengunjung toko/bengkel - ruang meletakkan gerobak PKL (rokok, minuman, paramex dll) secara menetap - ruang pasar loak (onderdil motor, baju bekas, macem2 ada) - ruang kuliner jajanan dan makan duren Sumatera (@ Rp 5.000-40.000) Para perancang trotoir memang tidak mempersiapkan hasil rancangannya bakal diserbu aneka fungsi tersebut. Mengapa kota-kota besar di negara tetangga (Kuala Lumpur, Bangkok) tidak memiliki rekaman kehidupan seperti di atas? Contoh di KL, sekalipun di sekitar Pasar Kota, misalnya pasar Chow Kit, trotoirnya tetap enak digunakan. Memang sesekali di Seoul, Jeddah, ataupun Paris, ada obralan di trotoir. Mereka tidak menetap, tidak permanen seperti di Indonesia. Barangkali salah satu dari faktor utama keadaan ini adalah adanya faktor pembiaran oleh kita....Salam, Koeswadi JKT.

