Dear Sahabats, Masalahnya sebenarnya bisa disederhanakan yaitu teori lokal untuk pembangunan lokal sebagai antitesis dari teori universal untuk pembangunan lokal. "Mashab kearifan lokal" ada pada arus yang pertama, bukan yang kedua, sebab asumsinya kota terdiri atas anyaman lokus-lokus yang unik, maka menghormati keunikan sebagai landasan penataan ruang kota adalah hal yang sangat logis dan realistis. Tentunya tidak serta merta yang serba lokal diangkat, mesti melalui saringan tahap berikutnya, mana yang sungguh bermanfaat atau berdampak stratejik pada masa depan kehidupan kota itu yang diangkat.
Misalnya, ojek sebagai kiat atau strategi sekelompok masyarakat untuk hidup dan muncul karena mereka melihat peluang (gap) pada sistem transportasi kota di tempat tertentu. Ini bisa dilihat sebagai kearifan lokal yang menarik. Ketika guru-guru mengojek karena gajinya dianggap kurang, maka tidak lantas fenomena ojek menjadi negatif. Ada tugas memperhatikan gaji guru supaya lebih sejahtera dan tidak menjadi pengojek yang mungkin mengurangi profesionalismenya, dan ada tugas mempertahankan ojek demi sekelompok warga masyarakat yang memang sungguh membutuhkannya demi hidupnya. Dengan demikian, ojek bisa menjadi bagian dari sistem transportasi kota ketika ada ketidak berdayaan sistem yang ada dalam melayani seluruh kebutuhan masyarakat. Masih banyak contoh lain, yang tidak selalu konotasinya adalah tradisi lama, irasional, mistik dan sebagainya, sebab lokal ya lokal. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Sat, 1/30/10, Eko B K <[email protected]> wrote: From: Eko B K <[email protected]> Subject: [referensi] Re: Mazhab Yogya- mahzab atau jualan scholarship? To: [email protected] Date: Saturday, January 30, 2010, 8:13 PM Pak Risfan dan rekan2 ysh., haha betul Pak Risfan, memang kita perlu berdiskusi dgn dasar pengertian yg sama... Saya kira mahzab Chicago yg dibicarakan Pak Djarot dan Pak Deden tidak lain dari urban/human ecology yg dikembangkan oleh sosiolog2 Univ Chicago seperti Robert Park dan Ernest Burgess... adapun mahzab LA yg berkembang kemudian dipelopori oleh geograf2 LA seperti Edward Soja (UCLA) dan Michael Dear (USC)... mahzab Chicago sudah lama dikenal dan diakui sgt penting kontribusinya dlm urban sociology/studies walaupun telah lama dianggap mati, dan orang2 mahzab LA mengklaim bahwa pemikiran mereka yg posmodernist menantang mahzab Chicago yg modernist... dan seperti mahzab Chicago yg mengambil terrain nya di Chicago, maka group LA terrain nya di LA... Tapi beberapa scholar seperti Mark Gottdiener berpendapat bahwa berbeda dgn mahzab Chicago yg diakui kontribusinya thd scholarship, maka mahzab LA ini lebih pd pelabelan utk kepentingan "jualan scholarship" ...scholarship menjadi komoditas dagangan... argumen Gottdiener antara lain bahwa fenomena perkotaan yg terjadi di LA ini bukan unik hanya di LA dan teori2 tsb bukan hanya dikembangkan oleh geograf2 LA, dan beberapa teori bahkan dikembangkan di luar LA seperti oleh Harvey, Lefebvre, dan Castells...( kalau kita baca buku2 Soja misalkan, maka memang terlihat bahwa dia banyak mengutip Lefebvre, Castells, dan Harvey)... Jadi tidak aneh kalau Pak Risfan belum pernah dengar ttg kedua mahzab tsb, karena yg satu sudah lama mati (Chicago) dan yg satu lagi hanya klaim sekelompok scholars (LA)... ini juga yg membuat saya heran ketika permasalahan perkotaan di Indonesia dikaitkan dgn mahzab Chicago dan LA.... salam.. --- En date de : Sam 30.1.10, Risfan M <risf...@yahoo. com> a écrit : De: Risfan M <risf...@yahoo. com> Objet: Bls: [referensi] Re: Mazhab Yogya- FE vs FISIP/FIB vsPWK À: refere...@yahoogrou ps.com Date: Samedi 30 Janvier 2010, 8h39 Rekans ysh, Pak Eka, Pak Djarot, sebetulnya yang diomongin itu Mazhab apa sih? Kalau dicompare dgn mazhab Chicago, LA, itu juga mazhab apa? Selama saya sekolah PWK kok belum pernah dengar? (Yang saya ingat kok cuma kasus Land Use Plan -nya Chapin?) Salam, Risfan Munir Pada Sab, 30 Jan 2010 00:54 CST ffekadj menulis: > >Pak Risfan dan Referensiers ysh. > >Saya berusaha menangkap pandangan Pak Risfan berikut, dan intinya telah >meramaikan diskusi kita sepagi ini tentang pe-mazhab-an pemikiran. >Sebelumnya saya menanggapi mengenai 'Barat menuduh Barat', hanya berupa >fasilitasi pemikiran terhadap rekan-rekan yang sedang atau telah belajar >di tempat munculnya berbagai pandangan itu; dengan berharap ada >umpan-balik yang signifikan tentang apa yang mereka pelajari dan >manfaatnya bagi bangsa Indonesia yang diwakili oleh 500+ peserta milis >ini. Tidak semuanya gayung bersambut kata berjawab, sehingga dapat >memunculkan banyak pertanyaan lain, seperti misalnya harapan itu bapak >tuliskan dalam komentar di bawah. > >Berikutnya masalah sumber pemikiran, filsuf dan moralist Adam Smith >malah didewakan sebagai 'dewa ekonomi', padahal dia bercerita tentang >fenomena sosial dan moral. Biolog Patrick Geddes kita dewakan sebagai >'dewa kota', dst. Dengan kata lain 'penafsiran' telah memegang peranan >penting dalam mengembangkan dan menguraikan ilmu pengetahuan. Dalam hal >ini sebagaimana yang bapak maksudkan: bersekutu, melakukan perlawanan, >atau berjalan sendiri? Tapi memang begitulah caranya dinamika itu >berjalan. Pak ATA sudah beberapa kali mengingatkan: buat teori sendiri >untuk Indonesia! > >Masalah mazhab, sebagaimana saya sebutkan lebih maju dari paradigma, >namun sebenarnya juga lebih santun dibandingkan dengan pola pro-kontra >yang selama ini berkembang dalam masyarakat (akademis). Saya kurang >kompeten mengatakan, bila paradigma kurang berkembang selama ini apalagi >pada pembentukan mazhab, rujukan saya Pak Hendro ><http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/2306> . > >Mengenai 'kearifan lokal', memang banyak sekarang program dan proyek >yang menggunakan istilah itu; namun apa makna yang digunakan, setelah >saya intip, belum punya landasan akademis. Memang mengenai 'istilah' >bisa digunakan bermacam-macam, seperti contoh hikmah dari vernacularitas >yang saya temukan seminggu ini: sesuatu ketika berada di tangkai disebut >'bulir', namun ketika dipanen disebut 'padi', kemudian setelah ditumbuk >dan ditampi disebut 'beras', dan setelah dimasak dinamakan 'nasi', kalau >digoreng namanya 'nasi goreng', dan setelah dimakan dan dikeluarkan >namanya 'ampas'. Bendanya itu juga. > >Tentang Mazhab Yogya, pertama ini adalah pengakuan identitas dan ada >pengumuman tentang hal itu. Saya hanya mengakui keberadaan 'identitas'. >Kedua, adalah hal ini cukup beralasan dan melalui diskusi yang panjang >pada tahun lalu. Ada konsep yang kuat dan kalau boleh dibilang sudah >mentoq, seperti kutipan ><http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/9026> ini. Dalam >postingan lain, saya cari ndak nemu, ada pernyataan bila Yogya berani >menolak eksternalitas untuk mempertahankan kearifan lokalnya. Ketiga, >fenomenologi yang menjadi dasar metodologi mazhab sebenarnya juga tidak >asli pendekatan Barat, lebih pada konsep kebatinan tradisional (wening) >yang mencari jejak pada akar keilmuan modern; karena dalam ilmu >fenomenologi aslinya masih mau menerima eksternalitas. Jadi metodologi >ini tipikal in situ. Keempat, memang ada beberapa orang ahli yang >(katanya) bersepakat tentang hal itu. > >Saya kira ini sedikit penjelasan tentang pengenalan saya terhadap mazhab >ini. Mohon koreksi dan tuntunan dari para sesepuh. Sementara demikian >dulu. Salam. > >-ekadj > > >--- In refere...@yahoogrou ps.com, "risfano" <risf...@... > wrote: >> >> Uda Ekadj dan Rekans ysh, >> >> Menurut saya Uda Eka yang selalu menulis nama Faucault, Bateson, etc >apakah juga bukan "Barat menuduh Barat". >> >> Persoalannya menurut saya bukan Barat vs Lokal. Itu persoalan beda >paradigma.Sesunggu hnya dua kubu berlawanan itu (ada juga sih proyek >bersamanya) , adalah kubu Fakultas Ekonomi vs FISIP, Fakultas Ilmu >Budaya. >> >> Murid-murid Adam Smith dkk ada di FE, murid-murid Marx, Faucault, dkk >(maaf sebetulnya saya tidak tahu) ada di FISIP, FIB. Di antara mereka >tidak ribut, karena sudah berjalan puluhan tahun sehingga 'sepakat' >memahami "ilmuku is ilmuku, ilmumu is ilmumu." Kita sebagai Planner >(yang belajar ekonomi, budaya setelah S2/S3) sebaiknya "memanfaatkan" >hasil-hasil pemikiran mereka, jangan justru terjebak dalam "kutukan" >ilmu mereka. >> >> Dunia mengenal pasang surut, "what goes up, must come down", begitu >kata syair lagu soul Spinning Wheel. Era sebelum kemerdekaan (30an, >40an) Dunia Ketiga disemarakkan ideologi nasionalisme, sosialisme, anti >kapitalis. Setelah Era kemerdekaan (50an, 60an) era konsolidasi negara >baru, lalu pembangunan (ekonomi). >> >> Di negara kita, sewaktu berjuang semuanya sepertinya satu tujuan, tapi >awal 60an, politik jadi panglima, geger terus, pawai terus, "perut >diganjal gombal (pidato)". Paro kedua mulai pembangunan ekonomi. Memberi >makan 180 juta penduduk, menciptakan lapangan kerja, tentunya perlu >"visi, misi yang pasti, persatuan, kestabilan", apalagi waktu itu >ancaman sparatis masih laten bisa terjadi. Era pembangunan menjalankan >misinya. Dan selanjutnya "kekuasaan" yang terlalu kuat menimbulkan ekses >"KKN". Maka kondisi menjadi matang untuk bangkitnya era baru, Era >Reformasi. >> >> Perlawanan atas "kekuasaan model Orde Baru" menguatkan ide reformasi, >demokratisasi, desentralisasi. Di bidang kebijakan publik, perencanaan, >FISIP/FIB membawa angin baru pula. Dan, ternyata tidak tipikal >Indonesia. Gejala "anti rasionalisme ekonomi, anti globalisasi" ini >rupanya juga gejala global. Buktinya terjadi dimana-mana. >> >> Masalahnya tetap: bagaimana memberi makan, lapangan kerja, tempat >tinggal layak, bagi 250 juta manusia Indonesia ini. >> >> Sekali lagi, kita Planner/Arsitek, pinter-pinter lah "memanfaatkan" , >jangan kena "kutukan" ilmu ekonomi (kapitalis) atau ilmu sosial (ist), >atau sinkretisme, pemujaan masa lalu. Orang FE dan FISIP/FIB saja yang >ilmunya jelas bertentangan rukun-rukun saja. >> >> "Rational Planning Method" (RPM), katanya terlalu mekanistik, >kuantitatif, deterministik gantinya diharap ganti dengan yang >"partisipatif, berbudaya, mengandung kearifan lokal". Saya kira gak gitu >lah. Masing-masing punya ruang geraknya masing-masing. Kita Planner >sebaiknya bisa menggunakan keduanya sesuai kebutuhan. RPM, lebih tepat >untuk skala luas, pendekatan partisipatif berbasis komunitas kebanyakan >dibangun dari pengalaman di level community. >> >> Salam, >> Risfan Munir > >

