Pak Risfan ysh, maaf saya komentari dan belokkan sedikit ya. Saya tertarik dengan 'persepsi' Pak Risfan terhadap kajian ekolog dan sosiolog yang terlatih melihat dampak (negatif). Kalau kajian ilmuwan itu didasarkan pada survai etnografi, maka persepsi bapak menjadi kurang tepat. Berarti men-judge persepsi sosi0-kultur sebagai pandangan pesimis. Namun saya setuju Pak Aby yang memberikan penghargaan kepada postingan bapak ini sebagai suatu suara jujur, dan juga pesimis, di tengah upaya bapak untuk mengibarkan optimisme. Jadi bagaimana sebenarnya sikap perencana ini, apakah optimis atau pesimis? Atau 'tepu-tepu', seperti istilah yang saya dengar kemarin di Pontianak sebagai 'lapis'?
Saya buka saja satu kisah belasan tahun yang lalu, sewaktu saya memperhatikan seorang rekan konsultan menyusun IKK. Dari data penduduk tahun evaluasi ditemukan trend tahun -5 dan -4 ada peningkatan sangat kecil jumlah penduduk; tapi tahun -3 penduduk out-migration sampai 15% (karena krismon), dan menurun pada -2 menjadi 5%, dan relatif stabil pada -1. Nah dengan data ini, laju penduduk seharusnya minus, atau proyeksi 20 tahun ke depan akan semakin kurang. Namun apakah 'etika' kita mengajarkan sikap pesimis dalam perencanaan? Bukankah kita seharusnya 'lapis' supaya ada 'kesan peningkatan' dalam pembangunan, sehingga ada 'demand' lalu butuh infrastruktur dll? Sebenarnya saya melihat ada dua hal dalam pesimisme ini pak. Pertama, perlu pengajaran tentang 'jurus kalah' atau 'jurus legowo' dalam merencana. Kedua, perlu pengembangan skenario persepsi pesimistik dalam membangun, seperti bisa mengandalkan self-sufficient <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1487> -nya Toro, atau self-help <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/876> -nya Pak Wawo, atau 'ekonomi bejo' yang pernah kita diskusikan. Jadi seperti memandang permasalahan kita di Jakarta contohnya, sejauh Ratu Adil dan Godot belum hadir, tetap akan selalu menjadi masalah. Atau ada rekan di milis ini yang menjadi Parikesit? Sementara demikian dulu pak. Salam. -ekadj --- In [email protected], Risfan M <risf...@...> wrote: > > Pak Djarot dan Rekans ysh, > > Terima kasih atas apresiasinya. Mudah2an saya tidak terlalu percaya atau GR dengan itu. Buku Samurai Sejati itu memang saya tulis sebagian besar sbg refleksi pengalaman mPlanning. > Terutama sebagai konsultan kita tiap waktu menemui bowheer yang berbeda, ketemu forum presentasi, seminar, workshop dengan orang dengan latar belakang macam2. Umumnya semua logika benar, tapi PERSEPSInya beda. > Cara pandang instansi ke-PU-an, Kemdagri, Pemda, Swasta, UKM, tentu beda-beda, dan logic masing2 benar, karena Misi lembaganya memang begitu. > Apalagi tiap orang itu ilmu sekolahnya juga beda. Insinyur Sipil biasa detail, full rasional. Arsitek kadang rasional, tapi kadang muncul sisi senimannya, argumen kreatif. Ecolog, Sociolog yang terlatih melihat dampak (negatif). Ekonom yang gandrung pertumbuhan, efisiensi dan value for money. Kadang ketemu birokrat full yg normatif tapi sangat birokratis, kadang akademisi full, dst. Dan sebagai Planner (celakanya) harus presentasi di depan mereka semua. Apalagi sebagai konsultan hak bicaranya juga sering dibatasi "harga diri" bowheer (yang can do no wrong). > Inilah seni memenangkan PERSEPSI, terhadap lingkungan, juga diri sendiri. > > Tentu saja bagi yang bukan konsultan bermain PERSEPSI ini juga penting, karena Planning selalu multi sektor, selalu melihatkan 'pertarungan' kepentingan antar instansi. Dan itu adalah wajar, karena semua literatur Kebjakan Publik di dunia juga mengisahkan pertarungan kepentingan antar instansi (pemerintah), memperjuangkan misi, rebutan kewenangan, ego sektoral, sulitnya koordinasi, dst. > Bagaimana pula kita memperjuangkan agar ide TATA RUANG juga PERKOTAAN juga KELAUTAN masuk dalam benak pengambil keputusan, serta masyarakat. > Seperti kata pakar marketing Al-Ries, "We are living in the battle of perception, not product". > > Salam, > Risfan Munir > > > Pada Sab, 06 Feb 2010 14:02 CST Djarot Purbadi menulis: > > >Pak Risfan memang hebat ! > > > >Pak saya masih terus belajar dan melatih jurus-jurus Samurai Sejati di buku hadiah dari Bapak itu. Saya sudah merasakan manfaatnya dan yakin sangat membantu saya dalam menghadapi "pertarungan" di segala medan dan skala pertempuran untuk "menang" sejati, yaitu berkembang bersama sahabat-sahabat saya. Terima kasih atas berkah pencerahan yang boleh saya terima lewat kepiawaian Pak Risfan !!! > > > >Salam, > > > > > > > >Djarot Purbadi > > > > > > > >http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] > > > >http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] > > > >http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com > > > >--- On Sat, 2/6/10, Risfan M risf...@... wrote: > > > >From: Risfan M risf...@... > >Subject: [referensi] Buku [1 Attachment] > >To: "referensi" [email protected], [email protected] > >Date: Saturday, February 6, 2010, 5:22 PM > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > [Attachment(s) from Risfan M included below] > > > > > > Rekans ysh, > > > >Maaf numpang pesan. Untuk menjawab pertanyaan dari beberapa Mahasiswa dan Alumni PL-ITB dan rekan lainnya mengenai Buku saya, terutama yang menyangkut Materi Presentasi saya yl, > >A.l. menyangkut topik: From Good to Great, Merangkai Skenario Menang, Memainkan Keajaiban Mesin Waktu, Mata Elang dan Mata Cacing, Berkompetisi dengan Berkoalisi (Coopetition) . Buku tersebut telah ada di TB Gramedia di seluruh tanah air. > >Berikut saya attached Review Buku tersebut di madia massa Jurnal Nasional, silahkan klik attachment. > >Semoga menjawab pertanyaan dan bermanfaat. > > > >Salam, > >Risfan Munir > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > >

