Milisters ysh,
Bhw berbagai  produk ketataruangan nasional nampak banyak berbentuk Rencana 
(RTRWN, RTRW, RDTR, peraturan zonasi dsb) ..lalu berbentuk juga PP, UU. Permen 
dsb ……namun nampak sangat kurang dlm bentuknya dibidang2 spt eksperimen2 
pengembangan  teknik/ teknologi keruangan berkait ekonomi, sosial, hankam, 
pariwisata, kewirawastaan dan perluasan kesempatan kerja, perbaikan desain kota 
spt merubah jalan2 linier menjadi lbh berpola grid utk maksimalisasi manfat 
ruang kota,  dsb ….. maka kiranya agenda2 kerja Komnas TTrg bisa jg 
mendiskusikan masalah2 tsb dgn kementerian2 berkait atau universitas/ institut 
teknik serta juga dgn masyarakat industri ……dgn mana dpt dikembangkan 
laboratorium2 lapangan atau proyek2 percontohan teknologi keruangan yg baik 
dilapangan .. yg selain itu dpt membuktikan kebenaran2 dan manfaat2 nyata dari  
teori dan aplikasi teknik2/ teknologi2 keruangan …..metoda2 dan hasilnyapun  
dpt dijadikan percontohan nyata utk
 replikasinya secara luas dimana2 ….sekaligus itu dpt menjadi bukti2 kebenaran2 
empirik dr berbagai teori keruangan yg khususnya semula banyak menjadi 
kontroversi…….
Sbg contoh, Batam adalah ‘laboratorium lapangan’ utk pembuktian ‘hipotesa’  
krg/ lbh bahwa  bila sebuah pulau (Batam)  yg semula tertinggal namun ia hanya 
berada 20km diseberang sebuah  negara pulau yg lahannya terbatas namun 
berstatus  kota besar internasional ( bahkan termasuk global city) Singapore 
….maka hampir pasti pulau itu dpt dikembangkan menjadi kota besar dan dpt 
berfungsi sebagai penampung spillover kegiatannya ……oleh karena negara pulau 
tersebut benar2  kekurangan/ membutuhkan ruang utk spillover kegiatannya 
……terbukti relatif tak lama Batam berkembang menjadi kotamadya, menampung 
berbagai limpahan investasi industri dari SIngapura  dan bahkan kini nyaris 
menjadi metropolitan……..
Pada sisi lain Batam jg sekaligus dpt menjadi laboratorium lapangan ttg bgmn 
telah terjadi proses  (trans)migrasi kerah putih dan terjadi proses aglomerasi 
perkotaan yg mantap  …sekaligus lab lapangan yg menunjukkan bgmn perekonomian 
perkotaan kota tsb menggeliat dan berkembang pesat krn pola konsumsi yg 
berkembang dgn kehadiran pekerja kelas menengah  dgn penghasilannya  yg cukup 
baik (drpd semula penghuni pulau hanya nelayan  dan perompak kapal) ……dan 
sekalian melengkapi ….disitu jg berkembang pesat migrasi buruh  dan penganggur 
kelas bawah yg  dpt ditunjukkan dgn berkembangnya pula kawasn kumuh di Batam yg 
walau disatu  sisi menjadi pemandangan  kurang manis namun disisi lain ia 
memberikan sumbangannya dlm ‘menormalkan’ harga2 kebutuhan dan jasa2 disana 
dari yg semula awalnya serba mahal luar biasa mirip diSingapura dan kini 
menjadi  mendekati rata2 indeks harga2 ‘normal’ diwilayah Indonesia…….
Sayangnya adlh bhw dikawasan2 perbatasan lain wilayah kita tak lagi terdapat 
fenomena2 mirip SIngapura begitu sehingga kita tak dpt mengembangkan lagi 
Batam2 atau Batam3 dst ditempat lain……….
Satu hal yg perlu dicatat ……perkembangan pesat Batam samasekali bukan krn sebab 
 keampuhan RTRWN atau rencana2 ruang R-ABCD atau R-XYZ lainnya …namun semata  
krn faktor Singapura  yg makmur yg dibelit oleh masalah keterbatasan lahan dan 
sementara itu  lahan kita sangat luas dan nganggur dan hanya 20km diseberangnya 
……..dan sukses demikian jg tak akan semudah itu dapat direplikasi  dipulau 
Sebatik yg hanya berjarak 10km dari Tawao (jauh lbh kecil dr Singapura)  di 
Kalimantan timur/utara bagian  Malaysia  …….namun drpd pemukiman di Sebatik 
kita hanya dibiarkan  sebatas berstatus dan bertampang desa dan lbh banyak 
diisi oleh pasukan TNI …adlh tugas teknik/ teknologi  keruangan kita utk 
mengembangkan kota  di Sebatik agar Sebatik benar menjadi beranda depan negeri 
kita .. persis sama seperti Tawao  10km disebrangnya benar2 menjadi beranda  
depan negeri Malaysia dipandang  dari Indonesia …….salam, aby 
 
 


      

Kirim email ke