Milisters ysh, 
Ckp menarik membaca posting rekan Sariffuddin 2/10/10  ttg sustainable city yg 
mengambil kota Semarang sbg ajang  penelitian dan menghasilkan kesimpulan sbb : 
“…menunjukkan bahwa orientasi kehidupan masyarakat berjenjang dari 
"EKONOMI-SOSIAL- LINGKUNGAN' , Orientasi hidup mereka lebih mengutamakan 
ekonomi terlebih dahulu, kemudian sosial dan terakhir lingkungan. Akibatnya 
perhatian masyarakat terhadap lingkungan sangat 
maka yang akan terjadi adalah 'fenomena generasi gelembung sabun' (rendah……”, 
 juga : 
“……..Ketakutan saya pribadi jika aspek kemanusiaan menjadi 'anak tiri' 
pembangunan Soemardjan, 1984), yaitu semain besar gelembung sabun maka akan 
terlihat semakin indah dan mewah namun rawan pecah. Kondisi ini terjadi saat 
pekerjaan masyarakat tertransformasi dari sektor vital ke non vital atau bahkan 
sama sekali tidak vital, yaitu dari petani pemilik dan penggarap pertanian 
menjadi seorang buruh pabrik yang keberlanjutannya dipengaruhi oleh mekanisme 
pasar……”.
Perekonomian kota, kehidupan/ masalah sosial kota dan lingkungan perkotaan 
bukanlah masalah2 yg boleh dipisah2kan  dan seolah dapat masing2 saling disuruh 
berdiri sendiri2 atau berkembang sendiri2 …..namun semuanya saling berkait dan 
benar ….memang berjenjang …spt terlihat pd tingkat rumah tangga saja ….ketika 
penghasilan sehari2 tak pernah cukup maka uang sekolah anak tak terbayar, 
undangan perkawinan tak mampu dihadiri krn tak terbeli  baju baru dan tak ada 
uang yg dpt disisihkan utk amplop sumbangan …..genteng bocor, pagar roboh atau 
tembok jamuranpun  tak mampu diperbaiki ……yg ada malah tambal sulam gali lubang 
tutup lubang (hutang)…… 
Penelitian rekan Sarifuddin ttg kota Semarang menunjukkan kenyataan sekaligus 
kebenaran dari kenyataan itu ……kebenaran krn memang ia terjadi sama hampir pd 
banyak kota2 didunia dan bukan hanya di Smg saja…….. 
Sampai sebelum 1980 atau terlebih sekitar 1940-an kwalitas sungai Rhine di 
Eropa yg mengalir melalui bbrp negara Jerman, Belgia dan Netherland  juga 
demikian kotornya dan tercemar berat ….namun seiring semakin makmurnya negeri2 
itu, maka kebersihan sungai2 itu akhirnya dpt direhabilitasi …..demikian juga 
kota Seoul di Korea Selatan, negara yg sampai 1960 sama2 udiknya dgn Indonesia 
dan kini menjadi salah satu negara maju dunia  …..penduduk kota Seoul juga  
kala itu mencuci diair got kota yg kotor, berumah bedeng yg jorok berderet 
membelakangi sungai …….namun dgn kemakmuran ekonomi negeri itu …maka  
lingkungan2 yg kumuh dan sungai2 yg kotor dpt diubah menjadi lingkungan2 yg 
bersih hijau dan sungai2 yg bersih bening airnya…….. 
Semarang …demikian juga semua kota2 diseluruh dunia  ….bukanlah kota yg stagnan 
atau mandeg dan tamat perkembangan kemajuannya …..sbg kota, mereka adalah 
organisme yg terus tumbuh dan berkembang maju…… 
Pola pikir yg mengkotak2kan antara ekonomi-sosial dan—lingkungan lalu akhirnya 
berpihak kepada salah satunya atau salah duanya …….hanya cinta lingkungan dan 
masalah sosial saja, tak nau mengerti ekonomi namun memutuskan utk  membenci 
atau bersikap apriori dan tak mau membantu kpd ilmu ekonomi …..……. justru 
menunjukkan pola pikir yg monosektoralistik (atau duo) dan tidak 
multisektoralistik ……pdhal dgn perekonomian rakyat yg membaik, pajak yg masuk 
jg lbh besar,  pengangguran berkurang, kemampuan pmrth utk membangun menjadi 
lbh besar dan pmrth tentu semakin mampu membangun2 prasarana2 umum menjadi lbh 
ideal……. Bgmn saat ini negara2 sdg berkembang/ negara miskin dpt berkonsentrasi 
mengutamakan pelestarian lingkungan kalau rakyatnya masih banyak menganggur dan 
miskin?...... yg perlu dilakukan oleh para ahli lingkungan dan para ahli ilmu 
sosial justru seharusnya lbh mengenali ilmu ekonomi ..…membantu pemikiran 
dibidang ekonomi dan pd
 gilirannya semuanya dpt bersama ganti mengalihkan perhatian pd masalah sosial 
dan kemudian lingkungan ……krn pd dasarnya lingkungan yg baik pd akhirnya 
merupakan kebutuhan mutlak mereka yg makmur …....krn mana ada orang miskin yg 
beranjak menjadi kaya malah berpindah rumah tinggal ditempat 
kumuh?........salam, aby   
 

--- On Wed, 2/10/10, Sariffuddin <[email protected]> wrote:


From: Sariffuddin <[email protected]>
Subject: Bls: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City
To: [email protected]
Date: Wednesday, February 10, 2010, 5:35 PM


  




Kepada Yth. 
Bpk. Risfan Munir dan Rekan-rekan ysh.

Sangat menarik membicarakan wacana Sustainable City, bahkan banyak konsep yang 
telah ditawarkan untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut dari compact city 
hingga garden city. Tidak kalah menariknya jika kita dudukkan lagi konsep 
tersebut pada pernyataan Doxiadis (1968) yang berusaha 'membagi' kota dalam dua 
elemen besar yaitu 'content' dan 'container' atau pernyataan Prof. Eko 
Budiharjo mengenai 'city' dan 'citizen'. Prinsip sederhana yang ditawarkan 
adalah Kota bisa berkelanjutan jika ada hubungan yang harmonis antara 'content' 
dan 'container' atau 'city' dengan 'citizen-nya'. Literatur-literatur 
sustainable development banyak yang mengemukakan bahwa sustainable city dapat 
tercapai jika keseimbangan antara 'environment- social-economy' tercapai. 
Namun, dari beberapa penelitian yang pernah saya lakukan hal itu ternyata tidak 
sepenuhnya berlaku dalam lingkup masyarakat kita.

Penelitian pertama *Kualitas Hidup Masyarakat di Kota Semarang, UNDIP" 
menunjukkan bahwa orientasi kehidupan masyarakat berjenjang dari 
"EKONOMI-SOSIAL- LINGKUNGAN' , Orientasi hidup mereka lebih mengutamakan 
ekonomi terlebih dahulu, kemudian sosial dan terakhir lingkungan. Akibatnya 
perhatian masyarakat terhadap lingkungan sangat rendah. Pada kelompok 
masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi cukup baik (relatif kaya) , ternyata 
mereka memiliki perhatian terhadap lingkungan (namun setelah mereka di 
'perkaya' oleh lingkungan sekitarnya). Mereka membuat kelompok-kelompok 
masyarakat untuk mengaktifkan kembali peran masyarakat terhadap lingkungan 
seperti gotong royong, arisan bahan bangunan untuk membangun rumah, program 
taman kampung, dll yang dimotori oleh PKK. 

Menurut pandangan saya, ini menunjukkan bahwa pembangunan dalam lingkup 
'content' akan cukup efektif untuk mewujudkan Sustainable City. Content yang 
saya maksud dikhususkan untuk manusia, atau human development. Ide sederhana 
ini sebenarnya terinspirasi oleh bukunya Dr.-ing. Jo Santoso (Menyiasati Kota 
Tanpa Warga) yang menggarisbawahi pentingnya pembangunan manusia dalam lingkup 
pembangunan. 

Mengingat selama ini, lingkup pembangunan di Indonesia atau mungkin bahkan 
sebagian besar dunia lebih berkonsentrasi pada lingkup 'container' semata yaitu 
wadah berupa pembangunan jalan, kawasan-kawasan budidaya, dll namun lingkup 
'human' sering ditinggalkan. Jika ini dibiarkan maka ketakutan Graham dalam 
bukunya Splintering Urbanism kemungkinan besar akan terjadi yaitu terjadinya 
polarisasi ruang atau fragmentasi ruang kota. Ketakutan saya pribadi jika aspek 
kemanusiaan menjadi 'anak tiri' pembangunan maka yang akan terjadi adalah 
'fenomena generasi gelembung sabun' (Soemardjan, 1984), yaitu semain besar 
gelembung sabun maka akan terlihat semakin indah dan mewah namun rawan pecah. 
Kondisi ini terjadi saat pekerjaan masyarakat tertransformasi dari sektor vital 
ke non vital atau bahkan sama sekali tidak vital, yaitu dari petani pemilik dan 
penggarap pertanian menjadi seorang buruh pabrik yang keberlanjutannya 
dipengaruhi oleh mekanisme pasar. 

Salam
Sariffuddin Abdullah


Referensi:


Budihadjo, Eko.  1998. Sejumlah Masalah Pemukiman Kota. Bandung: Alumni.
Budiharjo, Eko. 2003. Kota dan Lingkungan Pendekatan Baru Masyarakat Berwawasan 
Ekologi. Jakarta: LP3ES.
Budiharjo, Eko., & Sudanti. 1993. Kota Berwawasan Lingkungan. Bandung: Alumni.
Doxiadis, C. A. 1968. Ekistics, the Science of Human Settlements. Science , 
393-404
Graham, Stephen and Marvin, Simon. 2001. Splintering Urbanism: Networked 
Infrastructure, Technological Mobilities, and the Urban Condition. London: 
Routledge.
Soemardjan, Hindro T.  1984. ”Pengembangan Ruang dan Papan Dalam Rangka 
Peningkatan Ketahanan Nasional”. In Boedihardjo (ed). Sejumlah Masalah 
Permukiman Kota. Bandung: Alumni, pp. 125-133

Santoso, J. 2006. [Menyiasati] Kota Tanpa Warga. Jakarta: KPG dan Centropolis.
Sariffuddin. 2006. Quality of Life and The Perception of Community in Semarang 
(Case Study: Settlement Area in Genuk, Semarang). 2nd International Conference 
on Environment and Urban Management (Science, Nature and Justice) (p. 32). 
Semarang: Soegijapranata Catholic University.




Dari: Risfan Munir <risf...@yahoo. com>
Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
Cc: perkot...@yahoogrou ps.com
Terkirim: Kam, 11 Februari, 2010 07:19:17
Judul: RE: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City

  

Sdr Irendra dan Rekans ysh,

Masih terkait cerita upaya Anda, tampaknya dalam wacana Sustainable City ini 
muncul bebera buzz words seperti smart-city, compact-city, green-city.

Sebagaimana kisah Anda, keberlanjutan kota tentu mencakup atau bergantung pada 
keberlanjutan secara ekonomi, ekologi dan sosial.

Smart-city dikaitkan dengan keunggulan atau kemandirian ekonominya, selain 
teknologinya (ada cybercity?). Juga dalam pengelolaan waste, agar tidak ekspor 
sampah, air kotor ke tempat lain.

Compact-city, mengacu pada kekompakan, pengaturan agar bisa mengurangi 
kebutuhan transportasi. Tidak lapar lahan. Pada aspek sosial juga bisa 
diartikan sebagai cohesiveness, kuatnya social capital, kerukunan warga.
Green-city, barangkali ini sudah banyak dibahas.

Pendekatannya seperti biasa tiga jalur. Jalur pemerintah dengan turbinwas nya. 
Jalur swasta dengan mengundang atau mengendalikan pembangunan yang mereka 
lakukan, mempromosikan sustainable city itu.
Jalur ketiga, yang Anda sudah mulai, dan yang saya ceritakan kemarin. mudah2an 
memancing tulisan dan ide lain.

Salam,
Risfan Munir








From: Irendra Radjawali <ra...@hotmail. com>
Sent: Tuesday, February 09, 2010 4:11 PM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: RE: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City

  



Pak Risfan yang baik,


kami di Makassar mencoba melihat "keberlanjutan" ini dari sisi lingkungan, 
ekonomi, dan sosial-budaya.
dengan segala keterbatasan kami, kami mencoba membongkarnya dari sudut pandang 
"energi". Akhirnya,
kami mencoba melakukan kegiatan-kegiatan sederhana (juga membuka "ruang-ruang 
politik kota agar warga
bisa mengemukakan pendapat dan juga mendapatkan informasi) seperti memisahkan 
sampah basah dan kering,
kemudian teman-teman muda di Unhas mencoba mengganti beberapa ojek dengan 
"fuel-cell", kemudian kampanye
juga mengurangi penggunaan kertas (paling tidak kalau mencetak, bolak balik), 
dan kami juga mencoba membuka
jaringan pada pengambil keputusan. 


Salam hormat dan jabat erat,
Radja

"Hasta La Victoria Siempre"





To: refere...@yahoogrou ps.com
From: risf...@yahoo. com
Date: Mon, 8 Feb 2010 15:56:23 -0800
Subject: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City

  


Rekans ysh,

Di radio mobil saya dengar kampanye Walikota Bekasi soal penghijauan, penanaman 
pohon demi anak cucu, dikaitkan dengan pemanasan bumi yang sudah terjadi. Bulan 
lalu RW saya juga sudah beliau kunjungi.
DKI dalam penyusunan RTRW nya juga jelas mengaku soal neraca hijaunya deficit.

Tema2 sustainable city sudah menjadi tema tiap new town yang dipasarkan.

Adakah langkah2 sederhana yang bisa mulai dilaksanakan?

Salam,
Risfan Munir






Chat online and in real-time with friends and family! Windows Live Messenger



Berselancar lebih cepat. 
Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman 
favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis) 







      

Kirim email ke