Pak Risman yth .. Seingat saya, IAP sudah punya kode etik perencana Indonesia, dan jika tak salah ingat juga menempatkan 'hubungan planner/anggota IAP dengan masyarakat' dgn cukup baik (saat itu, 10 th yl) .. Dengan demikian sdh mengikat planner yg mendapat sertifikasi dari IAP/LPJK yg konon jadi syarat (!?) utk tenaga ahli yg bekerja utk penyusunan rencana tata ruang ...
Apakah kode etik sudah cukup .. atau sdh efektif mengatur tata-gaul planner dengan masyarakat ? Saya pikir relevan juga dikaji di forum referensi yang terhormat ini ... Saya pernah mendengar juga keluhan dari user/pemda, masih ada pekerjaan penyusunan RTR di daerah yg terbengkalai (tdk tuntas) karena TA/planner tidak bertgjawab ... Meski usut punya usut ya (oknum) pemda jg kelewatan, pekerjaan yg harus digarap 6-7 TA (dibiarkan, mungkin dgn saling pengertian) digarap oleh 3 TA saja .. Terima kasih. Salam. IBNU TAUFAN, PNPM Mandiri Perkotaan Jakarta Selatan, Indonesia from blackberry®indosat -----Original Message----- From: R Maris <[email protected]> Date: Wed, 17 Feb 2010 10:47:08 To: <[email protected]> Subject: [referensi] Fwd: [dtktd] PP Penyelenggaraan Penataan Ruang Begin forwarded message: > From: R Maris <[email protected]> > Date: February 17, 2010 10:44:09 AM GMT+07:00 > To: [email protected] > Subject: Re: [dtktd] PP Penyelenggaraan Penataan Ruang > > Yth Pak Mod, Pak Dadang, teman-teman, > > Pak Dadang dan gerombolan, proficiat ..... mohon dapat di file di sini atau > di web penataan ruang?; Pak Mod dapatkah diangkat diskusi menjadi landasan > praxis sebenarnya tata-gaul para planner dan masyarakat umum? > > Wassalam, > Risman Maris > > > On Feb 17, 2010, at 7:16 AM, Dadang Rukmana wrote: > >> Telah ditetapkan PP No. 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan >> Ruang. Tks >> >> KDT >> >> >

