Pak Aunur dan rekans ysh,
 
Ya mudah-mudahan tidak eksesif. Memang salah satu metode yang efektif "belajar 
dari rekan sendiri", Karena betul-betul dari sisi mereka. Ini bisa jadi 
kombinasi.
 
Pusat bisa buat Panduan,, konsultan bantu menjadi fasilitator, sesekali atau 
untuk praktik "daerah yang berhasil menerapkan" bisa jadi model. Tapi dari 
daerah model ini yang punya kualifikasi bisa mentransfer kan juga tidak banyak, 
beberapa orang yang di daerahnya juga mentrain teman-temannya, dinas lain, 
desa-desa. Adalah kualifikasi fasilitator/mitra lokal seperti itu.
 
Tapi banyak Panduan yang tidak dari Pusat lho, ada dari daerah tertentu, yang 
justru diangkat menjadi nasional. Seperti OSS sendiri sebelum jadi Permendagri 
kan beberapa daerah sudah menerapkan, difasilitasi beberapa konsultan. Oleh 
karena itu banyak seminar di Pusat yang justru menampilkan "orang daerah" 
sebagai pembicara.
 
Dengan otonomi 500an kabupaten/kota maka tak ada panduan nasional yang "fit for 
all". Karena itu "good practice" dari beberapa kabupaten/kota penting perannya. 
Karena good-practice sudah memuat kiat-kiat mereka menyiasati keterbatasan, 
memahami apa yang boleh/tidak, komunikasi dengan legislatif, dengan masyarakat. 
Seperti OSS misalnya, apa konsekuensinya terhadap "pendapatan" pegawai 
misalnya, kompensasi yang terkait dengan kinerja (bukan sekedar uang rapat), 
dst.
 
Betul "best/good practice" itu titik beratnya harus pada "practice" nya, bukan 
Figure orang nya. Tapi memang tak bisa dilepaskan, Kepemimpinan itu faktor yang 
besar di studi manajemen public ataupun private. Seperti yang disampaikan Prof 
Tommy Firman pada Plano-50 yl, faktor "enterpreneurship" Kepala Daerah akan 
menentukan 'nasib' regional development di era desentralisasi ini.
 
Salam,
Risfan Munir
 
 
 
 


--- On Thu, 2/18/10, Aunur rofiq <[email protected]> wrote:


From: Aunur rofiq <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Sragen ..contoh sukses ( ada yg bisa konfirm ? )
To: [email protected]
Date: Thursday, February 18, 2010, 1:43 AM


  






Pak risfan dan teman-teman ysh.
memang kita tidak perlu membicarakan definisi PAD, saya juga belum pernah ke 
Sragen (tahunya cuma lewat, kalau mudik lebaran..... .yang selalu dihadang oleh 
traffic light yang jumlahnya mencapai 11 buah). Tapi yang pernah saya temui 
adalah PNS kabupaten Sragen sedang berada di KTI layaknya konsultan dan 
fasilitator, sedang melatih PNS dari kabupaten di KTI yang ingin mengembangkan 
e-gov seperti di Sragen. Saya waktu itu becanda ke mereka.... kalau begitu 
caranya bisa mati dong konsultan swasta....terus yang ngurusin kantor di Sragen 
siapa? mereka bilang...kan sudah e-gov!!!!.
 Salam
Aunur Rofiq






From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
To: refere...@yahoogrou ps.com
Sent: Wed, February 17, 2010 4:51:41 PM
Subject: Re: [referensi] Sragen ..contoh sukses ( ada yg bisa konfirm ? )

  






Eh, kok jadi diskusi definisi PAD. 
 
Seperti pada email asli yang di forward Pak Aunur, dan setahu saya kelebihan 
Pak Untung ada pada Inovasi yang banyak dilakukan, yang menyangkut mendorong 
berkembangnya Ekonomi Lokal, antara lain dengan memberi kemudahan investasi, 
pemasaran produk daerah, dan sebagai prasyaratnya "reformasi birokrasi" a.l. 
dengan menerapkan OSS (one stop service) sejak awal pemerintahannya, insentif 
bagi pegawai Pemda (karena OSS memangkas pungli), aplikasi teknologi informasi 
termasuk network antar kepala desa.
 
Mungkin key success factors beliau a.l. pada "keberanian dan keterbukaan" dalam 
berinovasi, baik untuk memberi kemudahan investasi (dari luar atau lokal), 
pemasaran produk daerah, dan "reformasi birokrasi". Sebetulnya yang perlu 
digali lebih jauh adalah kiat-kitanya dalam "meyakinkan dan memimpin aparat 
Pemda" yang kita tahu dimana-mana sama. 
 
Kalau ditanya (Pak Aunur) untuk konfirmasi, saya tidak tahu detail dan 
banyaknya fitur kembangannya, yang jelas beliau sepertinya "salesmanship" nya 
juga tinggi (sebagaimana juga Fadel Muhammad). Saya pernah ketemu terkait 
program LED, sehingga yang saya tahu terutama aplikasi OSS dan pengembangan & 
pemasaran klaster batik. Keprihatinan beliau, banyak pembatik di Sragen, ada 
batik khas Sragen, tapi merk Sragen tak dikenal karena via pedagang/merk Solo., 
maka beliau menfasilitasi pemasaran langsung a.l. ke Tanah Abang, selain buka 
'pasar' batik di Sragen.
 
Sekali lagi, sebaiknya dalam menemukan best-practice memang mesti spesifik, 
"apanya yang the best/good" supaya tidak lari ke terlalu luas menyanjung. 
 
Salam,
Risfan Munir
 
 
 
 


--- On Wed, 2/17/10, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> wrote:


From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Fw: [fatemetagroup] Sragen ..comtoh sukses ( ada yg 
bisa konfirm ? )
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, February 17, 2010, 2:24 AM


  






Betul Pak Atok, makanya saya bilang bahwa ijin investasi tak ada hubungan 
langsung dengan PAD. Nanti kalau benar-benar sudah investasi, maka ada 
peningkatanb ekonomi daerah. Nah dari  sini akan muncul kegiatan-kegiatan 
ikutan yang akhirnya dapat dipungut pajak daerah yang akhirnya akan menambah 
PAD. Jadi investasi akan meningkatkan PAD dalam jangka panjang, tidak serta 
merta.
 
Thanks. CU. BTS.

--- Pada Rab, 17/2/10, Achadiat Dritasto <atoks...@gmail. com> menulis:


Dari: Achadiat Dritasto <atoks...@gmail. com>
Judul: Re: [referensi] Fw: [fatemetagroup] Sragen ..comtoh sukses ( ada yg bisa 
konfirm ? )
Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
Tanggal: Rabu, 17 Februari, 2010, 8:16 AM


  

Pak BTS ysc.
Kayaknya yang dimaksud oleh pak Eben, kenaikan PAD itu tidak dari
biaya perijinan, tetapi lebih karen semakin banyaknya pengusaha yang
mintak ijin berusaha di Sragen (karena ijinnya tak dipungut biaya
alias gratis) meningkatkan kegiatan ekonomi dan selanjutnya
meningkatkan pajak. .. nah baru meningkatkan PAD.
Salam
Atoksaja

On 2/17/10, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> wrote:
> Bung Eben dan referensier.
>
> Banyaknya ijin investasi tidak ada hubungan langsung dengan PAD. PAD terdiri
> atas pajak daerah, retribusi, dan pendapatan asli lainnya (bunga giro,
> dividen, denda,..). Umumnya PAD untuk daerah-daerah sedang, sebagian berasal
> dari retribusi rumah sakit dan puskesmas. Sedikit sekali retribusi yang
> berasal dari perijinan. Tapi seandainya benar bahwa PAD Sragen naik
> gara-gara banyaknya perijinan investasi, wah itu malah nggak bener... itu
> artinya high cost economy.
>
> Thanks. CU. BTS.
>
> --- Pada Rab, 17/2/10, Ibnu Taufan <itau...@gmail. com> menulis:
>
>
> Dari: Ibnu Taufan <itau...@gmail. com>
> Judul: Re: [referensi] Fw: [fatemetagroup] Sragen ..comtoh sukses ( ada yg
> bisa konfirm ? )
> Kepada: "Milis Referensi" <refere...@yahoogrou ps.com>
> Tanggal: Rabu, 17 Februari, 2010, 1:45 AM
>
>
>
>
>
>
> Pak Rofiq referenciers,
> Saya pernah manggung bersama pak Untung Wiyono utk fasilitator se Jateng
> tentang KKMB (konsultan keuangan mitra bank) .. Pd kesempatan tsb pak UW
> menjelaskan visi dan upayanya merubah paradigma aparat Pemkab Sragen, juga
> masyarakat dan terutama pemudanya ..
>
> Saya terkesan dengan visi dan misi fokus pd pembangunan perdesaan dan
> mengatasi pengangguran kaum muda. Salah satu upayanya membeli
> mesin/peralatan utk membuat 'mont blanc'( yg sering dijajakan di bandara SH,
> dan seminar2 lokal).. Ini kegiatan yg dihibahkan kepada pemuda (lewat karang
> taruna) .. Kemudian yg cukup mengesankan soal 'pelayanan perijinan satu
> atap' (juga KTP?) ..awalnya kalangan birokrasi enggan melaksanakan, menilai
> akan menurunkan PAD.
>
> Saya penasaran dan menguji kebenaran dgn kunjungan ke kab Sragen, dan (bbrp
> waktu kemudian) melalui jejaring fasilitator di Sragen dan kab sekitar
> ..ternyata luar biasa ! Banyak pengusaha sekitar kab sragen, malah ajukan
> perjinan usaha (investasi) di Kab Sragen ..dan konon PAD malah naik !
>
> Mas BTS mungkin punya pengamatan lebih tajam, barangkali juga ada data yg
> lebih sahih ..
>
> Kesimpulan saya memang perlu juga melengkapi perilaku pejabat di barisan
> paling depan tidak cuma 'public servant/services' , tetapi juga
> 'entrepreneurship' ..
>
> Tabea,
>
> IBNU TAUFAN,
> PNPM Mandiri Perkotaan
> Jakarta Selatan, Indonesia
> from blackberry®indosat
>
>
> From: Aunur rofiq <aunurrofiqhadi@ yahoo.com>
> Date: Tue, 16 Feb 2010 13:50:39 -0800 (PST)
> To: <refere...@yahoogro u ps.com>
> Subject: [referensi] Fw: [fatemetagroup] Sragen ..comtoh sukses ( ada yg
> bisa konfirm ? )
>
>
>
>
>
>
> Dari milis tetangga
>  Salam
> Aunur Rofiq
>
>
>
>
> ----- Forwarded Message ----
> From: Haniwar Syarif <haniwarsyarif@ yahoo.co. id>
> To: fatemetagroup <fatemetagroup@ yahoogroups. com>
> Sent: Tue, February 16, 2010 6:15:07 AM
> Subject: [fatemetagroup] Sragen ..comtoh sukses ( ada yg bisa konfirm ? )
>
>
>
> Assalamu'alaikum wr. wb.
>
> Kemarin saya sempat di undang oleh KBRI Abu Dhabi untuk bersilaturahmi
> dengan rombongan dari Pemda Sragen yg dipimpin oleh pak Bupatinya. Saking
> menariknya acara ini sehingga tidak terasa baru selesai sekitar pukul 23:00
> malam. Biasanya acara di KBRI paling telat selesai jam 22:00.
>
> Saya rasa ada beberapa hal yg ingin saya bagi dengan forum ini untuk
> menambah wawasan kita, terutama bagi kita yg tidak pernah mengenal daerah
> Sragen dan agak pesimis dgn arah pembangunan negeri tercinta ini.
>
> Pak Bupati Sragen, Untung Wiyono, mulai memimpin daerah nya dari thn 2001
> setelah diminta oleh DPRD kab. Sragen. Beliau sebelumnya adalah pengusaha
> dibidang oil & gas. Hal pertama yg beliau lakukan saat mulai menjabat bupati
> ialah, memprioritaskan pembangunan di pedesaan. Antara lain dengan membangun
> jalan-jalan dan jembatan yg menghubungkan desa-desa dengan perkotaan. Karena
> kabupaten Sragen dibelah oleh beberapa aliran sungai Bengawan Solo,
> sebelumnya waktu tempuh desa-desa ke kota bisa mencapai dua jam karena
> jalannya yg melingkar-lingkar. Dengan dibangunnya banyak jembatan maka waktu
> tempuh hanya tinggal dalam hitungan menit.
>
> Jadi menurut beliau, sebenarnya dana dari pemerintah ada. Yang perlu
> dilakukan oleh setiap kepala daerah adalah meletakan prioritas yg tepat.
> Selain itu kepala daerah juga dituntut mempunyai visi dan berani mengambil
> keputusan.
>
> Ketika beliau memulai karyanya di Sragen thn 2001, kabupaten ini termasuk
> daerah terbelakang di Propinsinya. Ada sekitar 13,000 hektar lahan yg tidak
> produktif. Dalam tempo singkat beliau berhasil memanfaatkan seluruh lahan yg
> ada di daerahnya. Saat ini seorang petani bisa mendapatkan penghasilan
> bersih sekitar Rp. 25 juta per hektar per panen dari lahannya.
>
> Hal lain yang juga beliau lakukan adalah memberikan pelatihan bagi
> mereka-mereka yg menganggur seperti anak jalanan, pengamen, pengemis dll.
> Pendekatannya ialah dgn menanyakan minat mereka, dan lalu diberikan
> pelatihan. Ada program yg namanya 3 in 1 (kalau tidak salah), artinya orang
> diberi pelatihan kerja, kemudian diberikan sertifikasi, dan disalurkan ke
> lapangan pekerjaan. Bagi mereka yg pingin membangun usahanya sendiri, maka
> diberikan pinjaman sampai dengan Rp. 500 juta tanpa agunan melalui bank.
>
> Karena di pedesaan sering anak putus sekolah karena harus membantu orang
> tuannya di sawah, maka digalakan program Homeschooling. Jadi si anak tidak
> harus datang ke sekolah, tapi cukup membaca modul yg bisa di download ke
> Cellphone ataupun lewat komputer di kantor kelurahan. Setiap satu bulan
> sekali akan ada guru yg bertemu dengan si anak.
>
>
> Beliau juga menggalakan para Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungannya
> untuk berwira usaha setelah jam kerja. Ini untuk meningkatkan penghasilan
> para PNS tsb. Selain itu para PNS tersebut terlibat dalam jasa konsultasi
> untuk kabupaten-kabuten lainnya di Indonesia (yg tentunya mendapat konsultan
> fee tambahan), karena Sragen telah menjadi model sebagai kabupaten yg paling
> berhasil di Indonesia dan sering dikunjungi tamu dari kabupaten lain di
> seluruh Indonesia.
>
> Seluruh kabupaten juga telah terpasang CCTV untuk memonitor lalu lintas dan
> keadaan lingkungan. CCTV tsb tersambung ke sebuah operation center yg bisa
> memonitor pelanggaran lalu lintas dll. Juga ada hukuman bagi mereka yg
> merusak lingkungan seperti menembak burung, menyetrum ikan dll. Jadi
> lingkungan hidup sangat diperhatikan sekali.
>
> Untuk hal-hal yg bermanfaat, beliau tidak segan-segan membayar tinggi jasa
> konsultasi. Jadi kalau ada diantara kita yg punya ide dan bisa menjadi
> konsultan untuk kabupaten ini silahkan hubungi beliau dgn ide-ide kita.
> Kunjungan beliau ke UAE adalah untuk mencari peluang pasar untuk menyalurkan
> produk dan juga tenaga trampil dari kabupaten Sragen.
>
> Salah satu keberhasilan lainnya adalah, dengan banyaknya siswa dari
> kabupaten Sragen yg terpilih mewakili Indonesia di forum-forum Olimpiade
> matematika dan semacamnya. Hal-hal lain yg patut dicatat sebagai sesuatu yg
> exceptional untuk ukuran daerah di Indonesia yg telah dicapai oleh kabupaten
> Sragen adalah:
>
> - Telah memenangi segala macam penghargaan yg diberikan oleh pemerintah
> pusat atas keberhasilannya.
> - Tidak ada pengemis/pengamen/ anak jalanan
> - Pusat pertanian makanan organik, motonya kabupaten organik. Mereka hanya
> menggunakan pupuk organik.
> - Jaringan IT sampai tingkat kelurahan. Untuk pemerintah daerah mereka sudah
> memakai Voice over IP sehingga menghemat pengluaran pemda sekitar 2 milyar
> rupiah lebih pertahunnya.
> - pengurusah surat-surat dan perijinan dalam satu atap. Jika persyaratan
> sudah lengkap, pengurusan KTP kurang dari 5 menit dengan biaya resmi Rp.
> 3000. Untuk urusan perijinan perusahaan (kecuali dalam bidang tertentu)
> tidak dipungut biaya.
> - Petani panen padi 3 x setahun bahkan bisa 4x setahun
> - Kabupaten ini melarang pengiriman TKW (non skilled) ke Luar Negeri. Hanya
> skilled labour yg boleh dikirim.
> - Ada sekolah boarding school bertaraf international, Diklat Migas, beberapa
> balai latihan kerja.
>
>
> Dalam pemilihan bupati yg kedua kalinya, beliau memperoleh lebih dari 87%
> suara. Artinya masyarakat di sana sangat mengapresiasi kerja beliau.
> Sayangnya masa jabatan beliau tinggal 1,5 tahun lagi. Semoga saja pengganti
> beliau bisa meneruskan dan bahkan meningkatkan keberhasilan yg telah
> dicapai.
>
> Kalau ada yg berminat menghubungi beliau untuk berbagi ide atau
> mendiskusikan peluang yg ada silahkan hubungi beliau di:
>
> bup...@sragen. go.id  atau untung.sarono@ gmail.com
>
> bisa juga dilihat website daerah ini di www.sragenkab. go.id
>
> Selain itu daerah ini juga menawarkan diri sebagai konsultan bagi mereka yg
> berminat berinvestasi di seluruh Indonesia (tidak hanya di Sragen).
>
> Jadi kesimpulannya, orang Indonesia bisa membangun negerinya dan bisa
> berhasil jika ada kemauan, visi dan kemampuan. Yg perlu dihasilkan adalah
> pimpinan yg punya visi dan kemampuan macam pak Bupati Sragen ini.
>
> Terima kasih.
>
> Wassalam,
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! Membuat
> tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah.
> http://id.messenger .yahoo.com/ pingbox/



Apakah demonstrasi turun ke jalan itu hal yang wajar? 
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! 











      

Kirim email ke