Pak Djarot, Iya pak. Di skala kecil, memang sdh byk yang coba utk kembangkan sistem informasi terpadu di RS. Tp ya itu, kuncinya di leadership kyknya. Di RS Zainal Abidin di Aceh juga mencoba yang sama. Tp masih terseok-seok sepertinya, ketika ganti kepemimpinan dan manajemen, tiba2 agak macet.
Kalau di ngawi kalau ndak salah, sistem informasinya sudah sedikit menyangkut informasi sosial terkait kesehatan. Beberapa indikator status keshatan masyarakat jg terpantau oleh kantor kepala dinas. Jd memudahkan kepala dinasnya utk segera bertindak, kalau ada kasus2 tertentu. Akan lbh bagus lagi kalau sudah integrasi dengan sistem early warning . Bisa saja nanti dikembangkan jadi sistem informasi sosial-ekonomi daerah. Dengan sistem early warningnya. Misal kalau tiba2 ada desa yg tiba2 menurun produksi pertaniannya, langsung ada lampu merah kelap-kelip.Keren juga kayaknya. Bisa jadi rumit, tapi tidak mustahil, apalagi kalau Putri Solo yg mengerjakannya. Hehehehhehee Salam, dwiagus »»» digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~ Genjot Teruuusss...!!! -----Original Message----- From: Djarot Purbadi <[email protected]> Date: Mon, 22 Feb 2010 17:39:56 To: <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: dr Pak JokoWi (Walkot Solo) FW: [se-urdv-id] QUERY: Collecting and Interpreting Local Socio-Economic Data - Advice; Experiences./Pertanyaan: Mengumpulkan dan Mengintegrasikan data sosial-ekonomi. Reply by 4 March 2010. [SEC=PERSONAL] Pak Dwi Agus, nimbrung nih ya, tetapi pada skala yang sangat kecil. Di RSUD Panembahan Senopati, Bantul, manejemen pelayanan dikelola dengan TI dan kayaknya sangat menarik. Setiap transaksi yang masuk dapat dipantau dengan seksama, sampai setiap karyawan bisa melihat "jasa medis" yang akan mereka terima setiap harinya (dengan password). Dari yang saya dengar, sistem pemantauan "realtime" ini telah menjadi bagian dari budaya kerja para karyawan, sehingga mereka bisa dengan mudah merencanakan pola keuangan mereka. Saya dengan juga sistem pengelolaan layanan dengan TI ini, yang transparan semacam itu tadi, baru ada di Bantul. Sekarang RSUD Bantul semakin maju karena telah ada di hati setiap warga Bantul, masyarakat puas dengan layanan dan karyawan puas dengan penggajian yang transparan. Jika sistem semacam ini bisa dikembangkan di setiap layanan publik, alangkah bagusnya ya....meskipun proses untuk mencapai kondisi semacam itu tidak gampang... pada titik "pembagian rejeki" tentu selalu ada dialog - tarik-ulur berbagai kepentingan, yang hendaknya dilandasi prinsip keadilan substansial. Dalam kondisi semacam itu, manusia memang dikendalikan sistem dan angka-angka, tetapi jika itu semua merupakan bagian dari proses memperjuangkan keadilan dan hormat pada profesi serta menjunjung tinggi etika, rasanya ekselen juga !!! Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Tue, 2/23/10, Benedictus Dwiagus Stepantoro <[email protected]> wrote: From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <[email protected]> Subject: [referensi] Re: dr Pak JokoWi (Walkot Solo) FW: [se-urdv-id] QUERY: Collecting and Interpreting Local Socio-Economic Data - Advice; Experiences./Pertanyaan: Mengumpulkan dan Mengintegrasikan data sosial-ekonomi. Reply by 4 March 2010. [SEC=PERSONAL] To: [email protected] Date: Tuesday, February 23, 2010, 8:27 AM Pak Aby yang baik,... saya ingin mbantu pak jokowi pak,... kirain pak Aby menyarankan saya untuk mengawini putri solo,.... wah, kalau ini saya nunggu ketok palu RUU Perkawinan dulu pak ,.. huehehehehee Yang saya tau itu di sektor kesehatan, pemanfaatan sistem informasi untuk koordinasi, sampai policy making itu, adalah sangat memungkinkan, ... contoh yang saya tau Kab.Ngawi. Di mana ada sistem informasi kesehatan yang linked (secara online kalau gak salah) dari tingkat fasilitas sampai ke Dinas Kesehatannya, .. jadi kepala dinasnya bisa memonitoring perkembangan pelayanan puskesmas dan pelayanan kesehatan lainnya di tingkat kecamatan,.. ... dan bisa mengkoordinasinya pula secara online,.... salam, dwiagus --- In refere...@yahoogrou ps.com, hengky abiyoso <watashiaby@ ...> wrote: > > Halo mas Dwi yg baik, > Walau pertanyaan pak Jokowi itu sebenarnya lbh mengharapkan jawaban dari > Solution Exchange-UN ....namun pandangan berikut ini justru berasal dari > mitos yg banyak dipercaya kebenarannya baik oleh  orang solo sendiri maupun >   oleh orang bukan asli Solo  lho......... > Denger2 sih ada mitos .. kalau mau berkarier sukses ....katanya sih syaratnya > KAWINI-lah dulu putri Solo.......Kalo gak percaya silahken nanya sendiri kpd > yg udh pada  mempraktekken. ....Soeharto misalnya .. semenjak mengawini ibu > Tien (puti Solo keturunan Mangkunegaran) kariernya lalu melesat dan bahkan > sempat jadi presiden sampai 32 tahun dan itupun ada yang bilang ..gara2 > ditinggal Ibu Tien maka semenjak itu bintangnya redup dan lengser..... . lalu > Akbar Tanjungpun ikut2an cari putri Solo dan hasilnya?... . ia menjadi > menteri termuda (usia 36 tahun) bahkan kemudian menjadi ketua DPR dan malah > skrg meraih gelar doktor dari UGM....... Amien Rais, Jendral Djoko Santoso > dan pak Djoko Kirmanto (Menteri PU) apalagi ........selain pada mengawini > putri Solo mereka sendirioun konon juga asli Solo ......jadi maka gak usah > ditanya lagilah bgmn hasil kariernya... .... > Jadi kalau mas Dwi bener mau nolongin pak walikota Solo itu ......silahken > anda nanya .....pak Djokowi itu sudah mengawini putri Solo ato belum....... > kalau belum ya  kalo memang bener ingin sukses ya gimanalah gitu caranya > ......biar kariernya sbg walikota bisa sukses besar gitu lho ......salam, > aby > >  >

