Pak Risfan, tampaknya situasinya memang sudah berubah, bukan sekedar strategic 
planning melainkan menuju ke arah scenario planning. Saya pernah mendengar 
istilah itu dari teman saya ekonomi, mantan rektor atma jaya yogya, tetapi 
penjelasannya kurang mantap atau detil. Apakah bisa bapak cerita scenario 
planning hebatnya dimana dan dalam situasi bagaimana efektif digunakan ? Mohon 
pencerahan.

Hal ini saya analogikan dengan paradigma desain yang berubah di arsitektur. 
Sampai tahun 1980-an rencangan arsitektur selalu menggunakan cara berpikir 
cartesian, yang bertumpu pada salib-sumbu. Nah sejak bukunya Charles Jencks 
yang bercerita tentang "jumping universe" tampak dengan jelas, bahwa era 
digital telah mengubah paradigma desain ke arah estetika non-cartesian. Arsitek 
asyik bermain-main dengan bentuk untuk menemukan estetika yang belum pernah 
terbayangkan, estetika liar yang paradigmanya adalah continuity and diversity. 
Estetika yang berbasis garis lengkung-lengkung non cartesian atau fraktal dan 
sebagainya menjadi realitas baru yang mengagetkan !!!

Apakah perubahan planning juga terjadi, dari strategic planning ke planning 
yang lain ? Mohon pencerahan.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Fri, 2/26/10, risfano <[email protected]> wrote:

From: risfano <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: dr Pak JokoWi (Walkot Solo) FW: [se-urdv-id] QUERY: 
Collecting and Interpreting Local Socio-Economic Data - Advice; 
Experiences./Pertanyaan: Mengumpulkan dan Mengintegrasikan data sosial-ekonomi. 
Reply by 4 March 2010. [SEC=PERSON
To: [email protected]
Date: Friday, February 26, 2010, 2:24 AM







 



  


    
      
      
      Rekans ysh,



Begitulah realita medan kerja perencanaan saat ini. Bukan hal baru, tapi di era 
"dana melimpah, belum desentralisasi, situasi "governance" daerah kurang 
dibahas, karena dengan glontoran proyek nasional maka pembangunan kota/daerah 
tampak oke-oke saja.

Tapi setelah otonomi daerah, dan loan tidak leluasa (beban cicilan utang 
mencekik) maka suasana berubah. Dan, situasi "governance" daerah jadi perhatian.



Soal peran enterpreneurship daerah saya kira presentasi Prof Tommy Firman cukup 
jelas. Bahwa nasib regional development era otonomi daerah sangat ditentukan 
kualitas leadership KDH.

Soal nasib organisasi sangat ditentukan siapa pimpinannya, saya kira di hampir 
semua organisasi, kecuali mungkin militer. Kenapa Lee Iacoca, Jack Welch, 
Cacuk, Fadel, Michael Ruslim etc terkenal karena kualitas leader memang sangat 
menentukan policy, gaya dan pasang/surut organisasi. Bayangkan kalau Cacuk 
(alm), Fadel cuma harus mengikuti pemimpin sebelumnya saja. Sehingga itu 
menjadi realita yang perlu diperhitungkan juga dalam advokasi rencana.



Seperti judul bukunya Mintzberg, "Rise & Fall of Strategic Planning", 
barangkali memang ada pasang surut antara berfikir skala luas (PJP, PJM) dan 
skala implementasi praktis (service management). Untuk Service delivery 
management banyak good-practice seperti layanan OSS (misal Solo), RSUD (Jogja), 
SIMPUS (Ngawi) yang disebut sebelumnya. Itu sudah mulai banyak direplikasi. 
Mungkin ada juga layanan cepat n tepat dalam pelayanan (advis) tata ruang yang 
layak diangkat dan direplikasi. 



Sudah waktunya juga bagi dunia tata ruang banyak membahas aspek "pemanfaatan & 
pengendalian" . Setelah 45 tahun berfokus pada aspek "merencana" mungkin 
waktunya peduli aspek pemanfaatan & pengendalian, yang tentunya mencakup 
manajemen pelayanan, operasional, capacity building aparat dst. 



Salam,

Risfan Munir



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Achadiat Dritasto <atoks...@.. .> wrote:

>

> Dear All,

> Kenapa ya, dalam sistem 'governace' kita selalu atau sering atau

> sebagian besar "sangat" tergantung pada pimpinan/kepemimpin an. Klo

> ganti kepemimpinan ganati pimpinan sistem bisa berubah sangat radikal.

> Bahkan terkadang "sangat" merubah suatu peraturan. Dan peraturan itu

> terkadang (klo ga sering) mengikat dan atau berdapak pada masyarakat.

> Seperti perijinan 1 pintu (bukan satu atap) atau e-government atau

> peraturan cara berpakaian atau larangan merokok, begitu ganti kepala

> daerah, trus berubah klo atau tidak menjadi perhatian dari kepala

> daerah berikutnya, sehingga aturan itu sering di langgar, bahkan oleh

> aparat pemdanya. Padahal disitu dah ada DPR/D sebagai alat kontrol

> pelaksanaan sistem. Jadi sistem itu tidak baku sesuai peraturan dan

> perundangan. Oh ya ... DPR/D nya juga ganti ya, dan DPR/D ini juga

> berhak menggagas peraturan.

> Klo kebijakan pembangunan itu bisa berbeda, sangat tergantung pada

> visi/misi pimpinan, pembangunan apa yang diprioritaskan, bukan merubah

> atau menghilangkan peraturan yang sudah baik.

> Rupanya masyarakat kita itu (mungkin) masih sangat takut sama pimpinan

> bukan sama peraturan yang sudah disepakati sebelumnya. .. Bagaimana

> ini bisa berubah ya ?

> 

> Salam

> Atoksaja

> 

> 

> 

> On 2/23/10, Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote:

> > Pak Dwiagus, tampaknya best practices sudah ada dan mudah ditemukan, tinggal

> > bagaimana kita saja ya. Artinya, apakah kita punya skenario besar yang

> > dilengkapi dengan detil skenario kecil-kecil menuju kepada visi yang jauh

> > dan "terukur". Saya kok masih percaya kepada nasihat guru samurai saya,

> > bahwa perang besar hakekatnya adalah sama saja dengan perang kecil-kecil

> > yang sangat banyak. Memang persoalan leadership kadang hanyalah masalah ada

> > tidaknya "lone samurai" dan "swordless samurai" di dalam teamwork yang

> > terlibat dan mengawal perang itu.

> >

> > Kini sudah saatnya bertindak secara nyata dan dilandasi oleh "konsep perang"

> > yang stratejik heheheheee.. ...untuk memenangkan perang bersama !!!!

> >

> > Salam,

> >

> >

> >

> > Djarot Purbadi

> >

> >

> >

> > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

> >

> > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

> >

> > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

> >

> > --- On Tue, 2/23/10, Benedictus Dwiagus S. <bdwia...@.. .> wrote:

> >

> > From: Benedictus Dwiagus S. <bdwia...@.. .>

> > Subject: Re: [referensi] Re: dr Pak JokoWi (Walkot Solo) FW: [se-urdv-id]

> > QUERY: Collecting and Interpreting Local Socio-Economic Data - Advice;

> > Experiences. /Pertanyaan: Mengumpulkan dan Mengintegrasikan data

> > sosial-ekonomi. Reply by 4 March 2010. [SEC=PERSONAL]

> > To: refere...@yahoogrou ps.com

> > Date: Tuesday, February 23, 2010, 8:55 AM

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> > Pak Djarot,

> > Iya pak. Di skala kecil, memang sdh byk yang coba utk kembangkan sistem

> > informasi terpadu di RS. Tp ya itu, kuncinya di leadership kyknya.

> > Di RS Zainal Abidin di Aceh juga mencoba yang sama. Tp masih terseok-seok

> > sepertinya, ketika ganti kepemimpinan dan manajemen, tiba2 agak macet.

> >

> > Kalau di ngawi kalau ndak salah, sistem informasinya sudah sedikit

> > menyangkut informasi sosial terkait kesehatan.

> > Beberapa indikator status keshatan masyarakat jg terpantau oleh kantor

> > kepala dinas. Jd memudahkan kepala dinasnya utk segera bertindak, kalau ada

> > kasus2 tertentu. Akan lbh bagus lagi kalau sudah integrasi dengan sistem

> > early warning .

> >

> > Bisa saja nanti dikembangkan jadi sistem informasi sosial-ekonomi daerah.

> > Dengan sistem early warningnya. Misal kalau tiba2 ada desa yg tiba2 menurun

> > produksi pertaniannya, langsung ada lampu merah kelap-kelip. Keren juga

> > kayaknya.  Bisa jadi rumit, tapi tidak mustahil, apalagi kalau Putri Solo yg

> > mengerjakannya.

> > Hehehehhehee

> >

> > Salam, dwiagus

> >

> > »»»  digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~  Genjot Teruuusss... !!!From:

> > Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>

> > Date: Mon, 22 Feb 2010 17:39:56 -0800 (PST)To: <refere...@yahoogro u

> > ps.com>Subject: Re: [referensi] Re: dr Pak JokoWi (Walkot Solo) FW:

> > [se-urdv-id] QUERY: Collecting and Interpreting Local Socio-Economic Data -

> > Advice; Experiences. /Pertanyaan: Mengumpulkan dan Mengintegrasikan data

> > sosial-ekonomi. Reply by 4 March 2010. [SEC=PERSONAL]

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >       Pak Dwi Agus, nimbrung nih ya, tetapi pada skala yang sangat kecil.

> >

> > Di RSUD Panembahan Senopati, Bantul, manejemen pelayanan dikelola dengan TI

> > dan kayaknya sangat menarik. Setiap transaksi yang masuk dapat dipantau

> > dengan seksama, sampai setiap karyawan bisa melihat "jasa medis" yang akan

> > mereka terima setiap harinya (dengan password). Dari yang saya dengar,

> > sistem pemantauan "realtime" ini telah menjadi bagian dari budaya kerja para

> > karyawan, sehingga mereka bisa dengan mudah merencanakan pola keuangan

> > mereka. Saya dengan juga sistem pengelolaan layanan dengan TI ini, yang

> > transparan semacam itu tadi, baru ada di Bantul. Sekarang RSUD Bantul

> > semakin maju karena telah ada di hati setiap warga Bantul, masyarakat puas

> > dengan layanan dan karyawan puas dengan penggajian yang transparan.

> >

> > Jika sistem semacam ini bisa dikembangkan di setiap layanan

> >  publik, alangkah bagusnya ya....meskipun proses untuk mencapai kondisi

> > semacam itu tidak gampang... pada titik "pembagian rejeki" tentu selalu ada

> > dialog - tarik-ulur berbagai kepentingan, yang hendaknya dilandasi prinsip

> > keadilan substansial.

> >

> > Dalam kondisi semacam itu, manusia memang dikendalikan sistem dan

> > angka-angka, tetapi jika itu semua merupakan bagian dari proses

> > memperjuangkan keadilan dan hormat pada profesi serta menjunjung tinggi

> > etika, rasanya ekselen juga !!!

> >

> > Salam,

> >

> >

> >

> > Djarot Purbadi

> >

> >

> >

> > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

> >

> > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

> >

> > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

> >

> > --- On Tue, 2/23/10, Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com>

> > wrote:

> >

> > From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com>

> > Subject: [referensi] Re: dr Pak JokoWi (Walkot Solo) FW: [se-urdv-id] QUERY:

> > Collecting and Interpreting Local Socio-Economic Data - Advice; Experiences.

> > /Pertanyaan: Mengumpulkan dan Mengintegrasikan data sosial-ekonomi. Reply by

> > 4 March 2010. [SEC=PERSONAL]

> > To: refere...@yahoogrou ps.com

> > Date: Tuesday, February 23, 2010, 8:27 AM

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >       Pak Aby yang baik,...

> >

> >

> >

> > saya ingin mbantu pak jokowi pak,... kirain pak Aby menyarankan saya untuk

> > mengawini putri solo,.... wah, kalau ini saya nunggu ketok palu RUU

> > Perkawinan dulu pak ,.. huehehehehee

> >

> >

> >

> > Yang saya tau itu di sektor kesehatan, pemanfaatan sistem informasi untuk

> > koordinasi, sampai policy making itu, adalah sangat memungkinkan, ... contoh

> > yang saya tau Kab.Ngawi. Di mana ada sistem informasi kesehatan yang linked

> > (secara online kalau gak salah) dari tingkat fasilitas sampai ke Dinas

> > Kesehatannya, .. jadi kepala dinasnya bisa memonitoring perkembangan

> > pelayanan puskesmas dan pelayanan kesehatan lainnya di tingkat kecamatan,..

> > ... dan bisa mengkoordinasinya pula secara online,....

> >

> >

> >

> > salam,

> >

> > dwiagus

> >

> >

> >

> > --- In refere...@yahoogrou ps.com, hengky abiyoso <watashiaby@ ...> wrote:

> >

> >>

> >

> >> Halo mas Dwi yg baik,

> >

> >> Walau pertanyaan pak Jokowi itu sebenarnya lbh mengharapkan jawaban dari

> >> Solution Exchange-UN ....namun pandangan berikut ini justru berasal dari

> >> mitos yg banyak dipercaya kebenarannya baik oleh  orang solo sendiri

> >> maupun   oleh orang bukan asli Solo  lho.........

> >

> >> Denger2 sih ada mitos .. kalau mau berkarier sukses ....katanya sih

> >> syaratnya KAWINI-lah dulu putri Solo.......Kalo gak percaya silahken nanya

> >> sendiri kpd yg udh pada  mempraktekken. ....Soeharto misalnya .. semenjak

> >> mengawini ibu Tien (puti Solo keturunan Mangkunegaran) kariernya  lalu

> >> melesat dan bahkan sempat jadi presiden sampai 32 tahun dan itupun ada

> >> yang bilang ..gara2 ditinggal Ibu Tien maka semenjak itu bintangnya redup

> >> dan lengser..... . lalu Akbar Tanjungpun ikut2an cari putri Solo dan

> >> hasilnya?... . ia menjadi menteri termuda (usia 36 tahun) bahkan kemudian

> >> menjadi ketua DPR dan malah skrg meraih gelar doktor dari UGM....... Amien

> >> Rais, Jendral Djoko Santoso dan pak Djoko Kirmanto (Menteri PU) apalagi

> >> ........selain pada mengawini putri Solo mereka sendirioun konon juga asli

> >> Solo ......jadi maka gak usah ditanya lagilah bgmn hasil kariernya... ....

> >

> >> Jadi kalau mas Dwi bener mau nolongin pak walikota Solo itu ......silahken

> >> anda nanya .....pak Djokowi itu sudah mengawini putri Solo ato

> >> belum....... kalau belum ya  kalo memang bener ingin sukses ya gimanalah

> >> gitu caranya ......biar kariernya sbg walikota bisa sukses besar gitu lho

> >> ......salam,

> >

> >> aby

> >

> >>

> >

> >> Â

> >

> >>

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

>





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke