Mohon izin ikut urun rembuk,

Apa yg menjadi sorotan pak BTS itu menurut saya lebih pada etika bermilis. Saya 
memberikan ilustrasi meskipun tidak persis sama: Ibarat si A yang membalas 
email si B yang panjang berargumen, tapi si A hanya membalasnya dengan: "saya 
setuju..." Lalu saya sebagai pembaca berucap dalam hati: kalau isinya cuma itu, 
ngapain ngereplay, menuh2in inbox saja.

Mengenai email berantai ungkapan duka cita, bagi saya sendiri itu merupakan 
sesuatu tradisi yang baik dalam kita bermilis. Kepedulian kita tentu tak hanya 
bisa nampak dlm bahasa lisan atau tindakan tp antara lain juga bisa 
diekspresikan dlm bahasa tulis, sekalian mengingatkan diri sendiri bahwa kita 
semua ini juga fana adanya.

Namun sayang jika isi email dukacita itu hanya sekedar : "saya juga ikut 
berbela sungkawa" dan sejenisnya. Alangkah lebih baiknya jika di samping 
ungkapan duka cita tsb sang penulis email jg menambahkan dengan misalnya 
mengulas kebaikan2 almarhum semasa hidup, karya2nya, pengalaman personal kita 
dgn almarhum yg menggugah yg layak dibagikan ke pembaca lain, dll. Dengan itu 
saya yakin posting duka cita menjadi lebih bermakna.

Salam. 

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "ffekadj" <[email protected]>
Date: Thu, 04 Mar 2010 10:42:38 
To: <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: berita duka,.. untuk siapa?


Pak BTS ysh, saya kira kita merupakan keluarga besar, yang memiliki
keterkaitan satu sama lain. Apakah dalam profesi, seperguruan, semeja
dalam perundingan, pernah satu angkot ke Dago, penyimak yang baik,
penanggap yang santun, dll. Kehadiran seseorang dalam kehidupan, walau
sekilas telah memberikan makna simbolik tertentu, yang dapat kita
tempatkan di dalam hati sebagai: teman, saudara, murid, seteru, pacar,
junior, orang yang dituakan, musuh, dst. Karena simbol-simbol ini
berinteraksi dalam berbagai makna, maka secara tidak disadari telah
terbangun jembatan semiotik. Hal ini tidak bisa dihilangkan begitu saja
walaupun maut memisahkan, sehingga ada pepatah yang mengatakan: harimau
mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan budi. Maksudnya agar
'kesan' atau makna semiotik dapat dikembalikan pada posisi manusia yang
dha'if.

Bagaimana menempatkan interaksi antar individu ini, katanya sih,
diajarkan melalui pelajaran etika dan moral, sebagian besar di antaranya
terangkum dalam norma agama, seperti dalam Islam disebut dengan akhlaq.
Semua pelajaran itu mengajarkan tentang kerelaan dan keikhlasan dalam
hubungan antar manusia, karena relasi semiotik sangat mampu
menggerak-gerakkan hati manusia. Ketika kita berhadapan dengan Sang
Khalik, sebenarnya kita mengharapkan status ikhlas dan fitri yang
terlepas dari berbagai prasangka manusia dan hal-hal keduniawian
lainnya. Karena itu biasanya siapapun yang sudah merasakan dekatnya
ajal, selalu berkebiasaan meminta maaf, yang maksudnya: mengharapkan
keikhlasan dari siapapun yang pernah terkait dengannya baik langsung
maupun langsung. Bagi kita yang tidak tahu kapan datangnya ajal,
dituntun untuk selalu meminta maaf dan memaafkan serta membangun
keikhlasan, karena yang namanya ajal adalah tidak terduga. Karena itu
biasanya bagi keluarga almarhum, selalu memintakan maaf dari khalayak,
bilamana ada salah-laku yang kurang berkenan; dan bila adapun
hutang-piutang agar diselesaikan sebelum sang mayit masuk ke alam kubur.
Sejak ayah saya meninggal 3 tahun yang lalu, sampai sekarang bila
bertemu dengan orang-orang pernah dekat atau mengenal beliau, saya
selalu memintakan maaf dan mohon keikhlasan untuk almarhum.

Bagi kita yang pernah kenal dengan almarhum, adalah pada tempatnya untuk
memaafkan dan mengikhlaskan, dan kalau dapat mendo'akan almarhum supaya
dapat diampunkan, diterima amalnya, dan Sang Khaliq berkenan
menempatkannya di tempat terbaik. Memang hal ini bisa kita lakukan di
dalam hati, namun lebih baik bila dilisankan atau dinyatakan, sehingga
selalu terukir dalam ingatan, dan menjadi pelajaran hidup juga bagi kita
di dunia ini. Fenomena menyampaikan ungkapan itu di milis memang
merupakan fenomena baru, dari ritual nyata masuk ke dalam ritual maya.
Sebagai moderator sulit juga untuk menghempang gejala ini, karena
memiliki landasan wasilah serta dasar moral dan etika.

Jadi demikian pak, saya hanya meneruskan dari pengamatan, dan tentunya
tidak ada maksud lain. Mudah-mudahan ada guru di milis ini yang berkenan
memberikan pandangan yang mencerahkan. Saya mohon maaf dan keikhlasan
pak bila ada hal-hal yang kurang berkenan. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Bambang Tata Samiadji <btsamia...@...>
wrote:
>
>
> Dear all.
> Â
> Kalau ada anggota milis yang mendahului kita, ada rasa duka 
mendalam. Oleh karena anggota milis yang anggota buaanyak, seringkali
tidak mengenal secara pribadi dan tidak kenal muka. Jadi bingung
bagaimana mengekspresikan rasa duka itu. Biasanya anggota milis
menyatakan rasa empati itu dengan menulis "turut berduka cita" dengan
doa-doa khusus bagi keluarganya dan diakhiri dengan kata AMIN. Kalau
semua anggota milis ingin menyatakan rasa dukanya lewat milis, kapan
selesainya?
> Â
> Apakah itu efektif (ada sambung rasa)? Sementara yang meninggal pasti
tidak bisa membaca, keluarganya juga tak mungkin buka milis, kalaupun
buka juga tidak tahu siapa yang ikut berduka. Jadi yang tahu cuma
anggota milis saja... atau semacam unjuk rasa saja di antara anggota
milis sendiri... tapi tak ada hubungannya dengan yang berduka.
> Â
> Pak Mod, mungkin ada cara yang lebih  mengena.
> Â
> Thanks. CU. BTS.
> Â
> Â Â
>
> --- Pada Kam, 4/3/10, Wanto None kus_...@... menulis:
>
>
> Dari: Wanto None kus_...@...
> Judul: Re: [referensi] berita duka
> Kepada: [email protected]
> Tanggal: Kamis, 4 Maret, 2010, 2:49 AM
>
> Meski tidak mengenal beliau, tapi hati ini turut berduka. Hanya doa
semoga arwah beliau di terima disisiNya. amin




Kirim email ke