Cover the other side.

Regards,
CA

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

-----Original Message-----
From: daengrusle <[email protected]>
Date: Tue, 30 Mar 2010 16:44:21 
To: Milis IA ITB Jkt<[email protected]>; Kuyasipil 
milis<[email protected]>
Subject: [milis kuyasipil euy] Kisah Antitesa Gayus Tambunan: Pemerika Pajak 
yang "Lurus"

saya kira, kita tetap perlu menitipkan rasa percaya dan hormat kepada
aparat, meski sedikit, karena sikap skeptis dan kritis tetap perlu
dipelihara sbg alat kontrol agar mereka tetap berjalan di trek lurus.

berikut adalah kisah antitesa dari Gayus Tambunan,


*K*isah seorang Pemeriksa Pajak Melawan
Korupsi<http://rsugengutomo.blogspot.com/2007/07/kisah-seorang-pemeriksa-pajak-melawan.html>

*Catatanku:
Ini kisah nyata salah seorang teman seangkatanku di STAN. Thumbs up for
him!!!
Kalau baca mesti sampai selesai. Dijamin Anda akan meneteskan air mata.
Aku kagum sama istrinya, ketika ia tidak membuka sama sekali amplop
pemberian teman suaminya.... selama dua tahun!!! Padahal sang suami
menganggap bahwa tidak ada apa-apa atas 'hadiah' dari sohib suaminya itu....
Betapa sakit hatinya Anda, ketika Anda punya 'trusted friends' tiba-tiba
terkuak kalau doi 'betray you'.
Selamat membaca........
*

Sebagai pegawai Departemen Keuangan, saya tidak gelisah dan tidak kalang
kabut akibat prinsip hidup [anti] korupsi. Ketika misalnya, tim Inspektorat
Jenderal datang, BPKP datang, BPK datang, teman-teman di kantor gelisah dan
belingsatan, kami tenang saja. Jadi sebenarnya hidup tanpa korupsi itu
menyenangkan sekali. Hidup tidak korupsi itu sebenarnya lebih menyenangkan.
Meski orang melihat kita sepertinya sengsara, tapi sebetulnya lebih
menyenangkan. Keadaan itu paling tidak yang saya rasakan langsung.
Saya Arif Sarjono, lahir di Jawa Timur tahun 1970, sampai dengan SMA di
Mojokerto, kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan
selesai pada 1992. Pada 17 Oktober 1992 saya menikah dan kemudian saya
ditugaskan di Medan. Saya ketika itu mungkin termasuk generasi pertama yang
mencoba menghilangkan dan melawan arus korupsi yang sudah sangat lazim.
Waktu itu pertentangan memang sangat keras. Saya punya prinsip satu saja,
karena takut pada Allah, jangan sampai ada rezeki haram menjadi daging dalam
diri dan keturunan. Itu saja yang selalu ada dalam hati saya.

Kalau ingat prinsip itu, saya selalu menegaskan lagi untuk mengambil jarak
yang jelas dan tidak menikmati sedikit pun harta yang haram. Syukurlah,
prinsip itu bisa didukung keluarga, karena isteri juga aktif dalam pengajian
keislaman. Sejak awal ketika menikah, saya sampaikan kepada isteri bahwa
saya pegawai negeri di Departemen Keuangan, meski imej banyak orang, pegawai
Departemen Keuangan kaya, tapi sebenarnya tidak begitu. Gaji saya hanya
sekian, kalau mau diajak hidup sederhana dan tanpa korupsi, ayo. Kalau tidak
mau, ya sudah tidak jadi.

Jabatan saya sampai sekarang adalah petugas verifikasi lapangan atau
pemeriksa pajak. Kalau dibandingkan teman-teman seangkatan sebenarnya karir
saya bisa dikatakan terhambat antara empat sampai lima tahun. Seharusnya
paling tidak sudah menjabat Kepala Seksi, Eselon IV. Tapi sekarang baru
Eselon V. Apalagi dahulu di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak menerima
uang korupsi sama saja dengan karir terhambat. Karena saya dianggap tidak
cocok dengan atasan, maka kondite saya di mata mereka buruk. Terutama poin
ketaatannya, dianggap tidak baik dan jatuh.

Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari semua pengalaman itu. Antara
lain, orang-orang yang berbuat jahat akan selalu berusaha mencari kawan apa
pun caranya. Cara keras, pelan, lewat bujukan atau apa pun akan mereka
lakukan agar mereka mendapat dukungan. Mereka pada dasarnya tidak ingin ada
orang yang bersih. Mereka tidak ingin ada orang yang tidak seperti mereka.

Pengalaman di kantor yang paling berkesan ketika mereka menggunakan cara
paling halus, pura-pura berteman dan bersahabat. Tapi belakangan, setelah
sekian tahun barulah ketahuan, kita sudah dikhianati. Cara seperti inI
seperti sudah direkayasa. Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati. Mereka
dikenalkan dengan gaya hidup dan cara bekerja pegawai lama, bahwa seperti
inilah gaya hidup pegawai Departemen Keuangan. Bila tidak berhasil, mereka
akan pakai cara lain lagi, begitu seterusnya. Pola-pola apa saja dipakai,
sampai mereka bisa merangkul orang itu menjadi teman.

Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika memperkenalkan diri, dia sangat
simpatik di mata saya. Dia juga satu-satunya atasan yang mau bermain ke
rumah bawahan. Saya dengan atasan itu kemudian menjadi seperti sahabat,
bahkan seperti keluarga sendiri. Di akhir pekan, kami biasa memancing
sama-sama atau jalan-jalan bersama keluarga. Dan ketika pulang, dia biasa
juga menitipkan uang dalam amplop pada anak-anak saya. Saya sendiri
menganggap pemberian itu hanya hadiah saja, berapalah hadiah yang diberikan
kepada anak-anak. Tidak terlalau saya perhatikan. Apalagi dalam proses
pertemanan itu kami sedikit saja berbicara tentang pekerjaan. Dan dia juga
sering datang menjemput ke rumah, mangajak mancing atau ke toko buku sambil
membawa anak-anak.

Hingga satu saat saya mendapat surat perintah pemeriksaan sebuah perusahaan
besar. Dari hasil pemeriksaan itu saya menemukan penyimpangan sangat besar
dan luar biasa jumlahnya. Pada waktu itu, atasan melakukan pendekatan pada
saya dengan cara paling halus. Dia mengatakan, kalau semua penyimpangan ini
kita ungkapkan, maka perusahaan itu bangkrut dan banyak pegawai yang di-PHK.
Karena itu, dia menganggap efek pembuktian penyimpangan itu justru
menyebabkan masyarakat rugi. Sementara dari sisi pandang saya, betapa tidak
adilnya kalau tidak mengungkap temuan itu. Karena sebelumnya ada yang
melakukan penyimpangan dan kami ungkapkan. Berarti ada pembedaan. Jadwal
penagihannya pun sama seperti perusahaan lain.

Karena dirasa sulit mempengaruhi sikap saya, kemudian dia memakai logika
lain lagi. Apakah tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan dan
dirundingkan dengan klien, agar bisa membayar pajak dan negara untung,
karena ada uang yang masuk negara. Logika seperti ini juga tidak bisa saya
terima. Waktu itu, saya satu-satunya anggota tim yang menolak dan meminta
agar temuan itu tetap diungkap apa adanya. Meski saya juga sadar, kalau saya
tidak menandatangani hasil laporan itu pun, laporan itu akan tetap sah. Tapi
saya merasa teman-teman itu sangat tidak ingin semua sepakat dan sama
seperti mereka. Mereka ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Paling
tidak menerima. Ketika sudah mentok semuanya, saya dipanggil oleh atasan dan
disidang di depan kepala kantor. Dan ini yang amat berkesan sampai sekarang,
bahwa upaya mereka untuk menjadikan orang lain tidak bersih memang
direncanakan.

Di forum itu, secara terang-terangan atasan yang sudah lama bersahabat dan
seperti keluarga sendiri dengan saya itu mengatakan, Sudahlah, Dik Arif
tidak usah munafik. Saya katakan, “Tidak munafik bagaimana Pak? Selama ini
saya insya Allah konsisten untuk tidak melakukan korupsi?” Kemudian ia
sampaikan terus terang bahwa uang yang selama kurang lebih dua tahun ia
berikan pada anak saya adalah uang dari klien. Ketika mendengar itu, saya
sangat terpukul, apalagi merasakan sahabat itu ternyata berkhianat. Karena
terus terang saya belum pernah mempunyai teman sangat dekat seperti itu,
kecuali yang memang sudah sama-sama punya prinsip untuk menolak uang suap.
Bukan karena saya tidak mau bergaul, tapi karena kami tahu persis bahwa
mereka perlahan-lahan menggiring ke arah yang mereka mau. Ketika merasa
terpukul dan tidak bisa membalas dengan kata-kata apa pun, saya pulang. Saya
menangis dan menceritakan masalah itu pada isteri saya di rumah. Ketika
mendengar cerita saya itu, isteri langsung sujud syukur.

Ia lalu mengatakan, Alhamdulillah. Selama ini uang itu tidak pernah saya
pakai, katanya. Ternyata di luar pengatahuan saya, alhamdulillah,
amplop-amplo itu tidak digunakan sedikit pun oleh isteri saya untuk
keperluan apa pun. Jadi amplop-amplop itu disimpan di sebuah tempat, meski
ia sama sekali tidak tahu apa status uang itu. Amplop-amplop itu semuanya
masih utuh. Termasuk tulisannya masih utuh, tidak ada yang dibuka. Jumlahnya
berapa saya juga tidak tahu. Yang jelas, bukan lagi puluhan juta. Karena
sudah masuk hitungan dua tahun dan diberikan hampir setiap pekan.

Saya menjadi bersemangat kembali. Saya ambil semua amplop itu dan saya bawa
ke kantor. Saya minta bertemu dengan kepala kantor dan kepala seksi. Dalam
forum itu, saya lempar semua amplop itu di hadapan atasan saya hingga
bertaburan di lantai. Saya katakan, makan uang itu, satu rupiah pun saya
tidak pernah gunakan uang itu. Mulai saat ini, saya tidak pernah percaya
satu pun perkataan kalian! Mereka tidak bisa bicara apa pun karena fakta
obyektif, saya tidak pernah memakai uang yang mereka tuduhkan. Tapi esok
harinya, saya langsung dimutasi antar seksi. Awalnya saya diauditor, lantas
saya diletakkan di arsip, meski tetap menjadi petugas lapangan pemeriksa
pajak. Itu berjalan sampai sekarang. Ketika melawan arus yang kuat, tentu
saja da saat tarik-menarik dalam hati dan konflik batin. Apalagi keluarga
saya hidup dalam kondisi terbatas. Tapi alhamdulillah, sampai sekarang saya
tidak tergoda untuk menggunakan uang yang tidak jelas.

Ada pengalaman lain yang masih saya ingat sampai sekarang. Ketika saya
mengalami kondisi yang begitu mendesak. Misalnya, ketika anak kedua lahir.
Saat itu persis ketika saya membayar kontrak rumah dan tabungan saya habis.
Sampai detik-detik terakhir harus membayar uang rumah sakit untuk membawa
isteri dan bayi kami ke rumah, saya tidak punya uang serupiah pun. Saya mau
bcara dengan pihak rumah sakit dan terus terang bahwa insya Allah pekan
depan akan saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga. Akhirnya saya
keluar sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu pulang dari sholat
dhuha, tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di rumah sakit itu. Sebelumnya
kami lama sekali tidak pernah jumpa. Dia dapat cerita dari teman bahwa
isteri saya melahirkan, maka dia sempatkan datang ke rumah sakit.
Wallahua'lam apakah dia sudah diceritakan kondisi saya atau bagaimana,
tetapi ketika ingin menyampaikan kondisi saya pada pihak rumah sakit, saya
malah ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan isteri yang sudah lunas.
Alhamdulillah.

Ada lagi peristiwa hampir sama, ketika anak saya operasi mata karena ada
lipoma yang harus diangkat. Awalnya, saya pakai jasa askes. Tapi karena
pelayanan pengguna Askes tampaknya apa adanya, dan saya kasihan karena anak
saya baru berumur empat tahun, saya tidak pakai Askes lagi. Saya ke Rumah
Sakit yang agak bagus sehingga pelayanannya juga agak bagus. Itu saya
lakukan sambil tetap berfikir, nanti uangnya pinjam dari mana? Ketika anak
harus pulang, saya belum juga punya uang. Dan saya paling susah sekali
menyampaikan ingin pinjam uang. Alhamdulillah, ternyata Allah cukupkan
kebutuhan itu pada detik terakhir. Ketika sedang membereskan pakaian di
rumah sakit, tiba-tiba Allah pertemukan saya dengan seseorang yang sudah
lama tidak bertemu. Ia bertanya bagaimana kabar, dan saya ceritakan anak
saya sedang dioperasi. Dia katakan, kenapa tidak bilang-bilang?? Saya
sampaikan karena tidak sempat saja. Setelah teman itu pulang, ketika ingin
menyampaikan penundaan pembayaran, ternyata kwitansinya juga sudah dilunasi
oleh teman itu. Alhamdulillah.

Saya berusaha tidak terjatuh ke dalam korupsi, meski masih ada tekanan
keluarga besar, di luar keluarga inti saya. Karena ada teman yang tadinya
baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan keluarga. Keluarganya
minta bantuan, karena takut dibilang pelit, mereka terpaksa pinjam sana
sini. Ketika harus bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi juga. Karena
banyak yang seperti itu, dan saya tidak mau terjebak begitu, saya berusaha
dari awal tidak demikian. Saya berusaha cari usaha lain, dengan mengajar dan
sebagainya. Isteri saya juga bekerja sebagai guru.

Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya lakukan biasanya lebih banyak
dengan bercanda. Sedangkan pendekatan serius, sebenarnya mereka sudah puas
dengan pendekatan itu, tapi tidak berubah. Dengan pendekatan bercanda,
misalnya ketika datang tim pemeriksa dari BPK, BPKP, atau Irjen. Mereka
gelisah sana-sini kumpulkan uang untuk menyuap pemeriksa. Jadi mereka dapat
suap lalu menyuap lagi. Seperti rantai makanan. Siapa memakan siapa. Uang
yang mereka kumpulkan juga habis untuk dipakai menyuap lagi. Mereka selalu
takut ini takut itu. Paling sering saya hanya mengatakan dengan bercanda..
Uang setan ya dimakan hantu! Dari percakapan seperti itu ada juga yang mulai
berubah, kemudian berdialog dan akhirnya berhenti sama sekali. Harta mereka
jual dan diberikan kepada masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak.
Sedikit sekali orang yang bisa merubah gaya hidup yang semula mewah lalu
tiba-tiba miskin. Itu sulit sekali.

Ada juga diantara teman-teman yang beranggapan, dirinya tidak pernah memeras
dan tidak memakan uang korupsi secara langsung. Tapi hanya menerima uang
dari atasan. Mereka beralasan toh tidak meminta dan atasan itu hanya
memberi. Mereka mengatakan tidak perlu bertanya uang itu dari mana. Padahal
sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami tidak akan
pernah bisa memberikan uang sebesar itu. Atasan yang memberikan itu
berlapis-lapis. Kalau atasan langsung biasanya memberi uang hari Jum'at atau
akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang Jum’atan. Atasan yang berikutnya
lagi pada momen berikutnya memberi juga. Kalau atasan yang lebih tinggi lagi
biasanya memberi menjelang lebaran dan sebagainya. Kalau dihitung-hitung
sebenarnya lebih besar uang dari atasan dibanding gaji bulanan. Orang-orang
yang menerima uang seperti ini yang sulit berubah. Mereka termasuk rajin
sholat, puasa sunnah dan membaca Al-Qur'an. Tetapi mereka sulit berubah.

Ternyata hidup dengan korupsi memang membuat sengsara. Di antara teman-teman
yang korupsi, ada juga yang akhirnya dipecat, ada yang melarikan diri karena
dikejar-kejar polisi, ada yang isterinya selingkuh dan lain-lain. Meski
secara ekonomi mereka sangat mapan, bukan hanya sekadar mapan.

Yang sangat dramatis, saya ingat teman sebangku saya saat kuliah di STAN.
Awalnya dia sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika
keluarganya mulai sering minta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan keluarga
dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya uang. Akhirnya ia
mencoba hutang sana-sini. Dia pun terjebak dan merasa sudah terlanjur jatuh,
akhirnya dia betul-betul sama dengan teman-teman di kantor. Bahkan sampai
sholat ditinggalkan. Terakhir, dia ditangkap polisi ketika sedang
mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh. Teman itu sekarang dipecat
dan dipenjara.

Saya berharap akan makin banyak orang yang melakukan jihad untuk hidup yang
bersih. Kita harus bisa menjadi pelopor dan teladan di mana saja. Kiatnya
hanya satu, terus menerus menumbuhkan rasa takutmenggunakan dan memakan uang
haram. Jangan sampai daging kita ini tumbuh dari hasil rejeki yang haram.
Saya berharap, mudah-mudahan Allah tetap memberikan pada kami keistiqomahan
(matanya berkaca-kaca).

Kirim email ke