Dear pak BTS dan rekans, 
Ide yang bagus pak. Sebenarnya sampe sekarang masih ada Kementrian Pembangunan 
Daerah Tertinggal. Tapi seperti saya sampaikan tadi permasalahan koordinasi dan 
sumber daya manusia jadi kendala. Kaukus KTI juga menarik jika meliat kendala 
utamanya adalah politik...Hanya saja harus lebih comprehensive karena kita tdak 
bolh berhenti di level menyelesaikan barrier politik. Karena pada level teknis 
nanti planners berhadapan dengan kenyataan sosial dan budaya yang kadang kala 
membuat kita frustasi. Butuh juga kita para tokoh2 bawah agar mendukung program 
tsb. 
Saya ambil contoh, karena pernah menjadi paper ilmiah saya soal pembangunan 
suku Badui. (melenceng ya bukan di Timur).. Ternyata kepercayaan, budaya, dan 
misinformasi menjadi barrier lain yang harus di selesaikan dalam fase teknis. 
Contoh lain adalah budaya setempat. Sya pernah mendapat cerita dari teman yang 
mengelola proyek meski skalanya kecil. Di suatu daerah untuk membangun sebuah 
jalan saja, bisa satu petak tanah yang mengakui sebagai pemilik bisa 5 orang 
dari ayah,anak, paman dll. (datanya sengaja disamarkan bukan berarti tidak 
valid tetapi karena menyangkut daerah tertentu). 
Jadi Kaukus seperti Pak BTS usulkan juga harus di sertai dengan pelibatan 
tokoh2 lokal. Tapi step pertama mungkin harus segera di susun Grand Design 
Pembangunannya.
Thanks,KUS 


--- On Sun, 4/11/10, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> wrote:

From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
Subject: Re: Pulih :-)  [referensi] Re: Pembangunan Wilayah
To: [email protected]
Date: Sunday, April 11, 2010, 9:46 AM















 
 



  


    
      
      
      Dulu, jaman Kabinet Gotong Royong (Megawati) pernah dibentuk Kementerian 
Negara Percepatan Pembangunan KIT (Menterinya Manuel Kaisiepo), ..toh juga 
nggak jalan. Apalagi koq cuma dibentuk dewan (yang umumnya hanya bertugas 
memberi nasehat),.. saya kira tak akan efektif.
 
Yang mungkin bisa dibentuk adalah Kaukus Kawasan Indonesia Timur yang terdiri 
atas anggota-anggota DPD KIT, anggota-anggota DPR dengan konstituen KIT, Kadin, 
Pakar-pakar KIT, dan pemangku kepentingan lainnya untuk KIT. Kaukus ini bisa 
punya daya tekan politik dan juga komitmen membangun dan marketing sendiri.
 
Thanks. CU. BTS.

--- Pada Ming, 11/4/10, Jehan Siregar <jehansiregar@ yahoo.com> menulis:


Dari: Jehan Siregar <jehansiregar@ yahoo.com>
Judul: Re: Pulih :-) [referensi] Re: Pembangunan Wilayah
Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
Tanggal: Minggu, 11 April, 2010, 9:15 AM


 





SAlam,
Identifkasi masalah yang mengena, Pak Kus. Namun di bagian akhir tawaran 
solusi, saya pikir yang diperlukan itu adalah inisiatif yang lebih lintas 
bidang. Sehingga judul Dewan Tata Ruang rasanya masih seperti baju yang 
kesempitan. Berdasarkan visi yang lebih makro bisa diusulkan seperti Dewan 
Pembangunan KTI, atau Dewan Pembangunan Berkelanjutan, dll. Hingga kini 
pemahaman tata ruang masih dimaknai sebagai kegiatan yg portofolionya adalah 
Rencana Tata Ruang. Sedangkan masalahnya adalah portofolio yang fragmented 
antar instansi yagn berkontribusi dalam pembangunan kawasan...

MJS


--- On Sun, 4/11/10, Wanto None <kus_...@yahoo. com> wrote:


From: Wanto None <kus_...@yahoo. com>
Subject: Re: Pulih :-) [referensi] Re: Pembangunan Wilayah
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Sunday, April 11, 2010, 4:30 PM


  








Pemikirannya tentang fallacy yang brilliant. Ak mau menambahkan current problem 
yang mungkin dihadapi. Kalo dulu waktu sentralisasi masalah pembangunan KTI 
adalah korupsi. Kalo sekarang setelah desentralisasi masalahnya nambah tidak 
hanya korupsi tetapi juga koordinasi dan ,politik dan sumber daya manusia. 
Pemerintah daerha di beri keleleuasaan penuh untuk membangun infrastrukturnya 
tetapi uangnya darimana? Pinjam ke luar negeri kan harus melalui pemerintah 
pusat, dan kadang kala terjadi miskoordinasi antara pemerintah pusat dengan 
daerah sehingga proyek terkatung2. masalah politik, kecenderungan karena sudah 
pilkada, daerah tidak punya grand design tata ruang untuk jangka 20 - 30 tahun 
ke depan dan lebih menggunakan pragmatisme karena jabatan politik yang hanya 
terbatas 5 tahun. Itu tantangan besar tidak hanya di Timur tapi juga di Barat. 
Masalah sumber daya manusia itu masalah klasik. Bukan tidak ada tenaga ahli 
ditimur, tetapi faktor sistem
 birokrasinya yang membuat para tenaga ahli dan profesional mending lari ke 
jakarta ato ke luar negeri.Sedangkan di lingkungan kab/kota (PNS) lebih senang 
mengurusi yang rutin2 saja, dan PU/Bappenas yang munkin banyak ahli 
perencanaannya dengan otonomi daerah sulit untuk menerapkan proyek2 
nasionalnya. Harus ada semacam Dewan Tata Ruang kayanya di tiap2 daerah yang 
lepas dari pengaruh politik dan berisi kader2 handal di bidang tata ruang dan 
infrastruktur. 



KUS 

--- On Fri, 4/9/10, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote:


From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
Subject: Re: Pulih :-) [referensi] Re: Pembangunan Wilayah
To: "referensi" <refere...@yahoogrou ps.com>
Date: Friday, April 9, 2010, 4:52 AM


  










____________ _________ _________ _________ _________ __
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam  
http://id.mail. yahoo.com 

    
     

    
    


 



  











      

Kirim email ke