Referensiers ysh. Saya sebenarnya sempat sengsara di Cisarua hari Sabtu yang lalu. Sore itu bersama keluarga berencana melakukan kunjungan ke sebuah mesjid relatif baru di Sampai-Cisarua. Mesjid dengan arsitektur yang aneh, tanpa dinding dan dipayungi tenda raksasa itu. Sesampai di lokasi ternyata saya baru tahu kalau salah satu ban mobil ring 17 saya pecah, dan saya tidak punya ban serep serta kunci-dongkrak. Beruntung di depan mesjid itu ada tambal ban, dan setelah menunggu habis maghrib baru sang montir melayani. Permasalahannya adalah tidak ada ban pengganti walau sudah dicari dari Gadog sampai menjelang Puncak Pas. Akhirnya setelah jam 10 malam, ban pecah yang ada ditempeli ban luar sepeda motor kemudian diisi ban dalam. Namun baru sampai sekitar kantor kecamatan Cisarua, ban dalam itu sudah meletus. Di tempat tambal ban terdekat saya menunggu sampai jam 12 malam, dan keajaiban datang. Dari tempat produksi perabotan setempat diperoleh ban 17 bekas, yang rencananya untuk bahan baku produksi. Sampai di Jakarta jam 3 pagi. Praktis 10 jam saya dan keluarga nongkrong di sepanjang jalan Cisarua, menikmati deru campur debu. Namun bagi saya momen itu sangat menarik. Saya berbicara dengan banyak orang tentang banyak persoalan. Seperti misalnya pemilik tambal ban, walau berlokasi di depan mesjid namun sholatnya di mesjid lain yang lebih jauh. Dan banyak warga sekitar juga kurang memanfaatkan mesjid itu. "Itu kan mesjid untuk tamu-tamu", katanya. Ada kritik yang tersimpan terhadap disain mesjid itu, yang disebutkan tidak sesuai dengan budaya setempat. Di tempat tambal ban yang satu lagi, saya mendengar keluhan montirnya yang bergaji sangat minim. Praktis penghasilannya hanya Rp 100 ribu sebulan, di luar makan. Sementara pemilik tambal ban yang bukan putera setempat, tinggal di Jakarta, 4 kali seminggu datang berkunjung untuk menarik pemasukan. Banyak lagi cerita, dari tukang parkir, ojeg, serta seorang haji yang datang membantu mencarikan ban dari ujung ke ujung. Rasanya saya mulai mendapat teman-teman sejati. Saya tertarik dengan Cisarua, ketulusannya dan resistensinya. Bila hari ini kita mendapat berita tentang kejadian di Cibeureum-Cisarua, saya sudah mulai dapat memahami. Saya ingin belajar banyak di Cisarua, tidak hanya sekedar 'kawin siri'-nya, juga tentang banyak aspek kehidupan lainnya.
Sebentar subuh saya mau berangkat lagi ke Cisarua, melihat lokasi peristiwa itu sampai siang. Untuk boss-boss di kantor saya mohon izin. Salam. -ekadj Selasa, 27/04/2010 13:42 WIB Rusuh di Cisarua Polisi Berjibaku Padamkan Api, Massa Mulai Tenang<http://www.detiknews.com/read/2010/04/27/134254/1346317/10/polisi-berjibaku-padamkan-api-massa-mulai-tenang> ** *Anwar Hidayat* - detikNews *Jakarta* - 100-an anggota kepolisian dikerahkan untuk menjinakkan aksi massa yang terjadi di Desa Cibeureum, Kecamatan Cisarua, Bogor. Mereka berusaha memadamkan api yang membakar bangunan dan mobil. Pantauan detikcom di lokasi kejadian, Selasa (27/4/2010), massa membakar Daihatsu Xenia dan mobil bak terbuka. Bangunan yang ada di sekitarnya juga jadi korban yaitu satu bangunan utama yang hendak dijadikan sekolah serta 8 bedeng pekerja bangunan. Polisi berjibaku memadamkan amukan api. Si jago merah yang membakar bangunan hingga pukul 13.00 WIB belum bisa dipadamkan. Saat ini ratusan orang yang terlibat aksi protes itu mulai tenang. Belum ada satu pun mobil pemadam kebakaran yang tiba di lokasi. Hanya petugas kepolisian saja yang berusaha memadamkan api. Warga sekitar lokasi terus berdatangan menyaksikan insiden itu. Imam, salah seorang warga yang terlibat kerusuhan mengatakan, aksi anarkis ini dilakukan karena mereka kesal terhadap pihak yayasan pemilik bangunan wisma itu. Pihak yayasan tersebut dinilai telah melanggar kesepakatan yang pernah dibuat bersama warga. "Mereka janjinya hanya akan membangun wisma, tapi ternyata juga akan membangun sekolahan. Ini melanggar kesepakatan," ujarnya.

