Pak Aby ysh,
 
Mudah-mudahan kulit badak dan/atau kulit kura-kura ninja yang menempel sudah 
diamputasi dari badan kita seperti Tim Dokter hasan Sadikin mengoperasi kutil 
dan kulit Sang Manusia Pohon Indonesia...
 
Memang benar bahwa pertimbangan dari Shell adalah murni pertimbangan bisnis. 
Apalagi Shell adalah sebuah perusahaan multi-nasional yang ngak punya 
kepentingan untuk 'turut membangun bangsa Indonesia'. 
 
Konon katanya kita butuh investasi 10.000 triliun hingga lima tahun ke depan, 
yang katanya kita pun belum tahu bagaimana cara medatangkannya....
 
Adakah hal yang bisa kita pelajari dari keputusan Shell memutuskan investasinya 
di Singapura? Setidaknya dari sudut pandang kewilayahan? Sangat tidak mungkin 
apabila tidak ada yang bisa kita pelajari. 
 
Kalau ada, mudah-mudahan kita mau mempelajarinya dan tidak serta merta 
mengatakan bahwa Indonesia memiliki karakter yang berbeda dengan Singapura 
sehingga kita tidak bisa menerapkannya di sini. 
 
Kalau ada, mungkin kita juga bisa berkontribusi kepada pencarian upaya terbaik 
untuk mendatangkan investasi 10.000 tiliun tsb..
 
Salam hangat,
 
Fadjar
 
 

 








ANTARA/NYOMAN BUDHIANA
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) berbincang dengan Gubernur Jawa Tengah 
Bibit Waluyo dan beberapa gubernur lainnya di sela rapat kerja dengan menteri 
dan gubernur se-Indonesia di Istana Tampaksiring, Bali, Rabu (21/4).
 


Investasi Rp 10.000 Triliun
Implementasi Kebijakan Menjadi Penentu Keberhasilan Raker

Kamis, 22 April 2010 | 04:37 WIB
Tampaksiring, Kompas - Pemerintah membutuhkan investasi Rp 10.000 triliun 
selama lima tahun untuk mendukung perekonomian tumbuh 7 persen-7,7 persen 
setidaknya pada akhir 2012. Namun, sejauh ini belum ditemukan cara yang tepat 
untuk bisa memperoleh dana investasi itu.
Upaya mencari cara yang tepat menjadi inti pembahasan bidang ekonomi dalam 
Rapat Kerja Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II dengan gubernur dan ketua DPRD 
se-Indonesia serta sejumlah elemen masyarakat di Istana Tampaksiring, Bali, 
19-21 April.
Wakil Presiden Boediono saat memberikan pandangan seusai penyampaian hasil 
kelompok kerja (pokja) di Tampaksiring, Rabu (21/4), menyatakan belum 
sepenuhnya dihasilkan rencana aksi yang dapat dilaksanakan pada bidang 
perekonomian. Namun, persoalan termasuk hambatan bagi investasi teridentifikasi 
untuk ditindaklanjuti.
”Laporan akhir yang merangkum hal-hal pokok ini suatu kemajuan meskipun belum 
pada tingkat action plan yang benar-benar dapat kita laksanakan langsung pada 
hari ini. Ini karena sifat kompleksitas masalahnya,” ujar Wapres.
Rapat kerja tiga hari itu selain dihadiri semua menteri, gubernur, dan ketua 
DPRD provinsi se-Indonesia, hadir pula semua direktur utama BUMN, pemimpin 
lembaga pemerintah nonkementerian, kalangan pelaku usaha, dan pakar teknologi.
Para pemimpin yang turut hadir dalam sesi pleno mencapai 226 peserta dan 
berlangsung terbuka. Kegiatan pokja dilakukan dalam forum tertutup.
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa memaparkan, untuk mendorong 
pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan merata butuh kebijakan yang sinergis 
antara pusat dan daerah. Secara umum dibutuhkan kebijakan untuk membangun 
sektor unggulan dan klaster demi peningkatan nilai tambah, memastikan 
terurainya sumbatan (debottlenecking) masalah infrastruktur, pengembangan pusat 
pertumbuhan ekonomi baru, serta mengembangkan kawasan ekonomi khusus dengan 
insentif.
Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi itu, investasi harus digenjot. Pertumbuhan 
investasi hingga 12,1 persen pada tahun 2014 antara lain akan didorong dengan 
pembenahan koordinasi untuk menghilangkan egosektoral. Pembiayaan jangka 
panjang perlu didukung penurunan suku bunga riil serta optimalisasi sumber 
pendanaan alternatif, seperti Jamsostek dan Asuransi Dana Pensiun.
Investasi juga perlu dipacu dengan memperbanyak kawasan unggulan. Terkait 
peningkatan kualitas, investasi perlu diarahkan pada pengembangan inovasi baru 
dan menekan dampak lingkungan.
Menko Perekonomian menjelaskan, investasi Rp 10.000 triliun dalam lima tahun 
itu diharapkan 50 persennya berasal dari swasta nasional ataupun asing. 
Investasi di bidang infrastruktur sebesar Rp 1.500 triliun antara lain akan 
digunakan untuk pembangunan pembangkit listrik 15.000 megawatt, 
pembangunan/perbaikan 20.000 kilometer jalan, perluasan pelabuhan-pelabuhan 
utama, dan pembangunan pelabuhan baru yang terintegrasi dengan kawasan ekonomi 
khusus.
Penyelesaian dry port tahun 2010 serta pembangunan trek ganda angkutan batu 
bara dan komoditas lainnya di Sumatera dan Kalimantan mulai tahun 2011 juga 
termasuk dalam investasi infrastruktur prioritas. Terkait itu, kapasitas angkut 
kereta api trans-Sumatera, Jawa, dan Kalimantan juga menjadi fokus.
Implementasi
Menurut Wapres Boediono, sebagian rumusan hasil kerja pokja perekonomian pada 
rapat kerja (raker) kali ini sudah tercakup dalam Instruksi Presiden Nomor 1 
Tahun 2010 yang sebelumnya dihasilkan pada raker KIB II dengan para gubernur di 
Istana Cipanas, Februari. Raker di Istana Tampaksiring merupakan kelanjutan 
dari raker Cipanas.
Sebagian dari rumusan pokja ekonomi yang lain, ujar Wapres, juga sudah tercakup 
dalam Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2010, sementara sebagian lagi belum 
tercakup dalam program pemerintah.
”Jadi, memang pekerjaan berikutnya mencoba untuk merinci menjadi 
langkah-langkah yang lebih tegas dan tajam dari usulan tadi,” ujar Wapres.
Wapres mengingatkan, implementasi menjadi penentu apakah raker ini berguna atau 
tidak. Untuk itu, Wapres menyarankan setiap daerah membentuk unit khusus yang 
ditunjuk gubernur untuk berkonsultasi dan berkoordinasi dengan penanggung jawab 
program di tingkat pusat. Dengan demikian, komunikasi akan berjalan baik mulai 
dari perencanaan, pelaksanaan, hingga monitoring.
Saat menutup raker, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengharapkan para 
penyelenggara pemerintahan dan pemangku kepentingan lainnya tetap optimistis 
dalam memandang permasalahan dan tantangan dalam pembangunan, termasuk di 
bidang perekonomian.
Di Jakarta, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi menyatakan, 
apa pun hasil dari rapat-rapat yang diselenggarakan kabinet tersebut, jauh 
lebih penting implementasinya. Selama menteri sulit berkoordinasi satu dengan 
lainnya serta kepentingan sektoral masih kuat, semua itu juga tidak akan jalan 
sebagaimana diharapkan.
Ia menyarankan supaya Presiden Yudhoyono sendiri yang memimpin langsung 
implementasi dari semua program dan targetnya itu. Targetnya ditetapkan, 
diawasi pelaksanaannya, dan ditagih menterinya, apa yang sudah dilakukan. 
(Day/DIS)
 
 
 

--- En date de : Mer 5.5.10, hengky abiyoso <[email protected]> a écrit :


De: hengky abiyoso <[email protected]>
Objet: Bls: [referensi] Shell Berinvestasi di Singapura-Pukulan telak bagi 
Indonesia?
À: "referensi" <[email protected]>
Date: Mercredi 5 mai 2010, 13h51


  








Mas Fajar yg baik, 
Pukulan telak bagi Indonesia?.. ....hoohooo ..bagi kita itu hanya sebuah sepoi 
angin lalu saja mas ……kita ini sudah terbiasa berkulit badak atau setidaknya 
berkulit kura2 ninja …jadi tak kan pernah ada pukulan sekeras apapun dan 
setelak apapun yg akan terasa menyakitkan……. 
Kalau Shell pilih Singapura …jelas bhw orientasinya adalah orientasi bisnis, 
distribusi regional dan internasional …..jelas bhw acaranya adlh acara 
komersial, manufaktur dan kewiraswastaan …dan bukannya acara frustrasi hanging 
around sekitar APBN melulu seolah bhw diluar APBN tak akan pernah ada nilai2 
ekonomi yg patut diharap, dikenyam dan mengenyangkan perut………. 
Dan jelas bhw Singapura adlh pilihan terbaik …..krn Singapura sudah jadi hub 
internasional mateng beneran ……Shell melihat bhw penduduk (ibu)kotanya sudah 
terbiasa siap dgn jiwa kewiraswastaan dn manufaktur dan tak punya SDA apapun 
atau negeri seluas apapun utk hanya dibangga2kan terus  ….. dan Shell melihat 
mereka bukan terbiasa dgn jiwa ambtenaar  yg biasa dgn terkantuk2 dn termimpi2 
selalu merindukan kota2 agar selalu manusiawi, punya taman2 dan patung2 dan 
masa bodoh dgn pengangguran dan masa depan perekonomian bangsanya………salam, 
aby 
  

  
Tuesday, May 4, 2010 10:25 PM 
From: "efha_mardiansjah@ yahoo.com" <efha_mardiansjah@ yahoo.com> 
To: refere...@yahoogrou ps.com 
  
  




Bapak-bapak dan Ibu-ibu sahabat referesiers ysh, 
  
Baru-baru ini diberitakan bahwa Shell memulai beroperasinya fasilitas pabrik 
petrokimia terbesar yang pernah dibangunnya. Pabrik itu berlokasi di Pulau 
Bukom dan Jurong, Singapura. 
Tidakkah hal ini menjadi suatu pertanyaan bagi kita? 
- Mengapa suatu industri petrokimia yang bernilai miliaran dolar dan akan 
memproduksi sejumlah produk, seperti ethylene (800.000 ton per tahun), 
propylene (450.000 ton per tahun), benzene (230.000 ton per tahun), mono 
ethylene glycol (750.000 ton per tahun), dan butadine (155.000 ton per tahun) 
yang kemudian akan diekspor ke kawasan Asia Pasific (termasuk Indonesia yang 
kebutuhan bensinnya yang terus meningkat masih belum mampu dipenuhi secara 
mandiri), ini kemudian berlokasi di Singapura yang hanya memiliki lokasi dekat 
sumber-sumber bahan baku dan pasarnya, tanpa memiliki sumber bahan baku dan 
pasarnya sendiri? 
Apakah investasi tsb bisa dianggap sebagai suatu pukulan telak bagi Indonesia 
yang kalah dalam percaturan bisnis dan investasi dunia? Atau memang kita pikir 
bahwa hal ini sudah suatu kewajaran mengingat Singapura tidak bisa dibandingkan 
dengan Indonesia karena Singapura sudah merupakan bagian dari negara maju, 
sedangkan Indonesia masih merupakan negara berkembang.. ..? 
Sebaliknya, Indonesia, memiliki sumber bahan baku dan pasar yang cukup besar 
dan sangat potensial, mengapa tidak menjadi lokasi investasinya? Mengapa bukan 
di sekitar Dumai-Rengat- Pekanbaru, Balikpapan, atau Sumatera Selatan yang 
merupakan gudang bahan bakunya..? Selain persoalan-persoalan perijinan, ekonomi 
biaya tinggi, dll, adakah pengaruh faktor-faktor yang berkaitan dengan spasial 
seperti standar kualitas layanan infrastruktur kota, infrastruktur regional, 
dan lain-lain..? 
Mohon tanggapan dari Bapak-bapak, Ibu-ibu sahabat referensierf. . 
Terima kasih dan salam hangat, 
Fadjar Undip 
  
  
Shell Berinvestasi di Singapura 
Rabu, 5 Mei 2010 | 03:48 WIB 
Singapura, Kompas - Perusahaan minyak raksasa Royal Dutch Shell mengantisipasi 
pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Asia Pasifik dengan membangun kompleks 
petrokimia di Singapura, yang resmi beroperasi Selasa (4/5). 
Produk dari kompleks petrokimia tersebut, antara lain, diekspor ke China, 
India, dan negara lain di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia. 
Chief Executive Officer (CEO) Royal Dutch Shell Peter Voser dalam jumpa pers di 
Singapura, kemarin petang, mengemukakan, kompleks petrokimia terintegrasi yang 
dibangun di Pulau Bukom dan Jurong, tidak jauh dari Singapura, itu akan 
menghasilkan sejumlah produk yang akan diekspor ke negara-negara di Asia 
Pasifik. 
Pertumbuhan ekonomi Asia Pasifik yang tinggi, terutama di India dan China, 
menurut Voser, membuat kebutuhan akan produk petrokimia meningkat tajam. 
Kebutuhan serupa akan muncul dari Indonesia. Namun, Voser tak merinci volume 
ekspor produk petrokimia Shell ke Indonesia. 
”Pertumbuhan mobil di Asia Tenggara akan lipat tiga menjadi 92 juta unit hingga 
tahun 2030. Pabrik mobil ini akan memerlukan produk petrokimia seperti plastik, 
bahan bakar, pelumas, dan semua ini akan dipasok dari kompleks petrokimia milik 
Shell ini,” ujar Voser. 
Dari pasar internasional 
Petrokimia milik Shell di Singapura ini membutuhkan minyak mentah 500.000 
barrel per hari. Bahan baku ini dikelola untuk menghasilkan ethylin 800.000 ton 
per tahun, monoethylin glikol (750.000), butandin (155.000 ton), propylin 
(450.000), dan benzene (230.000). 
”Kami membeli minyak mentah dari pasar internasional untuk memasok kebutuhan 
kompleks petrokimia ini,” kata Voser saat ditanya apakah ada minyak mentah yang 
didatangkan dari Indonesia. 
”Kompleks petrokimia ini untuk memantapkan peran utama Shell dalam bisnis ini 
di Asia Pasifik dan juga dunia,” ujar dia. 
Peresmian kompleks petrokimia milik Shell bernilai miliaran dollar AS ini 
dilakukan oleh PM Singapura Lee Hsien Loong. Shell sudah hadir di Singapura 
sejak hampir 120 tahun lalu. (Pieter P Gero dari Singapura)








      

Kirim email ke