Pak Aby,

Trims tanggapannya. Simple saja pikiran saya Pak. Kalau newtowns tidak dibahas, 
kan  peta kota besar kita bolong-bolong. Kalau kawasan industri, CBD 
diexcludekan, lebih bolong lagi.

Kedua, realistis saja. Kalau saya punya anak sekolah di PWK, mau kerja, akan 
saya tanya: senang design/engineering atau urban policy?
Kalau senang design/ engineering, urban design, ya saya sarankan kerja di 
developer, yang betul-betul memanfaatkan jasa engineering, CAD dst.

Kalau suka policy studies, aspek komprehensif, regulasi, advokasi, ya saya 
anjurkan kerja di instansi pemerintah, yang fungsinya regulator.

Jangan dibalik, karena nanti kecewa. Itu soal pilihan saja. Sedang soal mana 
yang lebih mulia, semua profesi kan punya etika, yang umum atau yang khusus. 
Yang penting mematuhi etika itu.

Salam,
Risfan Munir


 






-----Original Message-----
From: Risfan M <[email protected]>
Sent: Friday, May 07, 2010 8:28 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Re: (7) PWK/ Planologi Sbg Enjinering Penataan dan 
Pembentukan Ruang

 
Rekans ysh,
 
Banyak toh kota (newtown) yang dibuat sawasta dan masyarakat, baik yang sejak 
awal disebut "kota", maupun kumpulan pembangunan perumahan, terencana atau 
spontan, yang jadi kota. Mengapa kok kelihatannya wacananya dibatasi "kota yang 
dibuat oleh pemerintah" (yang notabene sejak merdeka baru Depok).
 
Salam,
Risfan Munir
Blog: Ekonomi Kota dan Tanah Perkotaan
 
 
 


--- On Thu, 5/6/10, [email protected] <[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: (7) PWK/ Planologi Sbg Enjinering Penataan dan 
Pembentukan Ruang
To: [email protected]
Date: Thursday, May 6, 2010, 7:35 PM

  
Boleh2 aja, tapi bangun Tigaraksa ibukota Kab. Tangerang susah ya! 
Powered by Telkomsel BlackBerry®
From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com>
Date: Fri, 7 May 2010 07:22:40 +0700
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Subject: Re: [referensi] Re: (7) PWK/ Planologi Sbg Enjinering Penataan dan 
Pembentukan Ruang

  
Eyang Aby ysh,

dengan adanya jembatan Suramadu, belakangan ini ada pertanyaan spekulatif:

"Bagaimana kalau metropolitan / kota besar / ibukota baru Indonesia 
dikembangkan di tepi laut dalam di ujung Timur Pulau Madura ?"

Apa tanggapan eyang....? Selamat bermain teori....
(Mungkin akan lahir tanggapan analitis kritis positif yang bermanfaat berkaitan 
dengan perhatian rekans penggemar keruangan di referensi)

Salam,
ATA


2010/5/6 hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
  
Milisters ysh,
Bhw sbg suatu jenis macam teknologi,  PWK selain dpt menjadi norma tata ruang 
dan regulator serta  menjadi undang2 atau peraturan  ...namun  jangan lupa 
….iapun dpt menjadi produk2  konkrit yg berguna dan mendukung kesejahteraan 
manusia ..........
Karenanya PWK memang seharusnya dapat pula memaparkan rentang variasi produk2 
(konkrit) teknologinya itu .......dimana masing2 dpt dgn jelas ditunjukkan apa 
manfaatnya dan kapan serta dimana  ia perlu dipakai..... .... 
Untuk itu tentu baik diketahui  danpada sisi lain ia perlu diinventori 
........apa saja semua masalah keruangan nasional kita itu ......dan perlu 
diketahui kurang lebih apa obatnya bagi masing2 kasusnya itu........
Masalah keruangan tidaklah sekedar penyakit  kasus perkasus  spt penyakit 
kedokteran  atau penyaklit gangguan mesin....... .atau sebaliknya ……masalah 
keruangan dpt dikatakan tak kalah rumit dgn masalah kedokteran atau 
kesehatan….. .
Selain masalah2 yg bersifat amat lokal …..  Ia bisa juga merupakan masalah  
regional yg lbh luas ……atau bahkan  masalah secara nasional  yg jelas lbh luas 
lagi  (bahkan masalah rencana terusan Kra di Thailand  bisa memiliki dampak 
internasional) .......sehingga pemecahan masalah2 keruangan tentu saja bisa 
dilakukan baik  secara  kasus per kasus  ....namun juga tak aneh pula bila  ia 
perlu diselesaikan pada tingkat  nasional.... ......
Bhw  sbg contoh …teknologi mesin penggerak dpt  menyajikan  produk2 wide range  
secara konkrit spt mesin2 penggerak berkekuatan sejak dari ¼  PK sampai ribuan 
PK …….atau teknik sipil dpt menyajikan produk konkrit berupa balok beton dengan 
bentang dari 1 meter sampai 1500meter misalnya ……dan itu menimbulkan pengakuan 
publik tentang manfaatnya yg strategis dan nyata …….mengapa PWK tak berbuat 
serupa .....dan hanya merasa puas dgn produk2 ‘abstrak‘ (pinjam istilahnya mas 
Marco Kusumawijaya)  dan pasif spt site plan atau peraturan zonasi saja?....... 
.padahal kita mengerti  bhw 85% wilayah kita dpt dikatakan ‘tertinggal’  dan 
paradigma penataan ruangnya bukanlah ‘pengendalian’ …..namun adalah  
‘penggalakan’ …..…
 Bgmnpun produk konkrit dari PWK tak lain tak bukan adalah  (pengembangan) 
‘kota’2…….ialah ‘trilogi’  atau 3-in-1 dari  (1) tapak/ ruang ….(2) manusia 
…dan (3) aktivitasnya …. dan wilayah tertinggal butuh produk keruangan konkrit 
berupa kota2 …lbh daripada sekedar produk normatip pasip  berupa peraturan 
zonasi dan siteplan/ RDTR …..…. salam, 
aby  
 
On 23 March 2010 aby wrote :
Re: (6) PWK/ Planologi Sbg Enjinering Penataan dan Pembentukan Ruang 
 
Milisters ysh,
Walau  pd posting sblm ini saya katakan bhw utk kawasan tertinggal (85% wilayah 
nasional) diperlukan enjinering utk pembentukan bbrp kota2 besar tertentu 
(...berbarengan dgn enjinering migrasi/ memindahkan SDM unggulan ...serta jg 
enjinering penyemaian  pecahan2 kecil industri2 memimpin/ enjinering 
trans-investasi. ....) .... tdk berarti bhw itu adlh satu2nya agenda penting 
tata  ruang pembentukan kota di kawasn tertinggal.. ......
Sbgmn pd umumnya enjinering adalah  ilmu logik, bukan ilmu kebatinan/ ilmu 
sihir dan setiap orang dpt mempelajarinya scr transparan, dan ia memiliki ciri 
khas  transparansi mekanisme kerjanya  .... transparansi perkembangan 
teknologinya ....transparansi persentase keberhasilan/  kegagalannya ataupun 
apa bahayanya  (spt dlm penerbangan konon resiko kecelakaan adalah 1:1.000.000 
penerbangan) ........ maka  sewajarnya pulalah bhw PWKpun hrs mampu menunjukkan 
ancer2 ttg ‘berapa lama’ wktu yg dibutuhkan oleh suatu  macam teknologi PWK  
itu bekerja dan efek/ manfaatnya yg pertama mulai muncul serta  dpt dirasakan 
(sbg contoh ... dlm teknologi farmasi/ obat2an ....tingkat kecanggihan suatu 
macam obat termasuk jg dinilai dr berapa  menit sejak ia mulai masuk kedlm 
tubuh baik secara oral/  intravena lalu  diserap oleh darah dan mulai bekerja 
menunjukkan hasilnya ........jg dlm teknologi komputer ......daya kerjanyapun  
utk menilai apakah ia cepat atau lamban bahkan diukur  dlm persekian detik 
.......atau dlm teknologi otomotif  kemampuan gerak dinilai spt  dari keadaan 
diam utk mencapai kecepatan 100km/jam  diperlukan waktu brp detik dsb)........ 
...
PWK sbgmana merupakan  bagian dari rumpun sains  ‘teknologi’ (dibidang  
keruangan)  ...iapun seharusnya  berani dgn pedenya dan menganggapnya wajar 
memamerkan kepastian hasil nyata daya kerjanya ........ Enjinering PWK utk 
kawasan tertinggal amat perlu mendemonstrasikan bgmn tak hanya merencana 
penataan  ruang kota saja (yg belakangan banyak mulai dicibir sbg kok hanya 
merencana penataannya saja ....lalu tak jelas bgmn dn kapan pembentukan 
kotanya, serta kapan dpt dirasakan manfaatnya ) .......iapun  tentu dituntut  
hrs dpt mendemonstrasikan  bgmn teknologinyapun itupun  dpt bekerja  dgn pasti  
membentuk perkembangan kota ...... dan mampu pula menunjukkan berapa cepat ia 
dpt menunjukkan hasilnya itu  mulai come into effect dan dpt dirasakan 
manfaatnya diihitung semenjak pertama teknologi  itu  diterapkan ........  
Tak berlebihan pula bila  PWK seharusnyapun dpt memamerkan pula ‘apa saja’  
rentang papar produk teknologi keruangan yg dpt dibuatnya .......tak ubahnya 
tukang las listrik jg  kalau ditanya apa yg dapat ia bikin ..... mereka   dgn 
lancar biasanya dpt katakan bhw mereka dpt membuat apa saja pekerjaan las 
.....sejak dari  mulai   tingkat  membikin kandang burung, kucing dan kelinci 
....pagar rumah , ranjang besi  sampai kepada membuat karoseri bak truk, mobil 
panser ataupun kapal tanker raksasa  ..........lalu dgn itu manusia tanpa ragu 
mulai ‘mengakui’ bhw teknologi mengelas memang ya benar amat strategis dan 
bermanfaat bagi kehidupan/ kesejahteraan manusia .......... 
Maka  begitu pulalah seharusnya dgn teknologi2 lainnya .....spt teknologi sipil 
dpt membuat gedung pencakar langit dan jembatan.... ... teknologi arsitektur 
dpt membuat hati bangga, rasa megah dan nikmat serta  betah, teknologi gigi 
palsu dpt mengatasi masalah gusi ompong  dan tentulah pd gilirannya  PWK juga 
harus  dpt menunjukkan  ........nih, suatu ruang yg bgmnpun tadinya asal 
muasalnya ... dimanapun ...toh  ia dpt  dibentuk/ diolah  menjadi  ruang yg 
nyaman, indah, dpt mendukung produktivitas dan menciptakan kesempatan kerja  
......dpt menjadi habitat  manusia yg menyenangkan dan  tanpa merusak alam 
..........salam,
aby


Kirim email ke