Pak Fajar dan pak Syarif, 

Dalam pengembangan kemitraan klaster UKM yang saya fasilitasi memang selalu 
berusaha melibatkan SMK dan lembaga pendidikan lainya. Karena SMK (teknik ex 
STM) biasanya punya alat bantuan German, Spanyol, Jepang yang cukup bagus.

Tapi pelaksanaan kemitraan lokal itu tak harus menggiring anak pengrajjin 
sekolah. Para pengrajin bisa dihadirkan ke sekolah, dan anak sekolah bisa 
praktik di lingkungan kerja pengrajin. Malah kalau perlu anak(anak pengrajin 
yang pandai bekerja, dengan ditambahi pelajaran tertentu bisa diikutkan Paket 
C. Jadi mereka bisa ikut ujian "penyetaraan" tanpa berlama-lama meninggalkan 
tempat kerja.

Kedua, soal "identitas lokal" dan daya saing atau daya jual, kita perlu 
melihatnya dengan cermat. "Identitas lokal", kebanggaan budaya, bisa lain 
dengan "apa yang dicari pembeli".

Kasus yang dikisahkan Pak Syarif saya temui di banyak tempat, termasuk Jepara. 
Kita umumnya melihat keunggulan Jepara adalah di "seni ukir" khas Jepara yang 
terkenal itu. Tapi kenyataan penjualan terbesar dan yang mayoritas dikerjakan 
pengrajin di sana adalah "desain bawaan pembeli". Jadi pengrajin disana 
keterampilan perkayuannya dipakai untuk menggarap desain pesanan.

Pertanyaannya, Anda mau membantu perekonomian mereka, atau menyuruh mereka jadi 
pelestari potensi budaya? Yang jelas kompetensi mereka pada "keterampilan 
membuat" mebel, ukir asli atau pesanan. 

Yang dikemukakan Pak Fajar sudah terjadi Pak. Di klaster-klaster itu beberapa 
anak muda biasa membantu usaha orang tuanya/ tetangganya untuk komunikasi 
dengan buyer dari banyak negara, soal kesepakatan desain.
Kadang buyer hanya kirim sket kasar, lalu mereka gambar yang baik, atau buat 
sampel, dipotret, dikirim untuk dapat kesepakatan.

Klaster-klaster UKM dengan kemitraan dan fasilitasi BDS networks sudah jalan. 
Sekolah kejuruan di Solo (lagi-lagi prakarsa Walikota pak Jokowi) di link ke 
ATM yang jadi cikal Technopark Solo, ada dukungan dari Swiss-German, dan 
Ristek/ BPPT yang menjadikannya sebagai salah satu hub bagi simpul-simpul 
diseminasi teknologi (saya lupa namanya), tapi networknya internasional.

Kesimpulan: kegiatan ekonomi lokal sesungguhnya menggeliat terus. Tapi kuncinya 
kalau mau bantu, apresiasi upaya dan keberhasilan mereka. Jangan bawa konsep 
ttt yang rigid, yang kemudian melihat upaya mereka sebagai "kesalahan".

Salam,
Risfan Munir







-----Original Message-----
From: [email protected]
Sent: Monday, May 17, 2010 3:49 PM
To: [email protected]
Subject: Re : Bls: [referensi] Penilaian orang Singapura terhadap Indonesia

 
Mas Sarif dan sahabats referensiers ysh,
 
Memang ada pendapat yang mengatakan bahwa untuk survive dalam tantangan era 
global, salah satunya, adalah mampu menemukenali peluang dan potensi kontribusi 
spesifik dari setiap daerah kepada permintaan global. Salah satu pendekatan 
untuk menemukan peluang kontribusi spesifik tersebut adalah melalui pemuliaan 
sumber daya lokal, terutama apabila sumber daya lokal tersebut bersifat 
(relatif) endemik...
 
Namun, sebenarnya hal yang saya sampaikan untuk juga melakukan pengembangan 
pendidikan berbasis lokal ini tidak terlalu berorientasi kepada "survival 
strategy" dalam menghadapi tantangan globalisasi. Ajakan saya tersebut lebih 
didorong oleh pemikiran pemberdayaan/penguatan kapasitas masyarakat setempat 
dalam aktivitas perekonomian wilayah melalui pendekatan pendidikan. Artinya 
pendidikan yang berbasis lokal ini tidak harus berkaitan dengan sekolah 
kejuruan yang berbasis pada sumberdaya lokal, tapi proses pendidikan yang harus 
mampu mengkaitkan diri kepada aktivitas dari sebagian besar masyarakat di 
wilayah tsb. Sebagai suatu contoh dari apa yang pernah saya dengar di kelas 
tentang "learning region" di Australia, beberapa sekolah setingkat SMA di suatu 
kawasan pedesaan di Southeast Queensland di Australia "memperkenalkan" 
keberadaan website tentang informasi pasar komoditas pertanian Asutralia di 
kelas ekonomi dengan memberikan informasi web tsb ketika memberikan tugas 
"perencanaan proyek perencanaan proyek". Dengan menggunakan data dan informasi 
riil yang diperoleh dari web-web tersebut, para siswa diminta untuk menentukan 
komoditas pertanian yang akan mereka tanam untuk dalam musim tanam berikutnya 
apabila mereka memiliki sepenggal lahan pertanian. Bahan input apa saja, benih, 
peralatan hingga traktor yang harus disediakan atau disewa, berapa biaya yang 
diperlukan hingga bagaimana peluang pasar dan berapa potensi keuntungan yang 
diperoleh, semuanya diperhitungkan melalui data dan informasi yang diperoleh 
dari wab-wab tsb.. Hal ini dilakukan di kelas ekonomi di SMA..., bukan di suatu 
sekolah /SMA khusus pertanian... Ini adalah suatu contoh kecil dari pendidikan 
yang berbasis lokal. Ketika pendidikan tersebut dilakukan di suatu wilayah 
pertanian, proses belajarnya dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang mereka 
temui sehari-hari...
 
Sekali lagi, mungkin, pemikiran ini dipengaruhi oleh salah satu bacaan wajib 
ketika saya beraktivitas di PSIK-ITB dulu, yang berjudul kalo ngak salah 
"Pendidikan Pangkal Pembebasan", sebuah karya terjemahan dari seorang 
pedagogist Amerika Latin, Paulo Freire yang berjudul kalo ngak salah "Pedagogy 
of the Oppressed".. Sebetulnya isinya bagaimana, saya sudah ngak terlalu ingat, 
tapi judul terjemahan yang agitatif masih menancap di kepala hingga saat ini... 
Jadi ya itu, saya percaya bahwa pendidikan itu punya peluang dan potensi 
pendobrak kebuntuan dan/atau ketidak-berkembangan sepanjang proses pendidikan 
tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan dari mereka yang 
dididik. Dan salah satu proses pendidikan yang cukup efektif adalah proses 
pendidikan formal yang terstruktur di dalam suatu sistem pendidikan tertentu. 
Dalam hal ini, saya melihat potensi suatu sistem dan proses pendidikan untuk 
mampu membentuk suatu kelompok masyarakat sehingga mereka lebih siap untuk 
turut berkontribusi positif ke dalam kehidupan bermasyarakat baik secara sosial 
maupun secara ekonomi.
 
Namun, saya juga pernah menemui hal yang Mas Sarif temui, yaitu suatu penolakan 
dari kelompok masyarakat terhadap pendidikan vokasional yang berkaitan dengan 
aktivitas keterampilan popular yang ada di daerah itu. Hal ini kemudian pernah 
juga didiskusikan di kelas saya, yaitu pada kelas yang mahasiswanya berasal 
dari guru dan aparatur dinas pendidikan kabupaten kota. Kebetulan contoh yang 
dibahas juga tentang SMK Ukir, karena banyak jenis SMK lain seperti SMK 
otomotif atau SMK komputer tidak mengalami persoalan kekurangan siswa.
 
Terus terang saya tidak terlalu banyak mengetahui tentang hal ini. Tetapi 
berdasarkan hasil diskusi tersebut, terdapat beberapa catatan kecil yang 
mungkin bermanfaat untuk saya sampaikan. Hal pertama, dan yang mendasar, adalah 
masih berkembangnya asumsi dan ketidak-percayaan di dalam masyarakat kita 
terhadap kemampuan pendidikan vokasional dalam meningkatkan keterampilan hidup. 
Diperkirakan hal ini terjadi karena materi pembelajaran yang diselenggarakan di 
sekolah masih "terfokus" pada bagaimana cara mengukir.. Namun, beberapa hal 
lain yang mungkin juga sangat berkaitan dengan produksi ukiran dan 
penyelenggaraan bisnis ukiran, seperti pengetahuan tentang kayu, sifat dan 
karakteristiknya, pengetahuan tentang desain, serta pengetahuan tentang pasar 
dan pemasaran produk ukiran, belum tersosialisasi menjadi salah satu mata ajar 
di dalam SMK Ukir tsb.. Akibatnya, masyarakat beranggapan bahwa SMK Ukir hanya 
ditujukan untuk orang yang ingin menjadi tukang ukir, bukan orang yang bergiat 
di dalam produksi dan bisnis ukiran..
 
Mungkin sekian dulu respon dari saya. Terima kasih saya sampaikan....
 
Salam,
 
Fadjar


--- En date de : Ven 14.5.10, Sariffuddin <[email protected]> a écrit :

De: Sariffuddin <[email protected]>
Objet: Bls: [referensi] Penilaian orang Singapura terhadap Indonesia
À: [email protected]
Date: Vendredi 14 mai 2010, 11h27

  
Dear Pak Fadjar & Rekans ysh

Ulasan Pak Fadjar terutama pengembangan pendidikan berbasis lokal mengingatkan 
saya pada pidato Prof. Eko saat saya di wisuda. Kalimat yang masih 'menancap' 
di otak saya kurang lebih "Kita harus mengglobal dengan semangat regional 
berbasis sumberdaya lokal. Sumberdaya lokal itu mencakup sumberdaya manusia, 
alam, budaya, teknologi, dan finansial." 

Namun saya memiliki beberapa catatan kecil saat saya 'jalan-jalan' ke Desa 
Serenan, Klaten. Desa ini terkenal dengan kerajinan meubel dan ukir. Potensi 
lokal ini terancam gulung tikar. Beberapa persoalan mendasar sepertinya diminat 
masyarakat Pak. Sebagai contoh di sekitar Serenan ada STM Kriya dimana salah 
satu jurusannya adalah ukir dan meubel, namun siswanya tidak lebih dari 15 
orang dan murid dari serenan sendiri cuma ada 1 orang. Padahal,  kurikulumnya 
'berjiwa lokal' karena jenis-jenis ukir yang ditawarkan bernuansa khas kraton 
solo.

Setelah kami coba telusuri ke warga ternyata mereka beranggapan "kenapa kita 
harus memasukkan anak-anak kami ke sekolah ukir & meubel, kita saja setiap hari 
sudah mempraktekkannya" , logis juga saya pikir jawaban tersebut. Kemudian kami 
mencoba bertemu pengelola koperasi mencoba menggali permasalahan 'terancam 
gulung tikarnya' usaha warga. Pengelola koperasi sekaligus kepala desa ini 
menyodorkan sebuah dokumen hasil penelitian dari JICA. Singkatnya, beberapa 
rekomendasi penelitian JICA tersebut adalah (1) meningkatkan kualitas meubel 
terutama pada proses oven agar daya tahannya lebih baik, (2) Membuat ciri ukir 
dan meubel sendiri yang khas dan mencerminkan Serenan atau Solo. Dua 
rekomendasi itu dirasa cukup berat jika diterapkan, kenapa? Karena usaha 
kerajinan di Serenan bersifat demand side, kalau ada pesanan baru mereka 
membuatnya. Begitupula dengan teknik oven-nya, jika sesuai dengan rekomendasi 
JICA bisa proses oven dilakukan lebih dari 6 kali proses dan memakan waktu 
lebih dari 1 bulan.  Otomatis desain dan bahannya tergantung permintaan buyer. 
Persoalan itu yang menyebabkan hilangnya 'ciri khas' lokal meubel serenan yaitu 
(1) minat warga dan (2) ekonomi global. 

Semoga masih nyambung.

Salam
Sariff


Dari: "efha_mardiansjah@ yahoo.com" <efha_mardiansjah@ yahoo.com>
Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
Terkirim: Kam, 13 Mei, 2010 19:25:29
Judul: Re: [referensi] Penilaian orang Singapura terhadap Indonesia

  
Pak Risfan ysh,   Daripada mengkampanyekan "A Year Without Made in China" yang 
saya yakin susah banget untuk mencapai tingkatan nasional, lebih baik kita 
kampanyekan penguatan supply-chain production planning yang Pak Risfan pernah 
sampaikan sebelumnya, serta pengembangan pendidikan berbasis lokal dan 
pengembangan infrastruktur dasar plus energi, informasi, transportasi dan 
telekomunikasi dalam perencanaan pembangunan di setiap wilayah kita. 
Harapannya, pengembangan hal-hal itu bisa lebih meningkatkan indeks pengolahan 
dari keragaman sumber daya alam yang ada sehingga bisa lebih meningkatkan 
aktivitas ekonomi...   Sementara itu, pentingnya pengembangan pendidikan 
berbasis lokal akan lebih meningkatkan peluang pengolahan secara lokal, serta 
tingkat partisipasi masyarakat lokal dalam industri pengolahan tsb.. Dalam 
pandangan saya, upaya-upaya seperti ini merupakan penguatan keterkaitan 
pertumbuhan dan pemerataan. 
Salam,  
Fadjar   
--- En date de : Jeu 13.5.10,
Risfan M a écrit :
De: Risfan M Objet:
Re: [referensi] Penilaian orang Singapura terhadap Indonesia
À: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Jeudi 13 mai 2010, 18h34  

Mr. Ukon n rekans ysh,   Setuju banget. Kalau kita proyeksikan ke soal belanja 
produksi nasional, pemberdayaan UKM. Mulai dari yang kecil saja, belanjaan 
sehari-hari, perlengkapan yang melekat. Kalau mikir dari yang besar jadinya 
"menuntut orang lain, pemerintah, dst". Saya baru-baru ini baca buku "A Year 
Without Made in China", yang ditulis Sara Bongiorni. Dia dan keluarga kecilnya 
(di USA) mencoba hidup tanpa mengonsumsi produk impor tsb. Susahnya setengah 
mati, karena sampai produk perlengkapan keagamaan pun yang memenuhi pasar 
produk dari sana. Yang sulit, terutama soal "harga murah" nya.    
Langkah-langkah kecil mungkin ada artinya. Kalau sandal untuk di rumah saja kan 
tak harus impor. Kalau "berdikari" kelihatannya terlalu ambisius, paling tidak 
mengurangilah, yang perlu-perlu saja. Sekarang ini masak apem, donat, cenil, 
kripik, kerak, cireng harus merk franchise dari luar. Saya tidak tahu 
resto-resto melayu yang mulai banyak itu dari negeri jiran atau lokal. Padahal 
kita semua tahu, bangkitnya Jepang karena fanatik "konsumsi produk sendiri".   
Negara sulit menolak globalisasi, karena resiprositas kita butuh ekspor, tapi 
pribadi dan keluarga kan bisa, paling tidak dalam batas "kalau terpaksa saja". 
Small steps ....   Salam, Risfan Munir     --- On Thu, 5/13/10, ukonisme wrote: 
From: ukonisme Subject: [referensi] Penilaian orang Singapura terhadap 
Indonesia To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Thursday, May 13, 2010, 5:36 AM 
Dari cerita seorang teman: Suatu pagi, kami menjemput seseorg klien di bandara. 
Org itu sdh tua, kisaran 60 thn. Si Bpk adl pengusaha asal Singapura, dgn logat 
bicara gaya melayu   english, beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kpd kami 
yg msh muda. Beliau berkata, "Ur country is so rich!" Ah biasa banget denger 
kata2 itu! Tapi tunggu dulu... "Indonesia doesn't need the world, but the world 
needs Indonesia," lanjutnya. "Everything can be found here in Indonesia, U 
don't need the world." "Mudah saja, Indonesia paru2 dunia. Tebang saja hutan di 
kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yg butuh Indonesia! Singapura is nothing, 
we can't be rich without Indonesia.. 500.000 org Indonesia berlibur ke 
Singapura tiap bulan.. Bisa terbayang uang yg masuk ke kami, apartemen2 terbaru 
kami yg beli org2 Indonesia, ga peduli harga selangit, laku keras. Lihatlah RS 
kami, org Indonesia semua yg berobat. Trus, kalian tau bgmna kalapnya 
pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya, bener2 panik. Sangat 
terasa, we are nothing. Kalian tau kan kalo Agustus kmrn dunia krisis beras. 
Termasuk di Singapura dan Malaysia? Kalian di Indonesia dgn mudah dpt beras.. 
Liatlah negara kalian, air bersih di mana2, liatlah negara kami, air bersih pun 
kami beli dari Malaysia. Saya ke Kalimantan pun dlm rangka bisnis, krn pasirnya 
mengandung permata. Terliat glitter kalo ada matahari bersinar. Penambang jual 
cuma Rp 3.000/kg ke pabrik china, si pabrik jual kembali seharga Rp 30.000/kg. 
Saya liat ini sbg peluang.. Kalian sadar tidak kalo negara2 lain selalu takut 
meng-embargo Indonesia?! Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka 
takut kalau kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. Harusnya 
KALIANLAH YG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah pangan dari petani2 kita 
sendiri, belilah tekstil garmen dari pabrik2 sendiri.. Tak perlu impor klo bisa 
produk sendiri. Jika kalian bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, 
INDONESIA WILL RULES THE WORLD!!!" Powered by Telkomsel BlackBerry® 
------------ --------- --------- ------ Komunitas Referensi http://groups. 
yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups Links 

Kirim email ke