DARI MILIS TETANGGA.

________________________________
From: Srisetiowati Seiful <[email protected]>
To: Mailing List Al Izhar Pd Labu <[email protected]>; Mailing List 
Aliz-Forum <[email protected]>
Sent: Fri, May 21, 2010 12:50:55 AM
Subject: [Aliz-Forum] Orasi GM saat perpisahan dengan Sri Mulyani

  
Teman-temin,

Setelah "kuliah" atau "cerita" dari Sri Mulyani, berikut adalah orasi Goenawan 
Mohamad di acara perpisahan dengan Sri Mulyani.

Selamat menyimak,
Salam,
Sri




----- Original Message ----- 
From: Sarkoro 
Sent: Thursday, May 20, 2010 8:18 PM  




MENCOBA BERPISAH DARI SRI 
MULYANI



Goenawan Mohamad, pada acara perpisahan 
dengan Sri Mulyani, Jakarta, 19 Mei 2010.




Malam ini kita mencoba berpisah dari Sri Mulyani. 

Saya katakan “mencoba”. Sebab sering kali, dan terutama malam ini, kita 
menyadari: orang bisa hanya sebentar mengucapkan “hallo”, tapi tak pernah bisa 
cuma sebentar mengucapkan “selamat berpisah”.

Mungkin karena kita tak tahu apa sebenarnya arti “berpisah”. 

Terutama dalam hal Sri Mulyani. Kita mengerti, ia akan pergi ke 
Washington DC untuk sebuah jabatan baru di Bank Dunia; tapi itu tak berarti ia 
akan berpisah dari kita di tanah air. Tentu saja ia akan sibuk di sana, 
sebagaimana kita akan sibuk di sini. Tapi kita bisa yakin ia akan tak 
putus-putusnya memikirkan kita – bukan “kita” sebagai teman-temannya, tapi 
“kita” sebagai bagian dari “Indonesia.” Dan begitu pula sebaliknya: kita tak 
akan bisa melupakan dia. 

Lagipula, “berpisah” mengandung kesedihan, sementara peristiwa ini tak 
seluruhnya sebuah kesedihan. Saya melihat Sri Mulyani menerima jabatannya yang 
baru ini dengan gembira. Mungkin lega. Satu hal yang bisa 
dimaklumi.

Sebab sejak Oktober 2009, ia sudah jadi sasaran tembak. Berbulan-bulan ia 
jadi target dari premanisme politik . Yang saya maksud dengan “premanisme” di 
sini tak jauh berbeda dengan kebrutalan yang kita saksikan di jalan-jalan – 
sebuah metode yang dipakai oleh sebuah kekuatan untuk menguasai satu posisi. 

Metode premanisme itu adalah metode tiga jurus, dalam tiga fase. 

Mula-mula gangguan terus menerus, yang makin lama makin meningkat. 
Mula-mula ancaman yang membayang dari gangguan itu. Fase berikutnya adalah 
sebuah tawaran untuk “berdamai” kepada pihak yang diganggu. Dan akhirnya, pada 
fase yang ketiga, tatkala pihak yang diganggu tak tahan lagi, akan ada imbalan 
yang dibayarkan agar gangguan itu berhenti. Juga akan ada janji bahwa pihak 
yang 
diganggu akan selanjutnya diproteksi. 

Sudah tentu, antara sang penganggu dan sang protektor (yang kadang-kadang 
bersikap santun) ada kerja sama. Bahkan bukan mustahil sang protektor itulah 
yang menggerakkan para penggangu. Makin sengit gangguannya, makin besar yang 
dipertaruhkan – dan akan makin besar pula imbalan yang diminta dan didapat. 

Bila premanisme di jalanan akan menghasilkan imbalan uang atau protection 
money, imbalan dalam premanisme politik adalah naiknya posisi 
kekuasaan.

Demikianlah yang terjadi dengan kasus Bank Century. Imbalan yang harus 
diserahkan adalah mundurnya Sri Mulyani dari jabatan Menteri Keuangan. Segala 
cara dipakai, segala daya dibayar. Politisi Senayan tak henti-hentinya 
membentak 
dan menggedor-gedor. Melalui media yang dikuasai dengan baik, kampanye anti Sri 
Mulyani (dan Boediono) digencarkan. Demonstrasi- demonstrasi yang brisik dan 
agresif muncul. Sri Mulyani diboikot di sidang DPR, meskipun ia oleh pimpinan 
DPR diundang dengan resmi sebagai Menteri Keuangan. Boediono dikesankan akan 
dimakzulkan dari posisinya sebagai wakil presiden.

Akhirnya semua kita tahu: Sri Mulyani dipaksa berubah dari sebuah asset menjadi 
sebuah liability bagi Pemerintahan SBY. Ia tidak 
bisa bertahan lagi. Ia tidak dipertahankan lagi oleh Presiden, yang barangkali 
merasa bahwa pemerintahannya akan habis enersi karena direcoki terus menerus. 

Akhirnya semua kita tahu, hanya beberapa jam setelah Sri Mulyani 
dinyatakan turun dari jabatannya, konstelasi politik berubah. Akhirnya semua 
kita tahu, apa dan siapa yang mendapatkan kekuasaan yang lebih besar setelah 
itu. Dan akirnya kita menyaksikan, pengrecokan dan kebrisikan yang berlangsung 
berbulan-bulan itu dengan segera berhenti. Medan politik sepi kembali. 
Stabilitas tampak terjamin. Presiden lega. 

Saya kira, Sri Mulyani juga lega: kini ia terbebas dari posisi sebagai 
bulan-bulanan kampanye buruk. Seperti sudah saya katakan di atas, kita semua 
maklum jika ia merasa lega. Kita semua merasa ikut senang karena dua hal: 
pertama, kini ia mendapatkan “masa libur” dari sebuah pekerjaan berat -- beban 
yang makin lama makin terasa seperti dipanggulnya sendirian. Kedua, karena ia 
meninggalkan jabatannya dengan tak meninggalkan cacat. Bahkan, seperti 
diucapkannya dalam kuliah umumnya tadi malam, ia merasa menang, dan ia 
berhasil. 
Ia merasa menang dan berhasil karena ia tetap “tak bisa didikte” hingga 
meninggalkan prinsip hidupnya, hati nuraninya, dan kehormatan 
dirinya.

Dalam hal itu, perpisahan malam ini merupakan penglepasan yang rela dan 
senang hati untuk seseorang yang kita sayangi.

Tapi saya akan berbohong jika mengatakan, perpisahan ini bebas dari rasa 
risau. 

Kita risau bukan karena Sri Mulyani turun; kita risau karena merasakan 
bahwa sebuah harapan telah jadi oleng, terguncang -- harapan untuk mempunyai 
Indonesia yang lebih bersih. Kita risau karena kita jadi ragu, masih mungkinkah 
tumbuhnya kehidupan politik yang adil dan tak curang di tanah air kita. 

Mampukah kita membebaskan diri dari premanisme politik? Bisakah berkurang 
kekuatan uang di parlemen, hukum dan media dalam demokrasi kita? Sanggupkah 
kita 
membersihkan kehidupan bernegara kita dari jual-beli dukungan, jual-beli 
kedudukan, jual-beli keputusan – bagian yang paling gawat dalam koreng besar 
yang bernama “korupsi” itu?

Pemerintahan SBY-Boediono punya janji yang seharusnya dianggap suci – 
yakni membangun sebuah pemerintahan yang bersih, melalui reformasi birokrasi, 
melalui pembrantasan korupsi. Semula kita punya keyakinan besar, janji itu akan 
jadi sikap yang teguh, dan sikap itu akan jadi program, dan program itu 
konsisten dijalankan. Tapi kini saya tak bisa mengatakan bahwa keyakinan itu 
masih sekuat dulu. 

Tentu saja kita masih bisa percaya, pemerintah ini tetap ingin 
melanjutkan usaha ke arah Indonesia yang bebas dari korupsi; namun 
persoalannya, 
masih mampukah dia?

Tak perlu diulangi panjang-lebar lagi, Sri Mulyani dengan berani dan 
bersungguh-sungguh memulai reformasi birokrasi di tempatnya bekerja. Selama 
bertahun-tahun, kementerian keuangan – terutama di bagian pajak dan bea cukai 
-- 
jadi tempat yang sangat korup. Dalam sejarah Indonesia, mungkin baru Sri 
Mulyani-lah menteri keuangan yang dengan tangguh mencoba membersihkan aparatnya 
– sebuah langkah awal dari sebuah kerja yang panjang, yang mungkin baru akan 
selesai satu dua generasi lagi.

Tapi kini pemerintahan SBY-Boediono telah kehilangan menteri keuangan 
yang tangguh itu.

Tentu saja Sri Mulyani bisa digantikan. Tak seorang pun seharusnya 
dianggap indespensable. Pengganti Sri Mulyani tidak dengan sendirinya 
seorang yang lemah. 

Tetapi beban jadi bertambah berat. Untuk membuat rakyat kembali yakin 
bahwa pemerintah ini masih ingin membangun sebuah republik yang bersih, 
Presiden 
SBY harus melipat-gandakan ikhtiar. Pemerintahan ini akan kehilangan 
kepercayaan 
rakyat jika ia tak mampu mengusahakan, dengan serius, paling sedikit lima hal: 

Pertama, lahirnya sebuah KPK yang kuat, bersih, dan mandiri. Kedua, 
berfungsinya Tim Anti-Mafia Pengadilan yang efektif. Ketiga, tumbuhnya 
kepercayaan masyarakat kepada aparat perpajakan dan bea cukai. Keempat, mulai 
bersihnya kepolisian, kejaksaan dan kehakiman. Kelima, berlakunya legislasi 
yang 
tidak kompromistis terhadap korupsi.

Tapi mungkinkah kelima hal itu dapat terlaksana sekarang? 


Kini politisi Senayan semakin merasa kuat dan semakin angkuh; mereka 
telah berhasil membuat Presiden berkompromi dan menyudutkan Sri Mulyani hingga 
jadi beban politik bagi Pemerintah. Pada saat yang sama kita lihat juga 
bagaimana politisi Senayan -- terutama para pencari dan penadah suap -- mencoba 
membuat KPK lemah dan Tim Anti-Mafia Pengadilan tak bergigi. Premanisme politik 
yang menang memang tidak mudah dijinakkan. 

Pada saat yang sama kita pun layak ragu, bisakah kabinet menjalankan 
kebijakan yang merugikan kepentingan bisnis – ketika, Abu Rizal Bakrie, tokoh 
bisnis, politik dan penguasa media itu, berada dalam posisi yang sangat kuat di 
dekat kabinet dan DPR sekaligus. 

Kita juga patut waswas, bahwa parang yang akan membabat korupsi akan 
tumpul, jika tampak kesan, pemerintah hanya “tebang pilih” dalam kebijakan dan 
perundang-undangan. Parang itu akan majal, jika terasa ada perlakukan yang 
berbeda dalam tindakan anti korupsi dan manipulasi pajak. 

Sesuatu yang serius akan terjadi, jika pemerintahan SBY-Boediono gagal 
menjawab rasa waswas dan keraguan tadi. Bukan, bukan kekalahan Partai Demokrat 
di tahun 2014 nanti, tapi hilangnya sebuah momentum. Yakni momentum gerakan 
nasional melawan korupsi – panggilan perjuangan terpenting dalam sejarah 
Indonesia sekarang. 

Sekali momentum itu hilang, susah benar untuk mendapatkannya lagi. Sekali 
momentum itu hilang, kita akan hidup dengan korupsi yang tak habis-habis. 
Tentu, 
Indonesia tak akan segera runtuh. Bahkan negeri ini akan mungkin berjalan 
dengan 
pertumbuhan ekonomi yang lumayan, 6% atau 7%. Tapi, ketika gereget anti korupsi 
melemah, ada sesuatu yang agaknya tak bisa diperbaiki lagi -- yakni terkikisnya 
“modal sosial”, runtuhnya sikap saling percaya dalam masyarakat. 

Sebab yang dirampok oleh para koruptor dari masyarakat bukan cuma uang, 
tapi juga kepercayaan dan harapan. Korupsi yang kita alami tiap hari akan 
membuat kita selamanya curiga kepada orang lain yang berhubungan dengan kita 
dalam bisnis dan politik. Korupsi yang kita alami tiap hari akan membuat kita 
hidup dengan sinisme – dengan keyakinan bahwa semua orang dapat 
dibeli.

Sinisme ini racun. Terutama ketika sebuah republik harus bisa membangun 
kerja sama buat kepentingan umum – misalnya dalam mengatasi lingkungan hidup 
yang rusak. Terkikisnya “modal sosial” akan membuat sebuah negeri setengah 
lumpuh dan menyerah.

Tapi baiklah. Saya tak ingin membuat acara kita berpisah dari Sri Mulyani 
ini hanya diisi dengan deretan kecemasan. Kita tak mungkin membiarkan Indonesia 
lumpuh dan menyerah; kita tak ingin pelan-pelan bunuh diri. Sebab itu, kita 
harus sanggup menanamkan kembali harapan, kita harus mampu menangkal sinisme. 
Tanpa ilusi.

Sejarah Indonesia menunjukkan, ilusi itu mungkin bukan sesuatu yang 
menyesatkan. Harapan itu tak pernah padam. Kita memang sering kecewa; kita 
memang tahu sejak 1945 Indonesia dibangun oleh potongan-potongan pendek 
optimisme. Tapi sejak 1945 pula Indonesia selalu bangkit kembali. Bangsa ini 
selalu berangkat kerja kembali, mengangkut batu berat cita-cita itu lagi, 
biarpun berkali-kali tangan patah, tubuh jatuh, dan semangat guyah. 

Setidaknya makin lama kita makin arif: kita memang tidak akan bisa 
mencapai apa yang kita cita-citakan secara penuh. Tapi kita tahu dan merasakan 
bahwa Indonesia adalah sebuah amanah – sebuah tugas takdir dan sejarah. Kita 
tak 
bisa melepaskan diri dari komitmen kita buat Indonesia. Selama kita 
ada.

Perpisahan kita dari Sri Mulyani malam ini justru merupakan penegasan 
komitmen itu. “Jangan berhenti mencintai Indonesia”, itulah kata-kata Sri 
Mulyani kepada jajaran pejabat kementerian keuangan yang harus ditinggalkannya, 
agar melanjutkan reformasi. 

Pada titik ini baiklah kita ucapkan: kita akan melanjutkan reformasi itu, 
Ani. Jika malam ini kita ucapkan “selamat jalan”, kita sekaligus juga 
mengucapkan: “You shall 
return”.  





      
_______________________________________
rekening dana reuni 2010:
BCA, 0860 1280 47 a/n wuri rejeki/dewi martini

rekening beasiswa itb75:
Mandiri,101 00 0508785 1, a/n Isnu dan Irma
BCA, 0354 0075 05, a/n Isnu dan Irma
----------------------------------------
- menggenapi data direktori itb75?
http://spreadsheets .google.com/ ccc?key=0AjxTCoO hf43zdHlJTkh4OS1 
ic0xDdlE1ckxlUDN tTHc&hl=en

- form isian data direktori 2010
http://spreadsheets .google.com/ ccc?key=0AjxTCoO hf43zdF80U3UyZGl 
JQVVGbVBVWk9ObXV lcVE&hl=en
---------------------------------------


Kirim email ke