Rekans ysh,
 
Setuju, kalau bicara sistem politik ya tentu ada beda sistem satu dan yang 
lain. Tapi apakah Indonesia satu-satunya yang menerapkan sistem seperti ini. 
Banyak negara campuran seperti ini.
 
Kembali mengenai "kawasan ekonomi" yang punya kewenangan penuh dan sukses, 
contohnya ada di negara komunis, di negara kapitalis, di kerajaan. Indonesia 
sistem pemerintahannya kan juga tidak aneh-aneh amat. Tapi manajemen 
koordinasinya yang perlu dibenahi. 
 
Kalau bisa sih, idealnya otonomi daerah saja dilaksanakan sesuai UU32/2004 
secara murni dan konsekuen. Lalu perhatian betul-betul difokuskan pada 
perbaikan manajemen operasi, sistem dan prosedur, sehingga semua urusan jelas 
jalur, persyaratan dan waktunya.
 
Tapi kalau sulit, butuh waktu lama, padahal untuk mendorong ekonomi perlu 
kawasan sebagai "mesin ekonomi", ya pilih lalu beri kewenangan penuh. Kepala 
kawasan khusus bisa ditunjuk oleh kepala negara dengan persetujuan dewan, tapi 
dibawahnya ada CEO yang murni beroperasi secara bisnis. CEO seperti pimpinan 
perusahaan. Ini dalam batas tertentu telah  diterapkan pada pengelolaan jalan 
tol, kawasan industri, juga kawasan pelabuhan. Seperti juga pengelolaan 
kawasan/kota petrokimia yang besar. Tinggal diperluas kepada skala kawasan. 
Operatornya bisa dilelang untuk mendapatkan yang terbaik dan berskala dunia. 
Kan di dunia ini ada network antar kawsan ekonomi yang jelas, semua itu ada 
link-nya. Pelabuhan misalnya kan juga seperti hotel, kalau manajemennya tidak 
terkait jaringan pengelola skala global, ya pengguna tidak mampir atau invest 
disitu.
 
Di atas bicara "kawasan ekonomi khusus" secara umum ya, tapi kalau KEK 
(spesifik policy Menko), kayaknya daerah ordinary tapi diberi keistimewaan 
tertentu seperti tax holiday dst, kelihatannya tetap harus ada jaminan urusan 
"pertanahan, perizinan, kepelabuhanan, kepemerintahan" harus 
didesentralisasikan betul-betul. Kalau tidak, ya kuatirnya maslah klasik 
seperti konflik peraturan, prosedur panjang, kebijakan pertanahan untuk orang 
asing, kewenangan pelabuhan yang masih 'terpusat', dst. akan jadi hambatan 
kalau tidak dibenahi secara khusus. Mudah-mudahan Menko betul-betul fokus soal 
ini.
 
Salam,
Risfan Munir
 
 
 
 


--- On Tue, 6/29/10, [email protected] <[email protected]> wrote:


From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Vietnam Southern Key Economic Zone
To: [email protected]
Date: Tuesday, June 29, 2010, 4:06 AM


  



P Risfan referensier ysh, di bawah bendera politik sistem pemerintahan itu 
aspek rela/ tdk rela menjadi beda implementasinya. Banyak kasus menunjuk pada 
kondisi dimana kwenangan sdh ada ditangan pimpinan daerah yg kemudian 
diteruskan pada pimpinan dinas/lembaga teknis, tapi tidak dapat efektif, karena 
banyak kendala birokrasi yg tdk pas. Fakta dari sistem politik indonesia 
skarang sedang banyak dipertanyakan. Presidensiil- Parlementer ?. Demokrasi 
liberal-demokrasi sosial? Dll Salam
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... 
!


From: Risfan M <risf...@yahoo. com> 
Sender: refere...@yahoogrou ps.com 
Date: Tue, 29 Jun 2010 16:41:41 +0800 (SGT)
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
ReplyTo: refere...@yahoogrou ps.com 
Subject: Re: [referensi] Vietnam Southern Key Economic Zone

  






Rekans ysh,
 
Apakah terpusat atau terdesentralisasi, kalau kewenangan pada "kawasan ekonomi 
khusus" itu utuh, terutama soal "kepemerintahan, perizinan, pertanahan, 
kepelabuhanan, keimigrasian, tax, perburuhan, dan pendukung lainnya" jelas, 
kemungkinan besar jalan baik.
Tentu di samping syarat fisik adanya sumber energi dan air. Soal prasarana 
kalau daerahnya strategis developer dan investornya pasti akan invest untuk 
prasarana juga.
Developer atau pengelola otorita bisa dikontrakkan ke pengelola otorita terbaik 
(pemenang tender) di dunia. 
Tapi ini untuk kawasan yang betul-betul dikhususkan untuk "mesin ekonomi". 
Kalau daerah ordinary diberi label "khusus" tentunya tidak bisa, karena 
penduduk kan tidak boleh dikorbankan.
 
Bulan yang lalu kebetulan saya juga ke Vietnam, tapi untuk sumber daya air 
(Mekong). Kesan saya suasana semangat membangunnya seperti Indonesia pada 
pertengahan 70an-awal 80. Semua tampak optimis. Banyak real-estate dan kawasan 
modern di HCM city dibangun dan dikelola developer dari Singapura.
 
Saya kira bukan soal komunis/terpusat nya yang menentukan, banyak negara lain 
juga tidak terpusat tapi punya KE yang maju. Masalahnya kerelaan memberikan 
kewenangan pada beberapa kawasan ekonomi itu, supaya punya kewenangan penuh 
sebagai "mesin ekonomi". Seperti RRC memberikan status Special Administrative 
Region (SAR) kepada beberapa kawasannya yang jadi "mesin ekonomi modern"nya, 
terpisah dari sistem utama.
 
Salam,
Risfan Munir
 
 
 
 


--- On Tue, 6/29/10, bs.priyohadi@ gmail.com <bs.priyohadi@ gmail.com> wrote:


From: bs.priyohadi@ gmail.com <bs.priyohadi@ gmail.com>
Subject: Re: [referensi] Vietnam Southern Key Economic Zone
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, June 29, 2010, 3:18 AM


  

Dear Ida, rekans ysh.

Ada keyword yg diajukan bu Ida yg hrs saya garis bawahi tebal. 

Pertama, tidak baru ....saya tambahi .... (namun efektif).
Kedua, blue print yg jelas ini berarti terjabar dlm kerangka yg jelas dan 
terstruktur.
Ketiga pembagian kewenangan pusat dan daerah yg jelas. 
Yg tdk dikemukakan tapi tdk kalah penting ....stake holders konsisten 
menjalankan.

Mungkin dari sini baru kita bicara lbh lanjut. 

Salam
Bambang sp 
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


From: "ida gumelar" <i_gume...@yahoo. com> 
Sender: refere...@yahoogrou ps.com 
Date: Tue, 29 Jun 2010 08:13:36 +0000
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
ReplyTo: refere...@yahoogrou ps.com 
Subject: [referensi] Vietnam Southern Key Economic Zone

  

Dear all,

Saya kebetulan sedang di ho chi minh city, bertemu badan promosi industri dan 
perdagangan utk southern key economic zone.

Yg mereka lakukan nggak ada yg baru, tapi kemajuan yg dicapai mengagumkan. Thn 
ini diperkirakan ekonomi tumbuh 14 persen.

Yg membuat berhasil adalah, ada blue print yg jelas dr pusat, ada delegasi 
kewenangan pelaksanaan ke pemda dan ada kontrol yg efektip dr pusat. Semua izin 
dikeluarkan badan pengelola di ho chi minh saja.
Selain itu, ada spesialisasi fungsi antara ho chi minh city dan kota2 satelit 
disekitarnya. Jadi saling bersinergi. ho chi minh city malah ikut mendorong 
investor ke satelit town.
Menarik diskusi dg mereka. Tapi hrs pergi dulu ke kementerian planning. Sampai 
nanti. 
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... 
!


From: Risfan M <risf...@yahoo. com> 
Sender: refere...@yahoogrou ps.com 
Date: Mon, 28 Jun 2010 13:14:27 +0800 (SGT)
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
ReplyTo: refere...@yahoogrou ps.com 
Subject: Re: Bls [referensi] Fw: KEK, soal BSD

  





Ralat:


  








Menurut saya persoalan KEK, Kapet dan lainnya persoalannya bukan perencanaan 
fisik nya (RTRW) tetapi "kewenangan pengelolaan" nya. Kawasan Khusus, maksudnya 
apa bukan "dikelola secara khusus". 
 
Seperti yang disampaikan Bu Ida G., soal koordinasi antar sektor/kementerian 
yang di Jakarta gak pernah selesai itu, kalau dibawa ke kawasan khusus. Ya 
membuka "kawasan tempur baru" namanya. Malah konflik-konflik sektor yang 
terpendam muncul disitu. Mau bikin "kawasan ekonomi" atau "kawasan konflik" 
sektor?
 
Saya setuju dengan Bu Ida. Sebaiknya KEK, Kapet dan nama baru apapun untuknya 
nanti, dikelola seperti Shenzhen dan kawasan ekonomi khusus lainnya di dunia. 
Jadikan itu kawasan "Mesin Ekonomi", yang pengelolaannya betul-betul khusus.
Lelang pengelolaannya secara terbuka, kepada pengelola kawasan khusus berskala 
dunia, apakah dari China, Singapura, Korea, Taiwan, Eropa, US, atau yang 
pengalaman dari mengelola skala kawasan di Tanah Air. Terapkan aturan standar 
internasional soal lingkungan, buruh, outsourcing, energi, pertanahan.
 
Otoritanya harus lapor langsung ke presiden. Kalau perlu buat aturan yang 
desepakati presiden dan legislatif, yang mensyaratkan jangan ada satu 
ke-menteri-an pun yang boleh mencampuri, tanpa perintah presiden. Sehingga 
bebaslah kawasan itu sebagai "mesin ekonomi" nasional.
 
Beri otoritas target setor income berapa triliun dalam sekian tahun. Sepakati 
milestone nya, kapan dia memasarkan ke seluruh kelompok industri (kelompok 
Hyundai, Samsung, Sumitomo, dari China dst) perusahaan jasa, dst ke seluruh 
dunia. Minta pengelola untuk mendaftarkannya (menjadi satu dari mata rantai 
"ecomomic pole" dalam sistem ekonomi dunia. 
 
Begitukah?
 
Salam,
Risfan Munir
 
 


--- On Sun, 6/27/10, cut safana <cutsaff...@yahoo. com> wrote:


From: cut safana <cutsaff...@yahoo. com>
Subject: Re: Bls [referensi] Fw: KEK, soal BSD
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Sunday, June 27, 2010, 11:13 PM


  




Yth. Bp. BSP, Bp. BTS, Pak Deni dan milisters.
Terima kasih informasinya Bapak-Bapak, walaupun hanya bagian dari tim yang 
menyelesaikan perencanaan wilayah regional nya, tetapi  toh yang jelas yang PNS 
termasuk Pak SBA merupakan wakil dari Pemerintah, (kok saya yang bangga ya ?) 
dan rencana wilayah regional yang disusun tetap merupakan dasar pengembangan 
selanjutnya, yang berhasil dan berkembang pesat saat ini. Ini yang kita 
harapkan dari pemerintah kabupaten/kota saat ini, yaitu jangan menyusun RTRW 
kabupaten/kota karena diamanatkan/ dipaksa oleh UU No 26/2007, tetapi ya memang 
kebutuhan. Demikian pula, jika Perda RTRW tidak dapat diimplementasikan, tolong 
dibuat rencana detailnya, wake up !. Kalau dari awal kita sadar akan hal ini, 
mungkin Jakarta sebagai Ibu Kota negara, tidak seperti ini, tentunya dengan 
sedikit mengenyampingkan masalah-masalah ekonomi sekelompok golongan, misal : 
moda transportasi. Pilihan roda 4  dan roda 2 merupakan alternatif  terakhir 
masyarakat Jabodetabek. Bgmn
 kondisi 5 tahun kedepan ?. menyusul 10 tahun lagi Kota Bandung, Surabaya, 
Makassar ? Wallahu 'alam bissawab.
Salam hangat.





From: "bs.priyohadi@ gmail.com" <bs.priyohadi@ gmail.com>
To: refere...@yahoogrou ps.com
Sent: Fri, June 25, 2010 9:21:32 PM
Subject: Re: Bls [referensi] Fw: KEK, soal BSD

  

Bu Cut, mmg benar yg merencanakan BSD adalah swasta dan itu termasuk mas BTS 
lho, lalu ada Pingky Pangestu dan Jo Santoso ... Mrk anggota milist ini tdk? 
Kaitannya dg pemerintah adalah dlm perenc. regionalnya. Waktu itu ada tim yg 
diminta menyusun renc regional namanya JMDP alias Jabotabek sbg pelaksanaan 
Inpres 13/76. Tapi renc itu tdk pernah ditetapkan dg peraturan. Baru sebagian 
dr Jabotabek terdiri dr 14 kec yg ditetapkan th. 92 melalui Renc Bopunjur. 
Mungkin ini bisa sedikit me refresh teman2 
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> 
Sender: refere...@yahoogrou ps.com 
Date: Fri, 25 Jun 2010 22:46:29 +0800 (SGT)
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
ReplyTo: refere...@yahoogrou ps.com 
Subject: Re: Bls [referensi] Fw: KEK, soal BSD

  







Mbak Cut, setahu saya BSD itu tidak direncanakan oleh Pemerintah. Yang 
merencanakan dan yang membangun semua swasta. Pemerintah daerah hanya 
meng-iya-kan dan dapat pajaknya saja.
 
Berkembangnya BSD akibat spill-over Jakarta. Kalau nggak ada Jakarta, BSD ya 
nggak jadi apa-apa.
 
Thanks. CU. BTS.
 

--- Pada Jum, 25/6/10, cut safana <cutsaff...@yahoo. com> menulis:


Dari: cut safana <cutsaff...@yahoo. com>
Judul: Re: Bls [referensi] Fw: KEK
Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
Tanggal: Jumat, 25 Juni, 2010, 11:06 AM


  



Pak Aby, Pak Nuzul Ysh,
Terima kasih pencerahannya, mudah-mudahan penjabaran Pak Aby dan Pak Nuzul akan 
terwujud. Namun walau bagaimanapun  faktor efektifitas dan efisiensi tetap 
menjadi salah satu dasar  pertimbangan pilihan pengembangannya.  Contohnya, 
maaf,  mungkin bukan suatu perbandingan yang tepat dan pengamatan hanya secara 
general, tanpa dasar teori apapun. Perbedaan Batam dan BSD -Tangerang, walau 
infrastruktur sudah dibantu dibangun di Batam, namun harga lahan masih rendah 
(tidak ada 25 %nya Singapura), investasi masih tersendat, belum menggembirakan. 
Sebaliknya  BSD (yang direncanakan oleh Pemerintah juga), tanpa dibantu 
infrastrukturnya, dapat sedemikian berkembang, 2-3 tahun terakhir dibangun 
jalan bebas hambatan). Kita berdo'a semoga pengembangan KEK ini dapat 
mengangkat perekonomian di Indonesia baik skala nasional maupun regional/lokal, 
praktis dapat mengurangi jumlah pengangguran  sekaligus menurunkan persentase 
angka kemiskinan. 
Salam hangat.




From: Nuzul Achjar <ach...@gmail. com>
To: refere...@yahoogrou ps.com
Sent: Fri, June 25, 2010 8:15:57 AM
Subject: Re: Bls [referensi] Fw: KEK

  


 
Pak Aby, Ibu Cut Savana dan Sahabat Referensiers,
 
Menyambung apa yang disampaikan pak Aby, kebetulan  saya berada dalam rapat 
koordinasi hari Senin pagi di Kantor Menko Perekonomian. Sebatas yang mungkin 
boleh disampaikan (apalagi referensier adalah komunitas yang patut 
dihormati), Menko perekonomian antara lain mengusulkan agar muncul semacam 
pusat pertumbuhan baru, dan itu searah dengan apa yang diinginkan 
oleh Bappenas. 
 
Muncul pemikiran mungkinkah kita kembangkan pusat pertumbuhan baru di Sulawesi 
Tengah (dengan basis gas alam Donggi-Senoro) , ditambah lagi dengan sumber gas 
baru oleh Chevron di Selat Makasar.. nah kenapa nggak kita munculkan sebuah ide 
agar muncul ada LNG, ada pabrik pupuk dan petrokimia lainnya di sekitar ladang 
gas tersebut. Seperti kayak Bontang lah begitu, ada kilang LNG, ada Pupuk 
Kaltim, dst. Bedanya, kalau dulu LNG Bontang untuk ekspor, sekarang 
paradigmanya sudah berubah, gas terlebih dahulu diberikan prioritas untuk 
domestik.
 
Pemikiran ini sama sekali tidak ada dalam 48 KEK yang diusulkan daerah... ini 
pandangan ke depan. Dalam waktu dekat akan muncul perspektif  pengembangan  
Energi Baru dan Terbarukan (Green Energy) dalam konteks Pengembangan  Daerah. 
Pengen saya pribadi sih komunitas Referensiers adalah pendukung green energy 
dalam pembangunan daerah he he...
 
Salam hangat selalu
 
Nuzul Achjar  
 
 
 
 
 
 


 











      

Kirim email ke