Kompas - Jumat 2 Juli 2010 - Opini

Membidik “Smart Capital”
Oleh GITA WIRJAWAN

Michael Porter, ahli strategi bisnis ternama, pernah bertanya kepada 100
mahasiswanya di Harvard Business School.

Untuk memulai diskusi tentang penanaman modal asing (PMA) atau investasi
asing langsung (FDI) di Indonesia, ia melempar pertanyaan: “Bila Indonesia
sangat kaya dan subur sehinga apa pun yang ditanam di tanah bisa tumbuh,
mengapa Negara tersebut miskin?”

Jawaban yang muncul sangat beragam – dari yang ragu-ragu hingga yang
terlampau yakin – mulai dari budaya korupsi, peraturan investasi yang
kurang kondusif, hingga penguasaan kekayaan di segelintir orang. Di akhir
diskusi, persepsi tentang Indonesia yang terbentuk di benak para calon
pimpinan usaha, sama dengan persepsi umum yang ada: Indonesia adalah
Negara yang terlalu berisiko untuk dijadikan tujuan usaha meskipun
potensinya amat besar.

Sering kali suatu observasi sederhana mengandung beragam nuansa. Namun,
terkadang situasi yang misterius bisa dijelaskan dengan sangat sederhana.
Jawaban dari pertanyaan Porter tersebut adalah bahwa Indonesia belum
mencapai potensi ekonominya karena masih terus kekurangan smart capital.
Smart capital adalah investasi yang sifatnya berjangka panjang dan
bernilai tambah. Istilah smart digunakan karena para investor yang membawa
modal seperti ini cukup cerdas untuk memahami bahwa untuk dapat sepenuhnya
memanfaatkan potensi Indonesia, investasi yang dilakukan haruslah
berjangka panjang, melaksanakan strategi yang berani, dan memberikan
prioritas bagi sektor-sektor utama atau sektor-sektor dasar.

Perlu diakui bahwa Indonesia adalah negara yang besar dan kompleks, dan
bukan tanpa masalah. Namun, dengan kekayaan sumber daya alam (SDA),
pengelolaan fiskal yang prima, sumber daya manusia (SDM) yang usianya muda
dan ahli, potensi pasar dalam negeri yang besar, dan peran di tingkat
global yang terus meningkat, ekonomi Indonesia telah siap untuk tinggal
lnadas ke tingkat berikutnya. Di tahun 2020, produk domestik bruto (PDB)
nominal Indonesia diperkirakan naik setidaknya empat kali lipat.

Dengan potensi ekonomi tersebut, smart capital berupaya untuk memanfaatkan
momentum ini hingga titik optimum. Namun untuk terus berinvestasi di
Indonesia dalam jangka panjang, para investor harus berinisiatif dan
berkomitmen untuk ikut membantu upaya pembangunan di Indonesia, termasuk
menurunkan angka kemiskinan, pengangguran, dan meningkatkan daya saing.

Para investor harus menanamkan modal dengan orientasi dan semangat
penciptaan lapangan kerja, peningkatan taraf hidup, serta pengalihan
teknologi baru dan standar internasioanal agar dipandang sebagai mitra
dalam upaya mencapai kesejahteraan bersama. Kemitraan seperti ini
membutuhkan visi dan strategi yang belum tentu lazim dalam praktek bisnis
pada umumnya.

Smart capital melihat integrasi hilir sebagai peluang untuk mencapai
kemitraan tersebut. Perusahaan seringkali melakukan integrasi usaha
apabila secara komersial menguntungkan. Biasanya, keputusan ini diambil
oleh manajemen dengan memperhitungkan keuntungan yang diperoleh dari
economies of scale.

Bagi smart capital, integrasi hilir memberikan lebih dari sekesar
pengurangan biaya operasional. Dengan meningkatnya jumlah usaha pendukung
domestik, semakin banyak jumlah lapangan kerja yang tercipta dan semakin
besar nilai pajak yang diperoleh negara, integrasi hilir juga mengurangi
biaya transaksi.

Perusahaan yang melakukan integrasi kegiatan usahanya dari hulu ke hilir,
terutama di saat supremasi hukum masih belum matang, secara implisit
mendapatkan perlindungan yang mencakup pula perpanjangan kontrak dan
hubungan pembeli – pemasok karena kehadiran mereka dianggap penting bagi
pertumbuhan ekonomi negara yang bersangkutan.

Investor Mitra Penting Goal
Smart capital juga membawa tekonologi baru dan meningkatkan kemampan
manajerial tenaga kerja local. Pemilik smart capital menyadari bahwa agar
bisa bersaing secara global, suatu negara membutuhkan SDM yang berkualitas
dan memiliki basis dan sistem peningkatan efisiensi. Ini pada akhirnya
akan mendorong transisi ekonomi ke arah ekonomi berbasis pengetahuan
(Knowledge based economy), yang amat penting bagi inovasi industry dan
penciptaan nilai tambah selanjutnya.

Integrasi hilir, transfer teknologi, dan penggunaan standar internasional
bisa meningkatkan nilai seluruh pemangku kepengtingan SDA Indonesia, yang
saat ini merupakan sumber devisa yang utama. Indonesia selama ini
mengekspor komoditas dalam bentuk mentah, dan kemudian mengimpor barang
jadi dengan harga yang lebih mahal. Nilai yang terbuang sia-sia amatlah
besar. Sebagai ilustrasi: para penghasil kakao di Indonesia bias
memperoleh penghasilan hingga sembilan belas kali lebih besar apabila
mereka bias mengintegrasikan usaha dan meningkatkan kapasitas produksi.
Untuk komoditas bauksit, nilai tambah dari integrasi bias mencapai tiga
puluh kali.

Sudah menjadi pengetahuan umum di seluruh dunia bahwa apa yang secara
fisik diperoleh dari bumi merupakan milik masyarakat. Smart capital
melindungi kepentingan investor dengan menunjukkan kepada negara lokasi
investasi bahwa tidak terjadi erosi nilai di dalam sektor SDA mereka.

Smart capital melihat bukan hanya SDA, tetapi juga peluang yang bias
memberikan nilai tambah yang besar di sektor apapun. Di Indonesia, sektor
dasar seperti pendidikan dan kesehatan – amat penting untuk pembangunan
SDM – amatlah menjanjikan.
Indonesia memiliki penduduk yang berusia muda dan terus bertambah, dan
seiring dengan meningkatnya kesejahteraan mereka, permintaan akan layanan
pendidikan dan kesehatan yang baik akan meningkat pula. Setiap tahunnya,
Indonesia kehilangan sekitar 1 miliar dollar AS dari sektor kesehatan
karena banyak penduduk Indonesia yang mencari layanan medis di Malaysia
dan Singapura. Smart capital bisa melihat peluang ini dan berupaya
menanamkan modal mereka di sektor kesehatan dan di sektor penunjang
lainnya.

Yang tidak kalah pentingnya, smart capital berpandangan jauh ke depan.
Masalah perubahan iklim adalah persoalan yang nyata, jelas, dan perlu
diwaspadai. Indonesia saat ini adalah penghasil gas rumah kaca terbesar
ketiga di dunia. Saat ini, Indonesia banyak mendapatkan dukungan dari
negara donor untuk terus melakukan upaya guna mengatasi perubahan iklim.
Smart capital melihat besarnya kemauan politik pemerintah untuk mengatasi
masalah ini sebagai peluang untuk menciptakan nilai yang besar, melalui
kolaborasi yang erat.

Smart capital adalah upaya yang strategis, inventif, inklusif, dan
berorientasi masa depan. Inilah yang dibutuhkan Indonesia untuk mengubah
citra sebagai negara miskin. Smart capital membantu akselerasi pembangunan
dan menjadikan investor sebagai mitra penting pembangunan yang akan
mendapatkan keuntungan berlipat dengan mengambil visi yang berjangka
panjang, berorientasi pionir, dan komprehensif terhadap prospek ekonomi di
Indonesia.

Gita Wirjawan
Kepala badan Koordinasi Penanaman Modal

-- 
Best regards,

andriaBUCHARA
Indonesia Investment Coordinating Board
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)
Email: [email protected]
alt. e-mail: [email protected]
Web: www.bkpm.go.id


------------------------------------

Komunitas Referensi
http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/referensi/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/referensi/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke