Referensier yang sedang prihatin,

Kalau baca komentar akhir-ahkir ini kelihatannya Puisi BEDEBAH Itu kok secara 
sosiologis semakin relevan ya?

Apa komentar BTS ya soal ini hehehe sorri pak jenengan kelihatannya soal 
POLITIKUS sependapat menggunakan sarkasme untuk menggambarkan karakter para 
politisi negeri ini. huahahaha


Salam hangat,


Asnawi Manaf
Department of Urban and Regional Planning, UNIVERSITY OF DIPONEGORO 
Jl. Prof. Soedharto, SH. Tembalang, Semarang - 50271, INDONESIA Phone / Fax : + 
62 24 7460054

--- On Tue, 7/6/10, Sariffuddin <[email protected]> wrote:

From: Sariffuddin <[email protected]>
Subject: Re : [referensi] Analogi Tikus Gambarkan Imajinasi dan Lingkungan 
Seseorang
To: [email protected]
Date: Tuesday, July 6, 2010, 11:37 AM







 



  


    
      
      
      Jadi Kebun Binatang deh.

Nuwun,
Sarif

De : Nur Hidayat <hida...@seblak. net>
À : refere...@yahoogrou ps.com
Envoyé le : Mar 6 juillet 2010, 9h 41min 29s
Objet : RE: [referensi] Analogi Tikus Gambarkan Imajinasi dan Lingkungan
 Seseorang








 



    
      
      
      Kurang satu yang belum dipakai politisi kita: Kancil (Pilek) :-D



Nuwun,



NH

Sent from my mobile device, powered by www.seblak.net.



- original message -

Subject: [referensi] Analogi Tikus Gambarkan Imajinasi dan Lingkungan Seseorang

From: mand...@gmail. com

Date: 06:07:2010 9:10 AM



Cicak, buaya, kebo, celeng, tikus. Lengkaplah sudah.



Salam,

CA



Source: http://m.detik. com/read/ 2010/07/06/ 073802/1393568/ 10/analogi- 
tikus-gambarkan- imajinasi- dan-lingkungan- seseorang? 991101605



--begins--

Analogi Tikus Gambarkan Imajinasi dan Lingkungan Seseorang



Laurencius Simanjuntak : detikNews



detikcom - Jakarta, Usai heboh cicak versus buaya dan babi, publik kini 
kembali disuguhankan fabel episode baru. Ketua Umum Partai Golkar Aburizal 
Bakrie mengimbau kader partainya belaku seperti tikus, tidak langsung 
menggigit, tapi mengendus lebih dulu sebelum menggigit.



Sastrawan yang juga penulis naskah lakon 'Republik Reptil', Radhar Panca 
Dahana, menilai pemilihan kata oleh seseorang menggambarkan, discourse, 
lingkungan, imajinasi, cara berbuat dan juga tujuan seseorang.



"Pemimpin mengatakan tikus, sementara tikus itu perlambang sebuah kebusukan, 
kemunafikan, kelicikan dan simbolisasi sebagai koruptor. Betapa pemimpin itu 
pendek imajinasinya, kering imajinasinya, kotor kepala dan pikirannya. Bahkan 
sampai mengimbau," kata Radhar saat berbicang dengan detikcom, Selasa 
(6/7/2010).



Radhar menilai tikus bukanlah bintang yang dalam dunia fabel mewakili derajat 
kemuliaan. Karenanya, tidak pantas untuk menggambarkan realitas kehidupan 
manusia dengan tikus.



"Ini menunjukkan rendahnya apresiasi kita terhadap manusia, rendahnya 
kemanusiaan manusia menunjukkan merosotnya keadaban publik kita," kata Radhar.



Pemilihan kata tikus ini, kata Radhar, juga tak ubahnya istilah cicak dan buaya 
yang dipopulerkan oleh Komjen Pol Susno Duadji. "Kalau menyebut buaya, ya dia 
identik dengan buaya, licik, ganas," kata dia.



Sikap reaktif kepolisian terhadap cover majalah Tempo yang bergambar celengan 
babi, dinilai Radhar, juga menunjukkan ketidaksehatan berpikir. Pada celengan 
babi, polisi dinilai cenderung menekankan pada aspek binatangnya ketimbang 
bendanya (celengan).



"Celengan ya celengan, kenapa harus diasosiasikan dari kebinatangannya. Tapi 
karena pikiran yang sempit, maka ia melecuti kata bendanya dan mengambil kata 
sifatnya. Itu kebodohan," tegasnya.

--ends--

BebasOrba® TaatPajak® AntiLumpur®





    
     











      

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke