Pak Aby, kita sering beda kan sesuai lakon ketoprak. Emosi dikit (kadang ngamuk juga h h h) biar kelihatan betulan, seru. Tapi kan memang harus ada variasi opini biar saling mengingatkan ada pihak lain yang beda pikiran di masyarakat. Kalo dulu planner kan harus berpikir tidak keluar dari ToR, dengan patron yang disusun "pemikir besar."
Salam, Risfan Munir Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: hengky abiyoso <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Thu, 29 Jul 2010 18:31:42 To: referensi<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [referensi] Re: PWK dan Macet Waduh, terharu jg kok pak Risfan yg dgn sayapun sering beda pendapat kok sampai bercanda berkenan nitip PWK kediri saya …..tapi emang bener …seharusnya yg tepat itu nitipnya PWK ya ke mas Fajar yg muda dan cemerlang itu …jangan ke yg tuwek dan uzur ini ……kalo yg tuwek ini khan cukup tut wuri hangintili saja ke yg muda….. Beliau (mas Fajar, juga cak EkoBK, cak Andri dll) bener2 konsisten menyuarakan perlunya pembangunan keseimbangan regional KBI-KTI, a/l jg mendukung perlunya pengembangan countermagnet city to Jkt ……dan lagi ide mas Fajar khan lbh spektakular …mau kembangkan 10 countermagnet to Jkt diluar Jawa ….kalo saya khan malu2in ….cuma satu saja hehe….salam, aby From: <efha_mardiansjah@ yahoo.com> Date: Thu, 29 Jul 2010 09:53:45 +0800 (SGT) Subject: Re: [referensi] Re: Triple Decker Lho Pak Risfan... Kok cuma Pak Aby aja yang dihitung.. Saya protes karna ngak ikut dihitung... Padahal saya sudah keluarin jargon "Luar Jawa terlalu luas untuk hanya tiga meropoltan, bahkan juga untuk sepuluh...." Dan saya sudah kampanye-in, "Bangun sepuluh metropolitan baru di luar Jawa" Buat jadi metropolitan penyeimbang di Indonesia Jadi saya lebih hebat dari Pak Aby, atuh Pak.... Pak Aby cuma kampanyein satu terus.. sedangkan saya sepuluh hue he he he he..... Piss ya Pak... sekali-sekali bercanda sedikit.. Mumpung saya lagi lieur, huehe he he.... Salam dari jauh, Pak... --- In refere...@yahoogrou ps.com, "Risfan M" <risf...@...> wrote: Rekans ysh, Katakanlah saya pengguna mobil pribadi, dari Bekasi. Saya mau naik bus/angkot via Xmalang. Berapa ongkos yang harus saya bayar, keluar kompleks ojeg 5rb, angkot ke Halim/Cawang 5rb, Cawang ke kantor saya kebetulan 1x @ 5rb (kalau capek jalan + ojeg). Kasar saja pp 13-15rb. Kalau anggota keluarga saya 2-3 kerja/kuliah di Jakarta berarti 40-45rb sekali jalan. Bayar tol Bekasi 3,5rb dalam kota tolnya macet, jadi gak lewat, kecuali kalo pulang. Jadi Anda mau naikin tol berapa supaya saya gak ngantor? Kalau Anda naikin 10rb saja, maka orang seperti saya masih untung bawa mobil dinaiki berdua bertiga. Mau naikin 20rb? Maka Anda berurusan dengan Senayan yang biaya perkaranya bisa untuk bangun jalan yang lain. Kelas menengah bukanlah penggede, bukan cukong, tapi orang pas-pasan saja. Masa mau tidak kehujanan kepasan saja Anda anggap enemy of the state, semua warga ini korban pelayanan publik yang gagal. Jangan enak saja, ambil solusinya selalu menyalahkan warga. Kalau ada transjakarta via Xmalang tentu lebih enak itu daripada nyetir capek, waktu terbuang. Emisi karbon naik. Tapi gak ada kan. Perbaiki transportasi publik, didunia ini publik transpor selalu tanggung jawab pemerintah. Tapi disini diserahkan ke swasta, tapi tarif ditekan, ya jelas mepet sehingga kualitas buruk. Swasta lagi disalahkan. Kok angkotnya gak mutu, kebanyakan dst. Saya kira planner juga perlu belajar matematika keuangan sedikitlah. Supaya tahu mana dulu "ayam atau telur". Atau kembali ke solusi PWK lah, masak ini forum PWK tapi yang mengawal solusi PWK cuma Pak Aby sendiri. Salam, Risfan Munir Re: Re: To Cak Andri [referensi] soal Monorail, untuk Koko Wednesday, July 28, 2010 6:30 PM From: "Risfan M" <[email protected]> Pak Aby kutitipkan PWK padamu ..h h h. Jangan ngobrolin percaloan besi beton bekas gitu dong Pak. Ada ahlinya itu dari daerah saya. Hi hi hi Salam Risfan Munir From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> Date: Wed, 28 Jul 2010 18:16:13 -0700 (PDT) Subject: Re: Re: To Cak Andri [referensi] soal Monorail, untuk Koko Kalau DKI umpamanya sampai pd cerita akan mengambil alih proyek tiang beton monorail yg mangkrak itu .....lalu taksiran harganya agar tidak lagi2 keliru jadi kemahalan dan berurusan dgn KPK ..... brkali perlu second opinion dgn manggil ahlinya ...yaitu orang Madura .....dijamin harganya pasti tak akan keblondrok (tertipu dan kemahalan) .........

