Pak Risfan, Secara umum, interpretasinya benar. Intinya mazhab posmo ini muncul karena ketidakmampuan mazhab modernism utk menjelaskan semakin kompleknya fenomena saat ini. Posmo ini pun merambah ke disiplin planning. Saran saya buku yg bagus dibaca adalah karangan Leonie Sandercock (Cosmopolis ataupun Toward Cosmopolis). Banyak artikel yg mengembangkan mazhab posmo di bidag planning, di berbagai jurnal, i.e. JPER, JAPA, Planning Theory, etc.
Saya sedikit merangkum kritik posmo thd modernism dan dikaitkan dg local wisdom dlm presentasi saya dulu di UGM. Tulisan tsb juga saya muat di blog Indonesia's Urban Studies. Mudah2an ada manfaatnya bagi yg membacanya. Deden Rukmana ________________________________ From: Risfan M <[email protected]> To: referensi <[email protected]> Sent: Fri, July 30, 2010 6:32:06 PM Subject: [referensi] Posmo / Campursari? Pak Djarot, DedenR n Rekans ysh, Saya ingin konfirmasi ke pak Djarot dan kang Deden Rukmana dan rekans soal budaya Posmo, dalam bidang PWK. Sejauh saya baca-baca menarik juga pengakuan adanya budaya Posmo ini ya. Seperti dalam urban design, memang ada realita dalam satu site ada bangunan tradisional, kolonial, modern dari era ke era. Semuanya harus diterima kehadirannya, karena dalam bidang apapun tidak bisa diasumsikan ada "ground zero". Mulai dari nol lagi. Kalau logika itu diterapkan dalam perkembangan konsep PWK (pembangunan) kiranya juga begitu. Mustahil satu kabinet, atau generasi di kalangan dosen, mengganti asumsi, konsep, aliran teori bersih mengganti yang lama dengan yang baru. Maka dalam kenyataan juga akan selalu campuran antara penganut mazhab modernisasi, penganut tricle-down effect, dependency theory, partisipasi, peran swasta vs pemerintah, ada yang yakin betul dengan growthpoles, ada yang yakin lawannya, ada yang masih bias keterpusatan ada yang desentralisasi, atau alternatif, dst. dengan spektrum masing2. Semua hadir sebagai suatu keniscayaan. Namun repotnya, karena mazhab pemvangunannya campuran, maka untuk memahami, apalagi menagntisipasi ke depannya (planner harus memprediksi) jadi sulit. Walau kalau kita sok percaya pada satu konsep, mazhab juga frustrasi, karena tentu banyak melenceng dari harapan. Akhirnya pusing. Jadi kondisi Posmo atau Campursari ini mau tak mau memang harus diterima, karena brain-wash membersihkan mazhab yang lama untuk diganti mazhab pembangunan tertentu juga tak mungkin. Seperti lagu campursari, ada unsur tradisional, unsur irama pop, dan campuran bahasa daerah dengan Indonesia. Jangan coba menganalisisnya dari sisi tertentu, karena namanya memang campuran sari ini dan itu. Begitukah pengertiannya? Salam, Risfan Munir Powered by Telkomsel BlackBerry® ------------------------------------ Komunitas Referensi http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links

