Mas bs, Tuhan menciptakan segala yang ada di bumi ini ada manfaatnya dan yg pandai kelakar itu panjang umurnya ya itu jadi sunatullah. Kabayan dalam folklore Sunda atau Petruk dalam wayang, satire kehidupan sosial yg perlu direnungi oleh para pemegang kuasa. Maka jadilah engkau seperti yang engkau maui dan bermanfaatlah karenanya..
--- On Fri, 13/8/10, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Banjarmasin-Pandai Kelakar To: [email protected] Date: Friday, 13 August, 2010, 6:35 PM Pak Fadjar ysh, He he he saya hanya asal nyaut kok. Soalnya bisanya ndobos saja kok. Tidak ada dasarnya. Spt kata pak Uton yg sangat saya hormati, bhw yg banyak ditemui adalah yg pandai membual atau mendongeng. Dan itu saya merasa masuk kategori itu he he he. Soalnya yg dibutuhkan rakyat Indonesia saat ini adalah bualan yg memabokkan ..... astagfirullah. Tentang panjenengan.....wuih saya yg gak berani kalau berkelakar. Cuman saya ngungun (eh katanya eyang jangan gumunan ya) ternyata apa yg terjadi dan yg ndakik2 dibuat dg semua teori yg canggih itu kok ternyata gagal ya, atau paling tidak kurang berhasil. Ada apa ya? Semua argumen dikemukakan. Yg disalahkan sistem lah dlsb. Kemarin saya baca Kompas.com. Perbandingan sistem pendidikan jaman orba dan orla dibanding jaman reformasi yg katanya dibangun oleh para profesor doktor yg jumlahnya naudubillah banyaknya. Ada jaman orba atau orla, sudah dananya gak banyak, itupun masih dikorupsi lagi. Lha kok hasilnya luar biasa.... Jauh dr yg ada saat ini (berdasar cross tabulasi). Ada apa ini? Teorinya yg salah atau orangnya tidak paham teori atau memang saat ini sudah tdk paham Indonesia lagi. Padahal alat ukurnya sama. Kesimpulan saya, saat ini tidak ada seorangpun yg paham ttg Indonesia. Mungkinkah krn kita tdk ada ahli yg mendalami Indologi. Krn saat ini TIDAK ada yg mempelajari itu, dan jurusan itu di Leyden sdh ditutup tahun 1995. Jadi saya hanya bisanya riyadoh saja he he he....itupun bila Allah masih mau mendengar pertanyaan saya. Mau Kau bawa kemana ya Allah Indonesia ini. Mohon maaf pak Fadjar, saya saat ini benar2 frustasi. Apalagi dr sms dunia sana ada bocoran hati2 habis lebaran .... Waduh kok ya seram ya? Mohon maaf sekali lagi, saya ngomyang. saya berjanji setelah ini akan tidur lagi, karena disana saya bisa mimpi dimana negara ini tidak digelimangi nafs lagi yg menjadikan dunia ini spt sekarang ini. Salam hormat zzzzzzzzzzz BspSent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSATFrom: <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sat, 14 Aug 2010 01:58:55 +0800 (SGT)To: <[email protected]>ReplyTo: [email protected] Subject: Re: [referensi] Banjarmasin-Pandai Kelakar Pak Bambang ysh, Kalo saya pengennya jadi yang pandai kelakar aja Pak... Ssebab konon katanya yang pandai kelakar akan tidak cepat tua... Kalo jadi pandai bertengkar itu konon katanya malah ngak pernah tua ya Pak... Karena sudah tiada sebelum tua, hue he he he... Jadi saya pilih yang pandai kelakar aja, Pak.... Apalagi ngelakarin Uda Eka.. itu saya masih berani.. Kalo ngelakarin Pak Bambang... wuih..wuih.... saya ngak berani kayaknya, Pak... Takut kuwalat nantinya hue he he he... Apalagi ngelakarin Eyang Begawan Abiyasa.... wah mana kuat saya hue he he he.... Salam, Fadjar Undip --- En date de : Sam 14.8.10, [email protected] <[email protected]> a écrit : De: [email protected] <[email protected]> Objet: Re: [referensi] Banjarmasin À: [email protected] Date: Samedi 14 août 2010, 0h30 Assalam. Uda Eka, He he he ....tapi kita harus hati2 menguraikan kata pakar....jangan2 kata akar berarti PAndai berkelaKAR atau PAndai bertengKAR saja, bukannya PAndai mencari aKAR masalah utk diselesaikan. Krn saat ini di negara tercinta ini yg banyak terjadi adl yg spt ini. Maaf maaf maaf. Salam Bsp Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT From: - ekadj <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sat, 14 Aug 2010 00:01:59 +0700 To: <[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: Re: [referensi] Banjarmasin Amin ya Rob! Tapi para pakarnya masih belum selesai-selesai juga sekolahnya ... hehehe. 2010/8/13 <[email protected]> Pak Haji EkaDj ysh, Mimpi Pak Eka agar suatu saat Banjarmasin (dan saya rasa juga kota-kota air di Kalimantan, Sumatera dan Papua) bisa menjadi seperti kota-kota air di Eropa --- En date de : Ven 13.8.10, - ekadj <[email protected]> a écrit : De: - ekadj <[email protected]> Objet: Re: [referensi] Banjarmasin À: [email protected] Date: Vendredi 13 août 2010, 22h13 Pak ATA dan Referensiers ysh. Terima kasih pak atas cerita perjalanannya, pasti menarik dan menuai banyak kisah apalagi dalam rombongan besar. Studi ekskursi seperti ini perlu dikembangkan ke wilayah-wilayah yang jauh dan asing, untuk menambah pengalaman dan pengetahuan praktis. Dari kisah bapak saya jadi bernostalgia pada era pertengahan 1990an, ketika kehidupan sudah terasa masam, dan akhirnya membantu konsultan lokal selama sekitar 3 tahun. Sempat menjelajahi beberapa tempat. Begitu pun di milis ini ada beberapa rekan yang sempat lama di sana, seperti mungkin Pak Rempu di Batu Licin, juga ada Dr. Hary yang bertugas di Pemkab Banjar Baru, kalau AndiS kolega bapak di UI kan berasal dari sana. Mudah-mudahan ada tambahan informasi yang kita perlukan. Dulu baru dimulai era penambangan rakyat batubara, yang berbentuk singkapan memanjang seperti bulan sabit, sehingga mendatangkan berkah ekonomi yang meluas. Jadi kelebihan Kalimantan selain earthquake-proof juga ketersediaan energi yang luar biasa. Selain tentunya: lokasinya persis di tengah-tengah Indonesia. Saya dulu menaksir suatu lokasi di utara Banjarmasin, posisinya di tepi Sungai Barito. Kalau ini dikembangkan, mungkin sangat mirip dengan model kota-kota Eropah, seperti Rotterdam dan Antwerpen. Pelabuhan bisa masuk jauh ke dalam di sepanjang sungai, dan berpotensi menjadi pelabuhan terpanjang di dunia. Sambil tentunya memperhatikan kearifan lokal. Sementara demikian pak. Salam. -ekadj 2010/8/13 abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> Pak Uton ysh, Wah, saya di tembak langsung suruh jawab...he he he Tapi saya coba menyampaikan realitas yang saya temui hingga saat ini: Banjarmasin memang bukan daerah gempa dan juga tidak potensial menerima ancaman Tsunami. Kenaikan muka air selama ini lebih karena air sungai Barito dan sungai Martapura pasang, akibat kiriman dari hulu sungai. Dalam tiga kali kunjungan selama tiga dekade tersebut, tampaknya kenaikan muka air belum pernah sampai melimpah jauh ke daratan. Sebaliknya, Banjarmasin di masa lalu cenderung didominasi rawa-rawa. Peta kota Banjarmasin sekitar tiga dekade lalu (waktu mengerjakan renstra pengembangan Kabupaten Banjar) masih jelas menunjukkan sifat "kota air" tersebut, sehingga sebagian besar bangunan permukiman waktu itu masih didominasi rumah panggung yang pada musim basah berada di atas air. Oleh sebab itu walau belum musim hujan namun permukaan air di saluran kota tidak terlalu berbeda dengan permukaan tanah setempat. Tanahnya relatif datar dan perlu diuji ketersediaan air bersih ataupun saluran air hujan untuk suatu kota besar dan luas di masa mendatang. Pada umumnya dahulu sumber daya kayu untuk konstruksi cukup, namun sukar memperoleh batuan, sehingga perlu mendatangkan dari luar. Pada tahap awal dahulu pembuatan jalan raya dilakukan dengan mengurug dengan batu kapur di rawa-rawa setempat. Permasalahan alami tersebut yang menyebabkan semula rencana ibukota Kalimantan Selatan akan dipindah ke Banjarbaru yang lebih tinggi permukaan tanahnya di pedalaman. Namun setelah tiga dekade, tampaknya Banjarmasin, Banjar Baru dan Martapura cenderung akan menjadi satu kota besar, dimana pembangunan berbasis daratan semakin dominan. Sayangnya kota tersebut kurang memiliki tata ruang awal yang cukup jelas/sistematis, serta ruang publik yang efektif. Untuk skala kota sedang, Banjar telah mengembangkan pusat kota (disekitar mesjid lama dan kantor walikota) yang cukup unik. Kedua tepi sungai Martapura di muka kantor walikota telah mulai ditata untuk rekreasi warga kota, promenade menghadap sungai, antar dua jembatan bersih dari bangunan di perairan, suatu ciri riverfront city, cukup potensial untuk acara-acara perayaan berbasis perairan di pusat kota. Penduduk Banjar sendiri hingga kini masih termasuk warga negara yang ramah. Sayang ruang kota yang tersedia tidak cukup potensial untuk menjadi bagian utama suatu kota yang lebih besar, apalagi ibu kota negara. Mungkin Bajarmasin masih lebih cocok bila dikembangkan sebagai kota wisata, dengan obyek kehidupan perairan, disamping kerajinan intannya dan akses ke kehidupan etnik Dayak di pedalaman. Secara fisik, kalau mau dijadikan ibu kota, mungkin perlu penataan khusus di dataran yang masih terbuka dan lebih tinggi, diantara Banjarmasin, BanjarBaru, Martapura, atau hingga Pleihari...ke arah pusat rekreasi di pantai Timur Kalimantan Selatan ?. Jadi ..secara horisontal (permukaan lahan yang tampak) masih ada peluang, walaupun bukan di Banjarmasin sekarang. Artinya, dapat dikembangkan sistem kota-kota yang memiliki fungsi utama (kawasan baru) sebagai pusat dan sub-sub pusat (ex-kota-kota lama) dengan fungsi-fungsi pendukung yang khas (Arsitek kan selalu mungkin menggagas suatu lingkungan fisik baru, ya kan Mas Djarot?). Saya sendiri belum memperoleh informasi mengenai kondisi di dalam tanah, paling kurang daya dukung untuk bangunan tinggi. Yang terduga adalah bahwa kalau mau dikembangkan, harus ada kemampuan untuk mengolah unsur kota (subway, sanitasi, dll) dalam tanah yang cenderung bersahabat dengan air. Namun kalau mau dikembangkan menjadi kota ideal...harus jauh-jauh hari penggunaan lahan-lahan terbuka dan perairan yang ada dicegah jangan sampai terburu di jadikan perumahan, toko dll model Jakarta....Sebaliknya perlu dirancang plot-plot untuk taman-taman (hijau terbuka, hutan kota, dll) dan danau-danau tengeran kota (misalnya Hanoi), yang sekarang tampaknya belum menjadi perhatian pengelola kota setempat. Begitu pak...? ATA 2010/8/13 Uton Rustan <[email protected]> p ATA, nimbrung apakah Banjarmasin bisa jadi pilihan alternatif ibukota NKRI ?? Jangan pake kriteria yg muluk-muluk, cukup liveable saja sg daya dukung lingkungan yg sustainable. --- On Fri, 13/8/10, abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> wrote: From: abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Banjarmasin To: [email protected] Date: Friday, 13 August, 2010, 8:14 AM Betul pak Eka ysh, peserta ekskursi sekitar 40-an mahasiswa. Setiap tahun kegiatan ekskursi merupakan inisiatif mahasiswa sesuai dengan perkembangan minat mereka. Kami berempat hanya sebagai nara sumber. Kali ini ekskursi menelusuri permukiman di atas perairan sungai (rumah panggung dan terapung), selain merekam sisa-sisa rumah Banjr. Semula mahasiswa ingin mempelajari rumah lanting sebagai realita permukiman masyarakat Banjar. Mengenai pendekatan fenomenologis (seperti yang pernah diungkapkan oleh mas Djarot) sesungguhnya sudah hampir satu dekade diintroduksi diantara dan dijadikan salah satu pendekatan kajian civitas academica di Departemen Arsitektur UI. Sebelum tahun ini, ekskursi ke luar daerah umumnya mempelajari kehidupan masyarakat dan tempat hidupnya berupa permukiman etnik di pedalaman. Sedangkan ekskursi jangka pendek di kota umumnya berkaitan dengan rancangan, proses dan teknologi bangunan moderen/komplek baru perkotaan. Di Departemen Arsitektur (S1 dan S2) baru dua tahun terakhir mata ajaran arsitektur di kawasan pesisir diperkenalkan, setahun lalu permukiman di perairan serta studio bersama (arsitektur, sejarah, perkotaan, teknologi bangunan) mempelajari hingga menggagas pengembangan kawasan kota pesisir yang diduga akan terkena dampak perubahan iklim. Sedangkan di PK Pengembangan Perkotaan (S2) Pasca Sarjana sejak dua tahun lalu dibuka MK Pengembangan perkotaan di kawasan kepulauan. Sedangkan di PS Ilmu Lingkungan (S2 dan S3) topik-topik berkaitan dengan lingkungan pesisir dan kepulauan kecil telah mulai dipilih sebagai judul tesis maupun disertasi peserta program. Sebelum ini beberapa dari mereka juga terlibat dalam kegiatan pengembangan di Aceh. Sebaliknya, beberapa lulusan terselamatkan dari krisis pekerjaan dengan bekerja di Singapura, karena salah satu kerja praktek adalah di negara tersebut. Saya cuma mengharapkan bahwa selain melalui seminar-seminar, diskusi, penelitian dan pengabdian masyarakat di lapangan selama ini, generasi berikut ilmuwan kita dapat lebih mengenal kehidupan lain di luar masalah "kotak" masalah kota Jakarta atau sekadar wilayah JABODETABEK. Dengan demikian ilmunya dapat lebih diamalkan ke lebih banyak warga negara kita. Mungkin baru semacam itu sumbangan kami ke negara ini. Salam, ATA 2010/8/6 - ekadj <[email protected]> Pak ATA ysh, kelihatannya bapak bawa rombongan besar ya ..... jadi curiga nih. Apa sedang memeriksa sarannya Pak Djarot dan Pak Deden? List terakhir. Cukup banyak tempat yang saya 'sentuh' di masa lampau, mulai Banjarmasin Tengah, Marabahan, Barabai, Kasarangan, hingga Batu Licin. Juga tentunya soto Banjar, ketupat Kandangan, saluang, udang galah, bingka, dll. Selamat menikmati perjalanan pak. Salam. -ekadj 2010/8/6 abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> Pak Ekadj ysh, saya masih di Banjarmasin dan sekitarnya. Sedang memotifasi mahasiswa2 saya (ex-daratan metropolitan) untuk lebih mengenal realita kehidupan bangsanya yang lain, dari daratan, panggung, lanting, desa, rumah panjnag dll, agar tidak menjadi arsitek salon. semoga. Acara ini memang tahunan, ke semua pelosok Indonesia. Rekan-rekan dosen arsitektur bersama mahasiswa multi disiplin juga mulai dilibatkan. Ada yang pulang dari pulau terluar sebelah timur Natuna, Sebatik maupun sebelah Timur kepulauan Maluku Tenggara, selam sebulan. Ternayat mereka mulai menyadari bahwa sama-sama di pulau terluar masalah kemasyarakatan dan lingkuingan pulau-lautnya juga berbeda. Semoga generasi berikutnya ga se"cupet" pandangannya seperti generasi lawas saat ini. Salam cinta Indonesia. ATA 2010/8/6 - ekadj <[email protected]> Pak ATA, masih di Banjarmasin-kah? Sangat berbanding terbalik dengan Jakarta, kalau di Banjarmasin ada seribu sungai dengan sedikit jembatan, sementara di Jakarta ada seribu jembatan dengan sedikit sungai. Saya sudah belasan tahun juga nggak kesana. Dulu ada mahasiswinya Pak Erwin, juga anggota milis ini, yang pernah meneliti rumah lanting (rumah di atas sungai). Mudah-mudahan masih ada, wong di Amsterdam saja masih ada. Pengembangan konsep metropolitan (Banjarmaskuala?) saya kira dimulai sekitar tahun 1997, sampai sekarang. Mudah-mudahan ada yang mau kasih cerita. Juga ada putera Barito, seperti Bang AndiS dll. Pokoknya: RCTI Ok! -ekadj 2010/8/5 abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> Kebetulan ini ketiga kalinya saya ke Kalimantan Selatan....nostalgia....menelusuri sungai ... Dalam hati sedih juga.... Kalimatan yang lebih dari tigapuluh tahun lalu masih banyak berhutan primer, dua puluhan tahun lalu mulai menjadi padang alang-alang.... Kali ini di kotanya saya sudah kehilangan kesan berada di luar Jawa, apalagi Mall dan fasiloitas kota dan jasa lainnya... Harga-harga di sini cukup tinggi, jauh dibanding dua kesempatan lalu saya ataupun dibandingkan di tempat biasa saya.... ...."maklum, di sini banyak orang kaya pak...". ...menurut pak polisi di perairan barito...sekarang beda pak, sekarang banyak perusahaan industri kayu yang pindah karena kayu sudah habis...., kegiatan pindah....masyarakat setempat juga pindah kegiatan...." ...Apakah saya masih mengalami keresahan yang lebih besar ...bila kegiatan yang berskala megapolis akan masuk ke "mantan" surga lingkungan ini....? Salam sedih.... ATA

