Terima kasih pak Aby, saya dulu pernah punya Buku beliau kalau ga salah judulnya "Malu Aku Jadi Orang Indonesia", ...tetapi ga tau tuh sekarang dimana buku itu ketlingsut. Pak Taufik itu sekarang punya "Rumah Puisi" di kampungnya di Padang Panjang, saya ingin suatu waktu kesana untuk kontemplasi.....hehe...coba saja disearch di situs ini http://rumahpuisi.com/ Salam - 2ny
--- On Sun, 9/5/10, hengky abiyoso <[email protected]> wrote: From: hengky abiyoso <[email protected]> Subject: Re: re [referensi] Re: Taufik Ismail: Kerendahan Hati To: [email protected] Date: Sunday, September 5, 2010, 11:51 PM Haha ..ini hanya omongan dalam negeri saja yg gak ada keren2nya acan.....Senang rasanya mendapatkan bu Reny menyukai puisi ...terlebih semacam karya Taufik Ismail .....berikut saya turunkan judul lainnya ...yg rasanya masih nyambung dgn semangat 17 Agustus bbrp minggu lalu, semangat 5 Oktober Hari jadi TNI dan semangat 10 Nopermber yad .......mudah2an berkenan dan selain bu Reny mudah2an masih ada yg masih meminatinya juga ......salam, aby Buku Tamu Musium Perjuangan Oleh : Taufiq Ismail Pada tahun keenam Setelah di kota kami didirikan Sebuah Musium Perjuangan Datanglah seorang lelaki setengah baya Berkunjung dari luar kota Pada sore bulan November berhujan dan menulis kesannya di buku tamu Buku tahun keenam, halaman seratus-delapan Bertahun-tahun aku rindu Untuk berkunjung kemari Dari tempatku jauh sekali Bukan sekedar mengenang kembali Hari tembak-menembak dan malam penyergapan Di daerah ini Bukan sekedar menatap lukisan-lukisan Dan potret-potret para pahlawan Mengusap-usap karaben tua Baby mortir buatan sendiri Atau menghitung-hitung satyalencana Dan selalu mempercakapkannya Alangkah sukarnya bagiku Dari tempatku kini, yang begitu jauh Untuk datang seperti saat ini Dengan jasad berbasah-basah Dalam gerimis bulan November Datang sore ini, menghayati musium yang lengang Sendiri Menghidupkan diriku kembali Dalam pikiran-pikiran waktu gerilya Di waktu kebebasan adalah impian keabadian Dan belum berpikir oleh kita masalah kebendaan Penggelapan dan salahguna pengatasnamaan Begitulah aku berjalan pelan-pelan Dalam musium ini yang lengang Dari lemari kaca tempat naskah-naskah berharga Kesangkutan ikat-ikat kepala, sangkur-sangkur berbendera Maket pertempuran Dan penyergapan di jalan Kuraba mitraliur Jepang, dari baja hitam Jajaran bisu pestol Bulldog, pestol Colt PENGOEMOEMAN REPOEBLIK yang mulai berdebu Gambar lasykar yang kurus-kurus Dan kuberi tabik khidmat dan diam Pada gambar Pak Dirman Mendekati tangga turun, aku menoleh kembali Ke ruangan yang sepi dan dalam Jendela musium dipukul angin dan hujan Kain pintu dan tingkap bergetaran Di pucuk-pucuk cemara halaman Tahun demi tahun mengalir pelan-pelan Deru konvoi menjalari lembah Regu di bukit atas, menahan nafas Di depan tugu dalam musium ini Menjelang pintu keluar ke tingkat bawah Aku berdiri dan menatap nama-nama Dipahat di sana dalam keping-keping alumina Mereka yang telah tewas Dalam perang kemerdekaan Dan setinggi pundak jendela Kubaca namaku disana….. GUGUR DALAM PENCEGATAN TAHUN EMPAT PULUH-DELAPAN Demikian cerita kakek penjaga Tentang pengunjung lelaki setengah baya Berkemeja dril lusuh, dari luar kota Matanya memandang jauh, tubuh amat kurusnya Datang ke musium perjuangan Pada suatu sore yang sepi Ketika hujan rinai tetes-tetes di jendela Dan angin mengibarkan tirai serta pucuk-pucuk cemara Lelaki itu menulis kesannya di buku-tamu Buku tahun-keenam, halaman seratus-delapan Dan sebelum dia pergi Menyalami dulu kakek Aki Dengan tangannya yang dingin aneh Setelah ke tugu nama-nama dia menoleh Lalu keluarlah dia, agak terseret berjalan Ke tengah gerimis di pekarangan Tetapi sebelum ke pagar halaman Lelaki itu tiba-tiba menghilang….. --- On Sun, 9/5/10, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: Taufik Ismail: Kerendahan Hati To: [email protected] Date: Sunday, September 5, 2010, 8:00 AM Amiiiin....tks puisinya...saya suka puisi2 pak Taufik Ismail... Salam 2ny Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT From: hengky abiyoso <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sun, 5 Sep 2010 04:35:14 -0700 (PDT) To: referensi<[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: [referensi] Re: Taufik Ismail: Kerendahan Hati Taufik Ismail: Kerendahan Hati Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar, Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya Jadilah saja jalan kecil, Tetapi jalan setapak yang Membawa orang ke mata air Tidaklah semua menjadi kapten tentu harus ada awak kapalnya…. Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu Jadilah saja dirimu…. Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

