Perusahaan Masih Enggan ke Pasar Modal joice Tauris santi
Pasar modal merupakan salah satu alternatif sumber dana selain dari perbankan. Namun, hingga kini muncul kesan perusahaan semakin enggan masuk pasar modal. Padahal, di negara lain pasar modal lebih dilihat sebagai sumber pendanaan dibandingkan dengan perbankan. Rendahnya peran pasar modal sebagai sumber pendanaan dapat dilihat dari perbandingan dana masyarakat yang terhimpun dari perbankan dan pasar modal. Hingga akhir pekan lalu, jumlah emiten baru yang melenggang di lantai bursa tercatat sebanyak 11 emiten dengan total dana hasil penawaran saham perdana sebanyak Rp 1,74 triliun, right issue Rp 10,57 triliun, dan waran Rp 0,69 triliun. Total dana masyarakat yang dihimpun dari penerbitan saham baru sepanjang tahun ini sebesar Rp 13 triliun. Sedangkan dana pihak ketiga perbankan sudah mencapai Rp 1.300 triliun. Di pasar surat utang, tahun ini ada emisi obligasi korporasi baru dari 14 emiten dengan total emisi obligasi sebesar Rp 11,5 triliun. Perusahaan atau emiten yang masuk ke pasar modal pun adalah perusahaan yang besar, belum menyentuh pada perusahaan berskala kecil atau menengah. Menurut ketua Asosiasi Emiten Indonesia Airlangga Hartarto, keengganan masuknya perusahaan ke pasar modal antara lain adalah isu perpajakan. Hingga kini, perusahaan tercatat di bursa dengan perusahaan yang di luar bursa dikenai pajak yang sama. Padahal, perusahaan tercatat lebih transparan dalam menyajikan laporan keuangannya dan lebih telanjang dibandingkan dengan perusahaan yang belum terdaftar di bursa. Diharapkan ada perlakuan yang berbeda antara perusahaan tercatat dengan yang belum tercatat sehingga menjadi salah satu penarik perusahaan masuk ke bursa dan meraup pendanaan dari pasar modal dibandingkan dengan menggantungkan sumber dana dari perbankan saja. Ketimpangan ini membuat kalangan pasar modal mendesak diadakannya perubahan dalam RUU Perpajakan yang baru. Selain itu, biaya yang dikenakan jika perusahaan menjadi tercatat di lantai bursa juga tidak sedikit. Biaya pencatatan saham sebesar Rp 1 juta untuk setiap Rp 1 miliar dari nilai kapitalisasi saham. Sedangkan biaya pencatatan tahunan sebesar Rp 500.000 untuk setiap kelipatan Rp 1 miliar dari total modal disetor. Emiten-emiten yang sedang mengalami kesulitan keuangan tidak jarang berutang biaya- biaya bursa ini. Transparansi juga seringkali dipandang sebagai sesuatu yang harus dibayar mahal oleh perusahaan di pasar modal. Seringkali ini juga yang menjadi ganjalan terbesar. Di sisi lain, masyarakat yang belum sepenuhnya memercayai pasar modal karena mencuat kecurangan-kecurangan yang dilakukan emiten di pasar modal setelah meraup dana masyarakat. Ada juga emiten yang melakukan aksi-aksi korporasi yang merugikan investor yang telah menanamkan uangnya di pasar modal. Beberapa emiten seperti Sari Husada dan Darya Varya juga memilih untuk kembali menjadi perusahaan tertutup (go private) karena porsi saham publiknya terlalu kecil sehingga harganya mudah dipermainkan. Selain itu, permodalan internal dirasakan sudah terlalu kuat sehingga tidak perlu menggalang modal lagi, misalnya menerbitkan surat utang atau menerbitkan saham baru di bursa. Belum banyaknya perwakilan perusahaan sekuritas atau manajer investasi di daerah-daerah juga menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat yang ingin ikut bermain di pasar saham. Berbeda dengan bank yang sudah memiliki cabang dan unit sampai ke pelosok daerah sehingga mudah diakses masyarakat pedesaan. Kurangnya perpanjangan tangan bursa di daerah ini hendaknya menjadi perhatian tersendiri ke depan. Namun, kinerja indeks selama tahun 2006 (sampai dengan 6 Desember) yang sudah tumbuh lebih dari 60 persen dibandingkan tahun lalu jika dihitung dalam mata uang lokal, sedangkan dalam dollar AS pertumbuhannya telah mencapai 77 persen, dan merupakan bursa dengan kinerja terbaik di Asia diikuti dengan bursa Shanghai China dan Mumbai India. Hal ini menjadi pendorong tersendiri bagi investor maupun perusahaan yang belum go public. Pada tahun 2010, indeks harga saham gabungan (IHSG) bahkan diprediksi bisa mencapai angka 3.000. Ini bukan suatu hal yang tidak mungkin. Tahun depan saja mungkin IHSG bisa mencapai di atas 2.000, kata Direktur Utama Bursa Efek Jakarta Erry Firmansyah. Dalam hal variasi produk, Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) juga cukup memberikan dukungan dengan mengeluarkan berbagai aturan baru mengenai produk di bursa. Sebut saja aturan mengenai produk-produk syariah di pasar modal, kemudian reksa dana yang unit penyertaannya dapat diperdagangkan di bursa. Adanya rencana penyatuan bursa pada tahun 2007 tentunya juga membawa dampak tersendiri, terutama terhadap adanya bursa yang lebih besar. Produk yang ditawarkan bisa lebih variatif. Tantangan ke depan adalah bagaimana memperbanyak perusahaan yang mau menjadi perusahaan terbuka, dan terlebih harus membuat perusahaan terbuka tersebut lebih berkualitas. Selain itu, kita juga harus memperbanyak basis investor, kata Erry. Dengan memperbanyak jumlah emiten berkualitas, kenaikan IHSG akan lebih mencerminkan kinerja emiten secara keseluruhan. Sedangkan dengan memperbesar basis investor, kekhawatiran harga indeks yang terlalu tinggi akibat permainan segelintir hedge fund bisa diminimalisasi. Pertanian dan UMKM Industri perbankan yang hingga saat ini masih mendominasi sektor finansial di Indonesia, belum secara signifikan menjadi agen pemicu kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam menjalankan fungsi utamanya, yakni intermediasi, perbankan cenderung tidak memihak kepada masyarakat kecil dan miskin yang notabene merupakan mayoritas di negeri ini. Kredit yang disalurkan ke sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) per September 2006 baru mencapai Rp 390,56 triliun atau 52 persen dari total kredit yang mencapai Rp 746,41 triliun. Sisanya disalurkan ke sektor korporasi. Padahal, jumlah UMKM tercatat mencapai 42,4 juta atau 99 persen dari usaha yang beroperasi di Indonesia. Tenaga kerja yang berkarya di sektor UMKM mencapai 79 juta orang atau 83 persen dari total pekerja sebanyak 95,46 juta orang. Ada beberapa alasan yang membuat perbankan cenderung enggan berpihak pada UMKM. Pertama, banyak UMKM yang dinilai perbankan tidak layak diberikan kredit karena tidak memiliki agunan berupa aset tetap, seperti tanah. Kekurangmampuan perbankan dalam menganalisis sektor usaha UMKM membuat agunan menjadi penting sebagai penutup risiko. Kedua, kredit yang disalurkan ke UMKM biasanya bernilai kecil sehingga tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan perbankan. Data juga menunjukkan, dari 42,4 juta UMKM, baru sekitar 13,3 juta yang tersentuh oleh bank. Padahal sejatinya, UMKM sangat membutuhkan tambahan modal untuk mengembangkan usahanya. Sebagian besar UMKM juga merupakan industri rumah tangga yang tidak memiliki banyak cara dalam mengakses modal. Berbeda dengan korporasi yang mampu mengakses modal dengan berbagai cara, mulai dari pasar uang sampai pasar modal dengan segala derivatifnya. Korporasi umumnya juga memiliki dana sendiri yang bisa diputar untuk menggerakkan usahanya. Peraih Nobel Perdamaian tahun 2006, Muhammad Yunus, mengatakan, makna sejati dari intermediasi perbankan adalah menjembatani pihak yang kelebihan dana dengan pihak yang kekurangan dana. Pihak yang kekurangan dana umumnya adalah UMKM, bukannya korporasi. Perbankan juga cenderung tidak berpihak pada sektor pertanian. Per September 2006, kredit ke sektor tersebut hanya Rp 40,34 triliun atau 5,4 persen dari total kredit. Padahal fakta menunjukkan jumlah orang yang bekerja pada sektor pertanian mencapai 40,14 juta atau 42 persen dari total pekerja. Ini juga menjadi salah satu penyebab angka kemiskinan masih sangat tinggi. Kredit perbankan juga belum mencerminkan hakikat pemerataan dan desentralisasi. Kredit yang tersalurkan di kawasan Jakarta masih sangat dominan, mencapai Rp 370 triliun atau 50 persen dari total kredit. Padahal, sebagian besar orang miskin tinggal di luar Jakarta. (Tiur Santi Oktavia/Fajar Marta) -- Kuliner Indonesia, milis tentang makanan dan tempat makan di dalam, juga dari luar negeri. Disajikan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Daftar ke mailto:[EMAIL PROTECTED] Arsipnya bisa dibaca di http://groups.yahoo.com/group/kuliner_ind/messages DILARANG KERAS MEMOSTING OPINI PRIBADI TENTANG POLITIK DI MILIS INI. Silahkan lakukan itu di milis [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] untuk unsubscribe dari milis saham [EMAIL PROTECTED] untuk subscribe ke milis saham Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
