Ada beberapa faktor yang saya lihat mempengaruhi PE:

1.    Faktor barangnya apakah masuk kategori global goods seperti komoditas yg 
dipakai untuk konsumsi dunia. Utk yang ini saya lebih setuju PE-nya boleh 
dibandingkan dengan PE perusahaan Peer sejenis di dunia ini.

2.    Faktor suku bunga negara ybs khususnya untuk perusahaan-perusahaan lokal. 
Semakin rendah suku bunga bank sentral suatu negara, seharusnya semakin tinggi 
PE rationya jika dibandingkan relatif terhadap perusahaan sejenis di negara 
lainnya dengan suku bunga yang lebih tinggi. Jadi normalnya untuk Indonesia 
haruslah 100/9 = 12 X (mis. 9% suku bunga BI). Karena suku bunga berbeda, kita 
tidak dapat membandingkan perusaahaan manufaktur (non-global goods) yang 
sejenis antar negara.

3.    Faktor perusahaannya sendiri:  3.1.    Competitive Positioning    : 
Perusahaan yg punya franchise value, monopolistik, market leader ==> PEnya 
relatif lebih tinggi dari Peer groupnya
                                                     3.2    Certainty level 
dari income streams: Pendapatan Telkom sifatnya lebih pasti dari pendapatan 
Astra (karena penjualan mobil bisa naik turun) ===> PE seharusnya berbanding 
semakin tinggi jika certainty level dari income streams semakin pasti.
                                                    3.3    Hutang bank: Jika 
kinerga dua perusahaan sama tetapi satu dengan 100% modal dan satunya lagi 50% 
modal dan 50% hutang ==> maka yang punya hutang haruslah PEnya lebih rendah. 
Anda haruslah melihat hutang sampai level tertentu beresiko. Anda bisa 
membandingkan kinerja perusahaan seperti begini, kalau perusaahaan ke-2 tidak 
pinjam hutang maka tentu modal bertambah dan jumlah saham bertambah sehingga 
EPS menjadi lebih kecil  ==> dan ini menyebabkan PE (PE = Price/ EPS) menjadi 
lebih besar.
                                                    3.4    Transparansi dari 
Manajemen: Manajemen yang semakin bonafid dan transparan seharusnya mempunyai 
PE yang lebih tinggi dari yang tidak transparan
                                                    3.5.    Likuiditas. Saham2 
tidur dan tidak likuid tentu mempunyai PE yang lebih rendah dari PE saham2 yang 
lebih aktif.


4.    Country/Political risk suatu negara dimana perusahaan tsb berada.

Market risk yang tidak masuk di faktor2 di atas adalah likuiditas yang ada di 
pasar lokal dan dunia dan bandar yang goreng/menggoreng saham supaya naik atau 
turun.


Semua hal yang saya kemukakan ini sifatnya RELATIF terhadap perusahaan lainnya 
(peer group untuk perusahaan lain di negara lain atau di suatu negara) dan 
faktor2 di atas SALING BERKAITAN.


Regards

  ----- Original Message ----- 
  From: gunawan asali 
  To: [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Tuesday, May 08, 2007 5:29 PM
  Subject: [saham] Butuh penjelasan mengenai asumsi PER (Price to Earning Ratio)



  Rekan2 yth,

  Mohon bantuan dari para senior2/analysts di sini mengenai asumsi PER yang 
dipakai di setiap analisa / ulasan saham2 yang selama ini dimuat di milist ini.

  Terakhir saya baca bahwa asumsi PER yang dipakai oleh Trimegah securities 
untuk saham INCO yaitu 6.1X sedangkan kita semua tahu bahwa PER ini dipakai 
untuk menentukan/memprediksi harga saham tsb. ke depannya.

  Informasi yang saya terima selama ini yaitu PER lebih mengacu ke 
sektor/industri sejenis, yang mana jika hal ini kita ambil maka INCO seharusnya 
memakai PER minimal 15X.

  Thanks atas penjelasannya.

  Gunawan
  Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

   

Kirim email ke