Hari ini di koran Bisnis Indonesia banyak dimuat laporan keuangan semester satu. BNBR penghasilan bersihnya saja sudah di bawah tahun lalu (turun 5%). Tapi laba bersihnya masih bisa naik sedikit (1,8%) sehingga laba bersih per sahamnya Rp 3,29. Dengan harga saham Rp 315, PER-nya jadi 98 kali bo. Yang di luar dugaan saya, UNSP dengan penjualan bersih naik 45%, laba bersihnya justeru turun 8% dari tahun lalu. Penyebabnya adalah kenaikan signifikan di biaya bunga. Parah nih. Untuk industri sejenis, LSIP yang membukukan kenaikan penjualan bersih cuma 19%, tapi laba bersihnya naik 51% dari tahun lalu. Sayang sahamnya kurang likuid. Harusnya AALI bakalan bagus juga performancenya.
Indofarma ruginya 5,9 M, lebih gede dari tahun lalu yang 5,5 M. Ciputra Development dan Ciputra Surya juga turun laba bersihnya. Laba bersih Ciputra Development turun dari 545 M jadi hanya 56 M. Mungkin property bergeraknya di semester dua. Saham property lainnya, Jababeka, laba bersihnya naik 100%. Laba Bukit Sentul mencapai 37 M, meningkat dari rugi 18 M tahun lalu. Metrodata laba bersihnya naik 95%. Makanya harga sahamnya sempat hot sampai diisyukan mau diakuisisi TMPI. Astra Otoparts, saham yang tidurnya kelamaan dan tidak likuid, laba bersihnya naik 58%. Saudaranya di Astra Group, United Tractor, penjualan bersihnya naik 18%, tapi laba bersihnya hanya naik 2,5%. Problemnya sama dengan UNSP, beban bunganya meningkat signifikan. Agak mengecewakan untuk saham perusahaan yang katanya kesayangan investor. Tapi ini dari sisi historical fundamental ya. Untuk prospek masa depan dan analisa teknikal ya monggo kerso. Salam, Gandhi
