Berbagai Cara Menganalisa Pasar April 29th, 2007 Berkali-kali saya
diingatkan dan mengingatkan diri bahwa saya harus selalu berpikiran terbuka dan
tidak menutup sebelah mata terhadap berbagai cara pandang orang. Hal ini juga
sangat relevan terhadap pandangan kita ketika ingin menganalisa pasar.
Bayangkan kita sebagai seorang buta yang ingin menentukan apakah binatang
yang kita pegang adalah seekor gajah. Ketika kita hanya pernah memegang ekor
gajah, maka kita mengasosiasikan ekor gajah dengan gajah. Ketika kita hanya
pernah memegang telinga gajah, maka kita mengasosiasikan telinga gajah dengan
gajah. Ketika kita pernah memegang ekor dan telinga gajah, maka kita akan
mengenali suatu binatang sebagai gajah apabila telinga dan ekornya sama dengan
apa yang kita kenali sebagai ekor dan telinga gajah. Semakin banyak bagian
gajah yang kita kenali, semakin akurat kita dalam menentukan apakah binatang
yang kita pegang itu adalah gajah. Moral of the story: Kenalilah
sebanyak-banyaknya fakta-fakta dan sudut pandang dari apa yang ingin kita
analisa.
Ada berbagai cara pandang ketika kita ingin menganalisa pasar. Menurut saya,
cara-cara tersebut bisa dikategorikan sebagai berikut:
Technical Analysis (Analisa Teknikal)
Di sini, kita menggunakan informasi yang bersumber dari pasar itu sendiri:
harga dan volume transaksi.
Apakah yang kita cari dari analisa teknikal? Menurut saya, kita melihat
teknikal analisis untuk mengetahui sentimen para pemain pasar dalam jangka
pendek.
Banyak metode-metode analisa teknikal: dari candlestick patterns, berbagai
indikator seperti MACD, RSI, berbagai geometric patterns seperti W, M,
segitiga, dll. Buku-buku tentang metode-metode analisa teknikal juga bersebaran.
Isu utama yang perlu kita jawab sebelum mengartikan dan menggunakannya adalah
memahami konteks kemunculan patterns-patterns tersebut. Contoh simpel: jika
kita pernah belajar Candlestick, tentu kita tahu apa yang namanya Doji. Ketika
kita melihat Doji, kita harus tahu konteks dari munculnya Doji itu. Misalnya:
Apa trend sudah terbentuk sebelum kemunculan Doji? Bagaimana kondisi pasar
keseluruhan di hari itu?
Isu kedua yang perlu dibahas adalah evaluasi seberapa efektif teknik-teknik
tersebut. Isu kedua ini bisa dibahas dengan lebih baik ketika kita sudah
memahami isu pertama.
Fundamental Analysis (Analisa Fundamental)
Di sini, kita mengorek-orek informasi tentang sehatnya suatu perusahaan.
Apa yang kita cari? Menurut saya, dengan analisa fundamental kita ingin tahu
apakah profitibilitas perusahaan ini bisa tumbuh dan berkelanjutan. Bagaimana
kita bisa tahu? Mungkin kita bisa mulai dari mencari tahu apakah industri di
mana perusahaan itu beroperasi sedang berkembang. Kita juga ingin tahu apakah
perusahaan itu memiliki keunggulan kompetitif dibanding saingan-saingannya.
Lebih tinggi lagi, kita ingin tahu kemungkinan-kemungkinan akuisi suatu
perusahaan oleh perusahaan lainnya.
Efek dari analisa fundamental akan terasa di jangka menengah dan jangka
panjang.
Menurut saya, analisa fundamental tidak cukup hanya dari melihat laporan
keuangannya. Tidak cukup hanya dari melihat P/E ratio.
Strategic Analysis (Analisa Strategis)
Di sini, kita tertarik untuk melihat trend-trend ekonomi, sosial, politik,
dan demografis dari suatu daerah, negara, kawasan, dan dunia.
Pasar modal tidak hidup sendiri. Dia saling terkait dengan sendi-sendi lain
suatu peradaban.
Contoh pertanyaan-pertanyaan berikut termasuk bagian analisa strategis:
Apa yang akan terjadi jika Cina menginvasi Taiwan? Apa efeknya ke pasar Hong
Kong, Taiwan, Singapura, Jepang, dll? Apa yang akan terjadi dengan Yuan, Hong
Kong Dollar, Yen, Emas, Euro, dll?
Apa efek dari trend outsourcing ke India?
Apa efek dari trend pemanasan global? Minggu lalu saya membaca artikel di
Newsweek bahwa negara-negara bagian utara malah diuntungkan dari pemanasan
global, sedangkan negara-negara tropis dirugikan.
Apa efeknya jika rating SBY-JK turun drastis. Apa efeknya jika SBY terpilih
kembali.
Analisa strategis bukanlah hal yang mudah. Banyak faktor-faktor yang bermain.
Apalagi faktor-factor itu bersifat dinamis. Buat yang tertarik silakan mencari
tahu tentang the Butterfly Effect.
Long Term Capital Management (LTCM) adalah sebuah hedge fund yang dulu sangat
sukses di AS. Fund ini diisi oleh orang-orang berkaliber tinggi secara
akedemis, beberapa adalah penerima Nobel Prize. Mereka mengekploitasi
kesempatan arbitrage di berbagai pasar utang. Selama beberapa tahun, mereka
sukses besar, sampai menolak dana baru yang ingin masuk. Tahun 1998, Rusia
tidak bisa membayar surat utangnya. Kejadian ini menggoyang pasar surat utang
dunia dan membuat strategi LTCM tidak bisa bekerja seperti di waktu-waktu
normal. Tentu ada banyak ulasan mengenai mengapa LTCM jatuh pada saat itu (dari
leveraging yang berlebihan sampai kesulitan untuk mendapat dana segar). Satu
hal yang ingin saya tekankan adalah, menurut saya, LTCM tidak melihat apa yang
untuk orang-orang di analisa teknikal bisa melihat => bahwa tanda-tanda bencana
bisa dengan jelas terlihat. Buat LTCM, yang notabene dari kalangan akademis,
analisa teknikal adalah hal yang tidak ada pondasinya dan tidak perlu
dipercaya.
Tulisan di atas tidak menunjukkan bahwa penulis memahami ketiga cara pandang
untuk melihat pasar. Saya masih perlu banyak belajar. Masukan dan kritikan
sangat diharapkan.
---------------------------------
Tonight's top picks. What will you watch tonight? Preview the hottest shows on
Yahoo! TV.