*UDARA begitu dingin di London. Suhu sudah mencapai minus 10 derajat celcius. Masih banyak warga yang belum berani ke luar rumah. Mereka memilih tinggal di dalam. Kalaupun ke luar, mereka hanya membeli minyak sebagai bahan bakar penghangat ruangan.*
Cuaca ekstrem ini, tak hanya menyerang Inggris, tapi semua negara di Eropa. Entah sampai kapan cuaca seperti ini akan berakhir. Namun yang jelas, udara dingin di London tak mengubah jadwal Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bumi Plc pada Kamis (21/2) pekan ini. Dalam RUPS yang akan berlangsung di Honourable Artilery Company, Armoury House, City Road itu, para pemegang saham kunci akan memutuskan permintaan co-founder Bumi Plc, Nathaniel Rothschild. Nat—begitu Nathaniel Rothschild kerap disapa—dalam suratnya kepada manajemen Bumi Plc meminta agar 12 dari 14 direktur perusahan tersebut dipecat, termasuk CEO Bumi Plc yang baru Nick von Schirnding dan Chairman Samin Tan. *Reshuffle* gaya Nat ini tak begitu mengagetkan. Nat selama ini kerap berseberangan dengan anggota BoD (Board of Directors) Bumi Plc lainnya, terutama pemegang saham mayoritas, yakni PT Bakrie & Brothers Tbk (23,8%) dan PT Borneo Lumbung Energy Tbk milik Samin Tan (23,8%). Bagi orang awam, langkah pengusaha keturunan Yahudi ini agak mengherankan. Namun, dalam aturan main di Bursa Efek London (London Stock Exchange), pemegang saham di atas 5% diberi hak untuk meminta manajemen perusahaan menyelenggarakan RUPS atau RUPS Luar Biasa. Nat sendiri hanya memiliki 11% saham di Bumi Plc. Tapi, belakangan disebut-sebut telah menjadi 13% setelah dia membeli sedikit demi sedikit saham Bumi Plc di pasar. Dengan cara ini, dia berharap memiliki hak voting lebih besar dalam RUPS tanggal 21 Februari ini. Nat tak hanya membeli saham publik. Dia juga terus menggalang kekuatan dengan melobi para pemegang saham minoritas Bumi Plc agar berpihak kepadanya. Nat juga membuka nama-nama calon direksi baru yang menjadi pilihannya, seperti mantan Leighton Holdings Ltd head Wallace King sebagai direksi, Brock Gill sebagai CEO, dan dia sendiri sebagai direktur eksekutif. “Yang saya tahu, Nat juga menyiapkan Pak Hashim (Hashim Djojohadikusumo). Demikian pula mantan Dubes Inggris untuk Indonesia, Richard Gozney,” ujar Amir Sambodo, Direktur Independen Bumi Plc, kepada *InilahREVIEW. * Tentu saja, serangan Nat tak membuat kubu Samin Tan dan Grup Bakrie diam. Mereka sudah menyiapkan sejumlah strategi untuk melawan proposal Nat. "Kami sudah melakukan pembicaraan dengan pemegang saham kunci mengenai dukungan terhadap program kami ," ujar Samin Tan kepada *Bloomberg*. Samin Tan yakin, kubunya mendapat dukungan untuk menjegal upaya Nat me-*reshuffle *jajaran direksi. Di tempat terpisah, Grup Bakrie menyatakan, mereka memiliki hak untuk mengajukan calon direksi, *chief executive officer*, dan *chief financial officer *Bumi Plc. *Dikeruk Habis* Saling klaim antara kedua kubu, tentu saja akan membuat ‘pertarungan’ di RUPS nanti bakal seru. Masing-masing punya hak voting cukup kuat. Asal tahu saja, pada 19 Desember tahun lalu, United Kingdom Take Over Panel atau badan yang mengawasi dan menetapkan peraturan mengenai aksi akuisisi perusahaan di Inggris menyatakan bahwa antara Grup Bakrie (PT Bakrie & Brothers Tbk dan Long Haul Holding), Samin Tan (PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk), dan Rosan Perkasa Roeslani (PT Bukit Mutiara) memiliki hubungan *concerted party *sebagai pemilik saham di Bumi Plc. Akibat putusan ini, agregat hak suara (*voting rights*) ketiganya di Bumi tidak boleh lebih 30%. “Inilah yang membuat Samin Tan kecewa berat,” kata Amir Sambodo. Memang, banyak yang kecewa atas putusan tersebut. “Keputusan panel itu membuat kami dalam situasi dirugikan,” kata Christopher Fong, juru bicara Grup Bakrie. Banyak kalangan menduga, keputusan panel tersebut tak lepas dari lobi Nat dan keluarga besarRothschild. Sekadar mengingatkan, keluarga Rothschild sudah lama dikenal di Inggris sebagai pengusaha kenamaan dan cukup disegani. Keluarga ini sudah malang melintang membangun imperium bisnis sejak abad ke-18. Itulah kenapa, Nat begitu bernafsu untuk memenangkan ‘pertarungan’ dalam RUPS nanti. “Dia ingin menguasai Bumi Plc, termasuk manajemennya,” ujar Amir Sambodo. Amir tak salah. Sebab, dengan menguasai Bumi Plc, Nat bisa mengontrol dan mengoperasikan Bumi Resources. Bumi Resources sendiri bukan perusahaan main-main. Saat ini, total cadangan batu bara perusahaan ini sebanyak 2,8 miliar. Cadangan sebanyak itu, dimiliki anak usahanya, PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia (Arutmin). Tahun ini, Bumi Resources menargetkan produksi batu bara mencapai 75 juta ton, naik 13,6% dibanding periode yang sama tahun lalu. Bila ini sampai terjadi, bisa dibayangkan bagaimana leluasanya Nat mengeruk batu bara dari perut bumi Indonesia. “Kekayaan alam kita dibawa lari ke luar negeri,” tambah Amir Sambodo. Susilo Siswo Utomo,Wakil Menteri ESDMmemahami munculnya kekhawatiran semacam itu. Karena itu, katanya, pemerintah akan mengawasi. “Tapi, yang perlu diingat bahwa di antara mereka ada kesepakatan bisnis yang harus dihormati masing-masing pihak. Pemerintah tidak ikut campur,” kata Susilo kepada InilahREVIEW, Jumat pekan lalu. *Diadu Domba* Sebenarnya, sejak awal berkongsi dengan Grup Bakrie, niat Nat sudah tidak baik. “Mulutnya manis. Kalimatnya menyenangkan. Tapi, semua itu cuma ‘pembungkus’,” kata sumber yang pernah mengenal Nat cukup lama. Marilah lihat awal mereka meneken perjanjian jual beli saham. Pada November 2010, Nat lewat Vallar Plc membuat perjanjian jual beli saham dengan PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) dan beberapa perusahaan dalam kelompok usaha Bakrie. Dalam transaksi yang dikenal dengan tukar guling saham PT Bumi Resources Tbk itu, Grup Bakrie melepaskan 5,2 miliar (25%) saham Bumi Resources di harga Rp 2.500 per saham, senilai Rp 13 triliun kepada Vallar Plc. Kemudian, Vallar barter dengan 90,1 juta saham baru seharga GBP 10 per saham kepada Bakrie. Kala itu, Bakrie menguasai 43% saham Vallar Plc, sedangkan Vallar Plc memiliki 25% saham Bumi Resources. Tak lama setelah transaksi tersebut, Vallar Plc berganti nama menjadi Bumi Plc. Kala itu, keduanya masih mesra di Bumi Plc, bahkan sempat menambah kepemilikan sahamnya di Bumi Resources sebanyak 3,3% menjadi 32,1%. Setelah melewati titik ini, Nat mulai ketahuan belangnya. Dia mulai menyebar isu mengenai potensi gagal bayar alias *default* Grup Bakrie akibat krisis Eropa. Dengan menyalahkan krisis Eropa, harga saham Bumi Plc di London Stock Exchange terus tergerus sehingga berpengaruh pada nilai saham yang sedang dijadikan jaminan atas pinjaman ke Credit Suisse. Emiten berkode BNBR itu pun mengambil langkah-langkah yang diperlukan, antara lain mengupayakan fasilitas pinjaman baru. Langkah Nat mengambil alih Bumi Plc makin gencar. Dia ketahuan sedang mengincar kursi direktur utama. Grup Bakrie mencium rencana ini. Mereka lalu melakukan perlawanan dengan cara membatalkan rencana divestasi 75% saham PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS). Akhirnya, Grup Bakrie memilih menjual sekitar 23,8% sahamnya di Bumi Plc kepada PT Borneo Lumbung Energy Tbk (BORN) milik Samin Tan. Nilai transaksinya mencapai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 8,5 triliun saat itu. Sejak saat itu, kisruh di tubuh Bumi Plc tak pernah surut. Bahkan, Nat mencoba memecah belah pengusaha Indonesia, yakni dengan mengajak Hashim Djojohadikusumo duduk di jajaran direksi Bumi Plc. *Menyambut BUMI* Untuk membendung langkah Nat menguasai tambang batu bara Indonesia, Grup Bakrie mengajukan perceraian dengan Bumi Plc. Caranya, lewat tukar guling 23,8% saham Bumi Plc dengan 10,3% saham Bumi Resources. Selain itu, mereka juga menawarkan pembelian 18,9% saham Bumi Resources yang dipegang Bumi Plc seharga US$ 278,3 juta. Bumi Plc menyetujui proposal ini. Selasa pekan lalu, mereka meneken perjanjian berupa *heads of term agreement* tentang pemisahan perusahaan dari Grup Bakrie dan Bumi Resources. Dengan begitu, Bumi Plc dapat mendivestasikan semua sahamnya di Bumi Resources dan mengeluarkan Grup Bakrie dari perusahaan. Hanya saja, semua transaksi ini harus mendapat persetujuan dari pemegang saham dan direksi Bumi Plc yang akan menggelar RUPS pada 21 Februari nanti. Meski begitu, *deal* ini disambut positif investor di Bursa Efek Indonesia. Pada Kamis pekan lalu, harga saham Bumi Resources yang berkode BUMI ditutup naik hingga 26,38% ke level Rp 910 per saham. Volume perdagangan saham BUMI mencapai 675,42 juta saham dengan nilai transaksi Rp 562,73 miliar. Ini merupakan kenaikan tertinggi saham BUMI sejak awal tahun 2013. Inikah pertanda kemenangan Grup Bakrie dan Samin Tan? *Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-25 Tahun II yang terbit, Senin, 18 Februari 2012.*
