Tahun 2007, Omzet Penjualan Diproyeksikan Naik 17 Persen Jakarta, Kompas - Omzet penjualan di pasar ritel pada tahun 2007 diproyeksikan naik 17 persen dari tahun sebelumnya. Kenaikan itu masih didominasi oleh konsumen kelas menengah ke atas, sedangkan kelas bawah dinilai sangat mengkhawatirkan.
"Dominasi pasar itu menandakan kesenjangan sosial masih menjadi persoalan berat di negeri ini. Kondisi itu diperparah lagi akibat kenaikan harga kebutuhan pokok yang belum diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Handaka Santosa seusai pertemuan informal peritel modern dan media massa, Selasa (1/5). Berdasarkan data Aprindo, total omzet penjualan ritel tahun 2005 sebesar Rp 42 triliun. Tahun 2006 omzet meningkat menjadi Rp 50 triliun. Tahun ini Aprindo memperkirakan terjadi pertumbuhan 17 persen, yakni mencapai Rp 58,5 triliun. Kontribusi omzet penjualan itu, antara lain, diperoleh dari minimarket sebanyak 4.861 gerai, supermarket 515 gerai, dan hipermarket 75 gerai. Handaka mengatakan, pertumbuhan penjualan di pasar ritel memang menggembirakan bagi peritel modern. Namun, margin keuntungan yang diperoleh peritel semakin hari habis untuk biaya operasional, antara lain membayar sewa gedung, gaji karyawan, dan perizinan lainnya. "Belum lagi kalau pemerintah menemukan barang-barang kedaluwarsa di rak pajang. Ini bikin pusing karena penemuan barang kedaluwarsa terjadi akibat kelalaian petugas penjualan produk itu," ujar Handaka. Pasar tradisional Sekretaris Jenderal Aprindo Tutum Rahanta mengatakan, omzet penjualan sesungguhnya bisa ditingkatkan jika pasar tradisional segera dibenahi. Dari 151 pasar tradisional di Jakarta, misalnya, kondisi fisiknya sangat memprihatinkan. Hal semacam ini membutuhkan komitmen dari pemerintah. "Untuk menggairahkan transaksi penjualan sekaligus meningkatkan margin keuntungan peritel di pasar tradisional, Aprindo siap memfasilitasi dengan membuat pusat distribusi kebutuhan pokok sehingga pedagang bisa memperoleh barang dengan lebih murah," tutur Tutum. Direktur Keuangan Ramayana Setiasa Kusuma mengatakan, transaksi penjualan juga bisa dikontribusikan dari hasil belanja barang wisatawan asing. Transaksi akan meningkat kalau pemerintah bersedia memberikan refund atas Pajak Pertambahan Nilai (PPN). (OSA) -- Kuliner Indonesia, milis tentang makanan dan tempat makan di dalam, juga dari luar negeri. Disajikan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Daftar ke mailto:[EMAIL PROTECTED] Arsipnya bisa dibaca di http://groups.yahoo.com/group/kuliner_ind/messages Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham. DILARANG KERAS MEMOSTING OPINI PRIBADI TENTANG POLITIK DI MILIS INI. Silahkan lakukan itu di milis [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] untuk berhenti dari milis saham [EMAIL PROTECTED] untuk bergabung ke milis saham Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
