16/01/08 11:56
  Econit: Ekonomi Indonesia 2008 Hadapi "Awan Mendung"  
Jakarta (ANTARA News) - Lembaga riset ekonomi Econit Advisory Group 
mengingatkan bahwa ekonomi Indonesia menghadapi "awan mendung" pada tahun 2008.

"Tidak berbeda dengan kondisi sebelum krisis 1997/1998 yang ditandai dengan 
munculnya berbagai resiko, akan merupakan awan mendung bagi ekonomi Indonesia," 
kata ekonom Econit, Rizal Ramli, ketika menyampaikan Economic Outlook 2008 di 
Jakarta, Rabu.

Menurut dia, jika terjadi goncangan, baik domestik maupun eksternal, awan 
mendung itu bisa terakumulasi mengakibatkan instabilitas ekonomi dan sosial.

"Jika kita membandingkan kondisi sebelum krisis ekonomi dan politik tahun 97/98 
dengan saat ini (2008), sulit untuk tidak menarik kesimpulan bahwa berbagai 
faktor pemicu krisis muncul dengan besaran yang berbeda-beda," kata Rizal.

Menurut dia, saat ini terjadi kontradiksi kinerja indikator finansial yang 
sangat baik (finansial bubble), sementara di sisi lain terjadi perlambatan 
sektor riil dan percepatan deindustrialisasi sektor manufaktur.

Perbaikan kinerja indikator finansial sangat vulnerable (rapuh) jika tidak 
didukung oleh perbaikan produktivitas, daya saing dan investasi riil, karena 
yang terbentuk akhirnya hanya balon finansial yang akan terus menggelembung 
sebelum akhirnya kempes secara perlahan atau mendadak.

Jika balon finansial itu kempes secara perlahan, ekonomi akan mengalami soft 
landing dengan dampak relatif minimum. Tetapi jika balon finansial tersebut 
kempes mendadak akibat shock internal maupun eksternal maka ekonomi akan 
mengalami hard landing dengan dampak yang lebih luas dan kompleks.

Menurut Rizal, penyebab utama kontradiksi sektor finansial dan riil adalah 
derasnya aliran modal global dalam bentuk hot money ke negara-negara berkembang 
Asia termasuk Indonesia. Sampai November 2007, jumlah dana asing di instrumen 
finansial Indonesia mencapai sekitar Rp891 triliun.

Goncangan baik karena faktor eksternal maupun domestik, dapat berakibat 
terjadinya arus balik hot money dan terkoreksinya balon finansial. 

Indonesia sangat rentan terhadap shock karena sejumlah faktor. Faktor itu 
adalah peningkatan ekspor dan cadangan devisa hanya ditopang kenaikan harga 
komoditi internasional dan aliran hot money. Peningkatan itu tidak diikuti 
dengan peningkatan daya saing ekspor atau peningkatan aliran investasi langsung.

Faktor lainnya adalah pertumbuhan sektor perbankan yang semu. Net interest 
margin perbankan pada 2007 sangat besar mencapai 5,7 persen, namun tidak 
didukung oleh perbaikan kinerja fundamental seperti peningkatan penggunaan 
kredit.

Econit juga mengungkapkan mulai adanya kelebihan pasokan di sektor properti 
komersial. Suplai sektor properti tidak diikuti dengan kenaikan permintaan.

Faktor yang juga menyebabkan Indonesia rawan guncangan adalah kenaikan harga 
saham yang melebihi kinerja fundamental dari emiten di pasar modal.

Rekam jejak (track record) pemerintah yang buruk dalam meredam gejolak harga 
kebutuhan pokok dan dinamika politik domestik yang mulai meningkat lebih awal 
dari dugaan, juga menjadi faktor penyebab Indonesia rawan guncangan.

"Berbagai faktor/resiko itu merupakan awan mendung bagi ekonomi Indonesia. Jika 
terjadi guncangan baik domestik maupun eksternal, awan mendung itu bisa 
terakumulasi mengakibatkan instabilitas ekonomi dan sosial," tegas Rizal 
Ramli.(*)



  Copyright © 2008 ANTARA
   



       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke