Di Amerika yang undang-undangnya uda begitu njlimet aja perusahaan scam
macam ginian masih bisa idup, apalagi di indonesia yang sistem hukumnya
masih terhitung muda ketimbang amerika, makanya BAPEBBTI sepertinya ngalor
ngidul dalam menangani kasus nasabah, malah nyuruh nasabah berurusan dengan
polisi aja, jangan lapor ke BAPEBBTI

Cerita lengkap bisa dibaca di wikipedia, pakai keyword "forex scam" atau
"futures scam"....

2008/8/7 cyprian Bitin <[EMAIL PROTECTED]>

>  Saya pribadi malah menduga pada tingkat tertentu, BBJ 'main mata' dengan
> beberapa perusahaa pialang. buktinya sudah cukup lama masyarakat melaporkan
> kasus ke BBJ tapi tak ditanggapi secara serius. Beberapa teman dan kenalan
> saya yang pernah malang melintang bekerja di perusahaan pialang malah
> mengklaim adanya hubungan antara hubungan sindikasi beberapa perusahaan
> pialang. Mereka menyebut keterkaitan antara Graha Finessa, Maxgain dan Solid
> Gold. Praktek mereka hampir sama. Pemasaran super agresif dan  janji
> keuntungan luar biasa. Sesudah duit nasabah berhasil digaet, mereka akan
> lakukan transasksi gila-gilaan tanpa terlalu memperhitungkan kerugian yang
> akan diderita investor. Malah tampaknya menghabiskan duit investor adalah
> tujuan mereka.
> Sistem transaksi via internet di GF sangat menjebak. Bila Ada melakukan
> pembelian dan harga memang naik, Anda akan kesulitan mengakses saat mau
> menjual. Akses internet mudah terjadi bila harga sudah berbalik dan Anda
> mulai merugi. Artinya Anda tak akan pernah untung!!!!
> Jadi tepat saran Pak Sony: hati-hati memilih perusahaan pialang. Jangan
> cuma tergiur penampilan perusahaan serta marketer semata-mata. Ranking
> perusahaan cuma berdasarkan frekuensi transaksi. bukan kesehatan
> perusahaan.
> Kalau saya, lebih memilih perusahaan yang jelas pemiliknya,
> sepak-terjangnya serta fair dan transparan aturan mainnya.
>
> Best rgds,
>
> Cyprian
>
> Pada tanggal 06/08/08, Newsmaster <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
>
>>   Transaksi Berjangka Gelap Marak
>>
>> JAKARTA- Transaksi bursa berjangka di Indonesia belum berkembang pesat
>> karena masih tingginya perdagangan di pasar gelap. Transaksi gelap yang
>> tidak dilaporkan ke Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) itu diperkirakan
>> mencapai sepuluh kali lipat dibandingkan jumlah yang sebenarnya.
>>
>> "Masih banyak yang melakukan (perdagangan gelap). Aturannya, yang boleh
>> melakukan perdagangan haruslah (perusahaan berjangka) yang berizin.
>> Tapi, yang berizin pun masih ada yang menyimpang," ujar Direktur BBJ
>> Sudomo dalam acara Optimizing Local Resources for Competitivenes
>> kemarin.
>>
>> Menurut dia, untuk melakukan perdagangan berjangka harus dalam koridor
>> perundang-undangan. Kalau keluar dari itu harus ditindak. Para pelaku di
>> pasar gelap tersebut tidak bermain di perdagangan komoditi tapi di
>> valuta asing (foreign exchange) dan indeks.
>>
>> Berdasarkan analisa BBJ, banyak perusahaan berjangka yang tidak
>> melaporkan transaksinya ke BBJ. Misalkan, jika total transaksi yang
>> dilaporkan ke BBJ sebanyak 20 ribu lot, transaksi yang tidak dilaporkan
>> bisa 10 kali lebih besar dari itu. "Itu berdasar market noise," katanya.
>>
>> Meski begitu, Sudomo menilai itu tidak banyak mempengaruhi pergerakan
>> harga di bursa berjangka. Sebab, mereka tetap harus mengikuti transaksi
>> antarbank sedunia. Dari segi nilai, transaksi gelap itu juga tidak
>> terlalu besar. Menurut dia, bermain di bursa berjangka adalah bagaimana
>> cara meminimalkan resiko. Itu pun diperlukan waktu yang lama untuk
>> mempelajari pasar. "Kalau bukan ahlinya, jangan coba-coba deh. Ini
>> memang bukan untuk orang biasa," lanjutnya.
>>
>> Hingga saat ini, BBJ hanya mempunyai kontrak untuk dua komoditi, yaitu
>> emas dan olein. Sedangkan untuk minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO)
>> belum dimulai. Sudomo menilai seharusnya Indonesia menjadi pemain besar
>> di sektor perdagangan komoditi CPO.
>>
>> "Indonesia produsen nomor satu kelapa sawit. Setiap tahun memproduksi 18
>> juta ton. Sementara total konsumsi mencapai 4 juta ton. Itu termasuk
>> konsumsi yang besar di dunia," ujarnya.
>>
>> Namun, ironisnya, harga CPO Indonesia justru di bawah CPO Malaysia.
>> Menurut Sudomo, itu terjadi karena adanya perbedaan dalam hal
>> infrastruktur dari perkebunan kelapa sawit ke konsumen. Di Malaysia,
>> kelapa sawit langsung dapat diangkut dengan truk. Sedangkan kelapa sawit
>> di Kalimantan dan Sulawesi harus diangkut dengan kapal untuk diolah ke
>> Jawa.
>>
>> "Dunia hanya kenal CPO Malaysia dan Sumatera karena pelabuhan di
>> Kalimantan atau Sulawesi tidak ada yang ocean going (kelas
>> internasional)," jelasnya. (wir/ttg)
>>
>> Sony Anugrah wrote:
>> >
>> > Hmmmm, pengalaman yang tidak mengenakkan ya Pak Thomas.
>> > Sebenarnya kalo mmg sudah merasa tidak cocok sama BBJ dan
>> > "keluarganya" karena selalu membawa hal yang tidak baik (merugikan),
>> > ya itu merupakan hak investor.
>> > Namun menurut saya BEI pun juga sama. Maksud saya adalah bahwa bila
>> > ada seseorang investor yang tidak hati2 dalam memilih pialang, makan
>> > akan mengalami kerugian juga.
>> >
>> > Best Regards,
>> >
>> > Sony Anugrah, SH
>>
>> ===
>> If you need an office in Surabaya you don't have to invest
>> on furnitures, ac etc. Use our virtual office instead.
>> Visit http://www.datacom.co.id/profile/office.htm or email
>> mailto:[EMAIL PROTECTED] <office%40datacom.co.id> for enquiry that
>> suit your needs.
>>
>>
> 
>

Kirim email ke