Kakak Beradik Sukses yang Berupaya Tepis Konflik Kepentingan Bisnis 

Seminggu Sekali Kumpul, Minus Obrolan Korporasi 

Tak mudah mengelola potensi konflik kepentingan bisnis di antara sesama
saudara. Namun, tiga bersaudara dengan nama belakang Firmansyah yang
kini eksekutif puncak di PT Bursa Efek Indonesia, PT Telkom, dan Bank
BTN ini berupaya menjaga independensi profesi masing-masing. 

SUYUNUS R.-ERI IRAWAN, Jakarta 

Mengenakan baju lengan panjang putih lengkap dengan dasi, Erry
Firmansyah pagi itu sibuk dengan segepok dokumen di mejanya. Ruang
kerjanya di Gedung BEI (Bursa Efek Indonesia) Tower I, Kawasan Niaga
Terpadu Sudirman (SCBD), sangat lapang. Sebuah whiteboard di ujung
mejanya yang panjang masih tampak penuh coretan spidol hasil rapat. 

Tak jauh dari dokumen-dokumen yang dia pegang, sejumlah surat kabar
tertumpuk rapi. Posisi duduk Erry menghadap televisi besar yang sedang
menyiarkan acara American football. Begitu lapangnya ruangan itu
sehingga di belakang meja kerjanya masih terdapat deretan lemari berisi
koleksi ratusan bukunya. 

Erry adalah direktur utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) yang merupakan
hasil PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES). Sebelum
merger akhir tahun lalu, Erry duduk menjadi Dirut BEJ sejak April 2002. 

Sebelum menjadi bos BEJ, Erry pernah menjadi Dirut PT Kustodian Sentral
Efek Indonesia (KSEI). Pria kelahiran 18 September 1955 itu juga pernah
menjabat direktur di sejumlah perusahaan di bawah Grup Lippo. 

''Saya hanya ingin bekerja sebaik mungkin agar pasar modal kita bisa
terus meningkat,'' kata alumnus Universitas Indonesia itu membuka
pembicaraan. Sesaat kemudian, seorang staf -wanita berjilbab- masuk
membawa setumpuk dokumen. Sang staf berkonsultasi sejenak soal
dokumen-dokumen yang dibawa. Erry pun memberikan saran sambil
membubuhkan tanda tangan. 

Erry memang selalu semangat jika diajak berbincang soal perkembangan
pasar modal. Pada era kepemimpinannya, dia membawa perubahan signifikan
di lantai bursa. Tahun lalu, BEI melesat pesat, sehingga menjadi bursa
terbaik kedua di Asia Pasifik setelah bursa Tiongkok. 

Kapitalisasi pasar tahun lalu mencapai Rp 2.548 triliun. Tahun ini,
rata-rata transaksi harian di lantai bursa mencapai Rp 5,2 triliun per
hari, lebih tinggi dibanding tahun lalu yang masih Rp 4,2 triliun.
''Tapi, masih banyak hal yang harus kita lakukan bersama. Terutama soal
edukasi ke masyarakat tentang investasi di pasar modal,'' tuturnya.

Erry yang hobi joging itu adalah kakak Evi Firmansyah dan Rinaldi
Firmansyah. Evi adalah wakil direktur utama PT Bank Tabungan Nasional
(Persero), bank pelat merah yang punya bisnis inti di bidang kredit
perumahan. Rinaldi adalah direktur utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
(Telkom), BUMN yang punya kapitalisasi pasar terbesar di pasar modal. 

Meski menjadi kakak Evi dan Rinaldi, Erry menegaskan bahwa mereka saling
menjaga integritas profesional masing-masing. Tak ada yang saling
memanfaatkan. ''Tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi,''
tegasnya.

Misalnya, saat berhubungan dengan Rinaldi, sang adik yang jadi bos PT
Telkom, Erry tak pernah menyinggung soal aksi korporasi perusahaan
telekomunikasi. Sebab, saham perusahaan BUMN terkemuka tersebut sudah
dicatatkan di BEI. ''Hal semacam itu melanggar aturan,'' ujarnya.

Menurut Erry, pembicaraan seperti itu bisa dikategorikan melanggar
aturan insider trading. Yakni, transaksi saham dengan memanfaatkan
informasi dari orang-orang di dalam perusahaan. 

Hal yang sama berlaku bagi Evi Firmansyah. Evi yang banknya, BTN, kini
dalam proses menjual saham ke masyarakat itu tak meminta keistimewaan
apa pun dari sang kakak. Proses initial public offering (IPO) BTN akan
berjalan sesuai mekanisme yang ada. 

Evi menepis anggapan bahwa naiknya dirinya menjadi Wadirut BTN sejak
Desember tahun lalu ditujukan untuk memuluskan langkah bank itu ke
proses go public. Yakni, memperkuat lobi BTN dengan BEI, mengingat
jabatan sang kakak, Erry Firmansyah, adalah bos BEI. ''Ah, itu kan hanya
anggapan orang. Kalau kita, ya profesional saja,'' tegas pria berusia 50
tahun itu.

Menurut Evi, semua tahap proses go public BTN berjalan sesuai prosedur.
Tak berkaitan dengan campur tangan Erry. Dia dan sang kakak menjaga agar
tetap profesional. ''IPO itu intinya ada pada transparansi. Good
corporate governance harus jalan,'' kata mantan direktur eksekutif PT
Danareksa (Persero) tersebut. 

Sebelum menjadi Wadirut BTN, Evi sempat malang-melintang menjadi
eksekutif di sejumlah bank. Dia tercatat pernah menjadi direktur PT Bank
Ekspor Indonesia (Persero) dan komisaris PT Bank Bumiputera Tbk pada
2003. 

Evi mengaku selalu menyempatkan diri untuk joging empat kali sepekan.
''Biasanya habis salat Subuh joging di Senayan. Ya untuk menyegarkan
badan,'' tuturnya. 

Meski sibuk di bidang masing-masing, Evi mengaku bahwa dirinya, Erry,
dan Rinaldi selalu berusaha menyempatkan saling bertemu. Setidaknya,
kata alumnus UI tersebut, mereka saling telepon atau kirim SMS.
''Biasanya seminggu sekali saling bertemu,'' ujarnya. 

Lahir dari keluarga yang berasal dari Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan
Riau, Evi, Erry, maupun Rinaldi selalu berusaha menjaga hubungan
persaudaraan mereka. Biasanya mereka berkumpul di rumah orang tua di
kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. ''Kami makan siang di sana,''
jelas Evi yang mantan direktur PT BNI Sekuritas tersebut. Sambil makan
itu mereka mengobrol santai di luar urusan dalam ''korporasi''
masing-masing. 

Ditanya tentang kunci sukses cara mendidik orang tua mereka sehingga
bisa mengantarkan tiga anaknya jadi eksekutif puncak, Evi mengaku tidak
ada yang istimewa. Semua mengalir begitu saja. Yang jelas, sejak
keluarga mereka pindah ke Jakarta pada 1960, orang tua mereka
mengajarkan agar bekerja keras. ''Laksanakan amanah,'' kata Evi
mengenang nasihat yang didengar sejak kecil.

Amanah itu pula, lanjut Evi, yang kini dibawa dirinya dan
saudara-saudaranya saat menakhodai BTN, Telkom, dan BEI yang notabene
menjadi perusahaan ikon kebanggaan bangsa. ''Filosofinya sederhana saja,
kami ingin melakukan yang terbaik. Bekerja sebaik mungkin, memberikan
banyak benefit bagi perusahaan serta bagi orang banyak,'' tegas Evi.
(el)



-- 
Limited offer: Avail 50 sqm office space in Surabaya. Just 
3 km from CBD. Contact: 031-5013570, HP: 0852 3008 3510.
mailto:[EMAIL PROTECTED]


------------------------------------

Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.

DILARANG KERAS MEMOSTING OPINI PRIBADI TENTANG POLITIK DI MILIS INI.
Silahkan lakukan itu di milis [EMAIL PROTECTED]

[EMAIL PROTECTED] untuk berhenti dari milis saham
[EMAIL PROTECTED] untuk bergabung ke milis saham
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke