Jumat, 20 Agustus 2010 | 08:47 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Tahun 2008, saham-saham emiten dari grup Bakrie sempat 
menjadi penggerak utama Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun saat ini, saat Indeks 
Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, 
saham-saham yang beken dengan julukan Seven Brothers justru terpuruk.

Kamis (19/8/2010), IHSG mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di 3.105,35, 
naik 1,08 persen dari penutupan hari sebelumnya. Jadi, sepanjang tahun ini, 
indeks sudah memberi keuntungan 22,53 persen. Saham PT Telekomunikasi Indonesia 
Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT 
Gudang Garamg Tbk (GGRM), PT Astra International Tbk (ASII), dan pendatang baru 
PT Berau Coal Tbk (BRAU) hari ini menjadi pendorong kenaikan indeks.

Sekitar dua tahun silam, saham-saham grup Bakrie begitu bertaji dalam 
menentukan 
hijau merahnya IHSG. Tapi roda nasib Seven Brothers sekarang sudah berputar ke 
bawah. Saat sebagian besar harga saham melaju, harga saham tujuh emiten dari 
grup Bakrie justru terkapar.

Bahkan, lima dari tujuh samurai Bakrie tersebut jatuh di harga terendah mereka 
tahun ini. Mereka adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bakrieland 
Development 
Tbk (ELTY), PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP), PT Darma Henwa Tbk 
(DEWA), 
dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Meski juga turun, harga saham PT Energi 
Mega Persada Tbk (ENRG) dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) tidak jatuh ke level 
terendahnya tahun ini.

Kemarin, harga saham BUMI terjun 9,79 persen menjadi Rp 1.290 per saham. 
Dibandingkan harga saham tertingginya Rp 8.550 per saham pada 12 Juni 2008, 
emiten kebanggaan grup Bakrie ini sudah turun 84,91 persen.

Harga saham ELTY terpangkas 4,95 persen tinggal Rp 96 per saham. Padahal, pada 
28 Februari 2008, ELTY mencapai harga tertingginya di Rp 680 per saham. Jadi, 
harganya sudah diskon 85,88 persen.

Harga saham UNSP anjlok 9,62 persen menjadi Rp 235 per saham. Jadi, saham ini 
sudah jatuh 91,51 persen dari harga tertingginya, Rp 2.769 per saham, pada 14 
Januari 2008. 

Senasib, harga saham DEWA terkoreksi 7,27 persen menjadi Rp 51 per saham. Saham 
ini pernah dihargai paling mahal di Rp 615 per saham pada 28 Desember 2007. 
Jadi 
kini nilainya sudah berkurang sekitar 91,71 persen .

Sementara saham BNBR sudah sekitar sebulan terakhir tidak beranjak dari level 
terendahnya di harga 50 perak. Padahal, induk usaha grup Bakrie ini pernah 
dihargai Rp 718 per saham pada 15 Februari 2008. Hitung punya hitung, nilai 
saham ini sudah menyusut 93,04 persen .

Saham BTEL juga tak beranjak dari harga Rp 148 per saham. Tapi, jika 
dibandingkan dengan harga tertingginya di Rp 407 per saham pada 4 Januari 2008, 
harga saham ini sudah terpangkas 63,64 persen .

Terakhir, harga saham ENRG terdiskon 17,17 persen menjadi Rp 82 per saham. 
Harga 
ini lebih murah 94,21 persen ketimbang harga tertingginya pada 9 Januari 2008 
di 
Rp 1.415 per saham.

Melihat sepak terjang Tujuh Bersaudara belakangan ini, investor yang telanjur 
menggenggam saham mereka agaknya hanya bisa pasrah. Kekeliruan pencatatan data 
keuangan, serangkaian aksi rights issue berikut rencana utang seolah memupus 
harapan harga Seven Brothers untuk naik lagi.


      

Kirim email ke