Jumat lalu bursa Asia dihadapkan kepada pilihan spekulasi yang cukup menegangkan untuk nasibnya 2 minggu ke depan, khususnya BEI dengan market average IHSG-nya di masa awal koreksi intermediary yang tengah berlangsung. Mayoritas pasar Asia memprediksikan data laporan pekerjaan di AS merosot, dan ternyata prediksi itu tepat bahwa sesuai laporan terjadi pengurangan pegawai hingga 95.000 dengan tingkat pengangguran tetap di 9,6%. Namun, yang di luar dugaan adalah reaksi bursa lokal AS yang menginterpretasikan penurunan sebagai justifikasi bagi bank sentral-nya untuk intervensi ke pasar dengan bantuan likuiditas dan "quantitative easing" lanjutan untuk mempertahankan momentum pertumbuhan yang melambat. NYSE, S&P500, DJI dan NASDAQ ditutup menguat di kisaran 0.5%.
Pertanyaan: Akankah kenaikan indeks AS akan menghentikan koreksi di BEI atau hanya sekadar intermezzo yang dikenal sebagai hiccup dalam bahasa populer trading? Jawaban: TIDAK. Koreksi akan terus berlangsung dengan range target 9-17%. Mengapa? 1. Kenaikan indeks-indeks AS overnight tidak mengindikasikan leverage untuk emerging market. Jangan lupa bahwa ada banyak ADR atau saham-saham asing yang diperdagangkan di bursa AS. Terkait dengan saham-saham emerging markets, data dari transaksi bursa AS Jumat kemarin menunjukkan bahwa emerging market stocks tetap turun. Jika Anda berpikir bahwa IHSG akan dapat keluar dari momentum koreksinya Senin atau this week karena indeks AS Jumat lalu, itu adalah hal pertama yang lebih dulu dipikirkan oleh pelaku pasar di AS yang diuntungkan karena berada pada saat indeks mereka naik. Tetapi, mereka tidak bertindak seperti yang Anda bayangkan. Ingin tahu? Ambil contoh saham TLKM yang diperdagangkan di bursa AS sebaga TLK pada penutupan NYSE Jumat lalu. TLK ditutup minus 1.36% (http://finance.yahoo.com/q?s=TLK). IST atau ISAT ditutup di NYSE minus 0.94% (http://finance.yahoo.com/q?s=IIT). Bloomberg mengkonfirmasi, "Developing-nation stocks maintained declines after new payrolls data released in the U.S. showed employers cut 95,000 jobs in September, 90,000 more than the median estimate of economists surveyed by Bloomberg, boosting speculation the Federal Reserve may take further steps to stimulate the economy." 2. Hiccup atau selingan positif in case of US indices sudah sering terjadi dalam perjalanan indeks baik di bursa AS maupun bursa-bursa dunia lainnya. Beberapa hari yang lalu sebelum kembali turun indeks AS juga mengalami selingan positif dengan range rata-rata 0,2-0,7%. Jadi, kenaikan kemarin yang hanya 0.5% dirasa tidak cukup memadai untuk mempengaruhi short term outlook bursa-bursa Asia, khususnya BEI yang tengah koreksi. 3. Kenaikan indeks AS lebih didasari kepada spekulasi atas tindakan penyelamatan lanjutan oleh Federal Reserve, yang lagi-lagi sudah kita pernah/sering dengar selama 1 bulan terakhir dengan hasil indeks AS mondar-mandir di area negatif. 4. Telah terbangun perlahan tapi pasti sentimen kekhawatiran atas bubble atau gelembung pada bursa emerging markets. Mungkin not necessarily a Bubble, Anda bisa tambahkan tanda petik di sana "bubble" atau koreksi intermediary yang dalam. Yang jelas this time is not Michael Bubble who will be coming, but instead the litle Bear. Deputy Finance Minister Rusia Dimitry Pankin sebagaimana dikutip Bloomberg dalam laporan pertemuan IMF Sabtu lalu kurang lebih mengindikaskan hal tersebut, "Brazil, Russia, India and China will put up “strong resistance” to attempts to make a “harsh appraisal” of currency controls at the annual meeting of the International Monetary Fund and World Bank this week in Washington...A “bubble” may be forming in the country’s financial markets." 5. Terkait IHSG, asing telah memulai langkah-langkah penyelamatan Jumat lalu dengan net sell 500 milyar dari BEI, dan langkah awal tersebut terindikasi tidak hanya pada equity market, tapi pada obligasi, sebagaimana kutipan dari Kontan Online. Jumat, 08 Oktober 2010 | 14:13 Dalam sehari, asing jual SBN Rp 740 miliar JAKARTA. Asing sepertinya masih belum rela untuk melepaskan kepemilikan asetnya di Indonesia. Terlihat dari total dana asing di Surat Berharga Negara (SBN) yang masih terlihat cukup besar. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU), sampai dengan 7 Oktober 2010 kemarin, dana asing di SBN sudah mencapai Rp 186,20 triliun. Meski begitu, angka tersebut sedikit berkurang dari hari sebelumnya di tanggal 6 Oktober yang mencapai Rp 186,94 triliun. Artinya dalam waktu sehari, asing telah menjual kepemilikannya sebesar Rp 740 miliar. Penurunan angka kepemilikan asing ini juga diikuti dengan menciutnya total oustanding SBN yang turun menjadi Rp 644,26 triliun. Padahal di tanggal 6 Oktober total outstanding SBN sebanyak Rp 645,08 triliun. Sepertinya ada obligasi jatuh tempo sebanyak Rp 820 miliar. 6. Indikator-indikator teknikal pada Jumat lalu tidak lagi menunjukkan pada area overbought, tetapi sudah melengkung turun segera melampaui batas-batas psikologis short term bearish. Dengan faktor-faktor di atas, bayangkan asing pada BEI ibarat supir kendaraan yang tidak hanya telah men-starter mobil, tapi sudah menjalankan mobil sejauh 150 meter dengan kecepatan 20 menuju 30 km/jam. Pertanyaannya, akankah sentimen positif sesaat seperti Jumat lalu pada bursa AS akan mampu menghentikan si supir? Most likely NOT. Pesan moral: tingkatkan kewaspadaan Anda, dan tanyakan pada diri Anda masing-masing apakah Anda seorang market maker/specialist yang bisa mempengaruhi perdagangan 1 saham dengan minimal 10 ribu lot atau Anda hanya sekadar novice trader/pemula atau average alias rata-rata? Jika jawabanya adalah bukan market maker, saran saya berhenti menjadi "pigs" dalam kondisi negatif atau market in correction seperti sekarang, karena seperti dikatakan para savvy/advanced traders di luar sana, "Bulls make money, bears make money...but pigs? They get slaughtered." (Banteng hasilkan uang, beruang juga hasilkan uang...tapi babi? mereka dibantai"). Jadi, saran yang bijak tidak hanya menilai apa personalitas dan pola trading Anda, agresif/konservatif, short term/long term, tapi tanyakan juga Anda siapa. Jangan jadikan Anda pada 15 menit hari pertama atau sesi pertama atau bahkan besok seperti ikan-ikan yang berebut makanan karena harapan sebelum kemudian ditelan paus. Ada baiknya mengutip 2 rekomendasi traders/investors veteran dengan pengalaman teruji di lapangan. William O'Neill (How to Make Money in Stocks): “Now that the market is in a correction, what should you do? First off, new stock buys should be off the table. A correction is the perfect climate for failed breakouts.” Toni Turner (Guide to Day Trading Online): "Remember, on days market internals tell you a strong uptrend or downtrend rules, you can day trade and let your profits run. But on choppy, whippy days, scalping-or better yet, washing your car-makes for the smartest strategy. When in doubt, stay out." Kurang lebih, di kondisi yang stabil, lebih baik cuci mobil dari pada day trading. WHAT GOES UP MUST COMES DOWN! "+"
