Very Nice pak Richie. Thank u.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: Richie Saham <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 29 Oct 2010 10:13:34 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [saham] Pengertian dan Dampak Quantitative Easing QE2 The FED (2-3 Nov 
mendatang)

Quantitative easing merupakan salah satu alat kebijakan moneter.
Ini berarti bahwa bank sentral membanjiri pasar dengan mata uang, dengan cara
mencetak uang demi meningkatkan suplai uang. ‘Quantitative’ mengacu kepada
money supply; ‘easing’ secara esensial berarti peningkatan.


Quantitative Easing adalah penciptaan uang oleh bank sentral
untuk memacu perkreditan dan mendorong pembelanjaan, yang akhirnya dapat
menggerakan roda perekonomian. Quantitative mengacu pada kuantitas uang yang
diciptakan, sedangkan easing mengacu pada mengurangi tekanan pada bank.


Berikut gambaran QUANTITATIVE EASING bekerja, Bank Central
memeperluas distribusi uang dengan menggunakan menciptakan pinjaman baru untuk
membeli aset milik Bank dan Institusi keuangan lainnya. Mendorong perekonomian
dengan menggunakan uang hasil penjualan aset untuk pembelian produk barang,
jasa dan lebih banyak aset lagi

Quantitative Easing terkesan canggih, sehingga tidak mudah
dipahami rakyat. Sebenarnya apakah Quantitative Easing ini ?
Quantitative Easing adalah salah satu cara bank sentral (di
Inggris berarti Bank of England) ‘mencetak’ sejumlah besar ‘uang baru’ di
Balance Sheet-nya. Tidak perlu report-report mencetak secara fisik uang kertas
atau koinnya, tetapi semata-mata hanya menambahkan angka baru secara elektronik
di neraca bank sentral tersebut.

Setelah terbentuk, ‘catatan’ uang ini untuk membeli asset-asset
bermasalah dari dunia perbankan (seperti kredit perumahan), surat utang negara
dlsb. Dengan cara ini ‘uang’ yang tadinya hanya khayalan yang hanya diketikkan
di neraca bank sentral, kini telah memasuki sistem keuangan negeri itu.

Karena setiap bank memiliki account di bank sentral, maka bank
sentral juga tidak perlu repot-repot memindahkan uang fisik (yang memang nggak
ada fisiknya) ke bank-bank tersebut, semua hanya entry di data komputer.

Di Inggris ada komite yang disebut The Bank’s Monetary Policy
Committee yang memiliki otoritas untuk mencetak ‘tambahan uang’ dalam khayalan
tersebut. Saat ini komite ini memiliki ijin untuk menambah ‘uang’ di balance
sheet bank sentral sampai sejumlah 150 milyar pounsterling atau US$ 207 milyar.
Dari batas yang diijinkan tersebut, saat ini komite telah menggunakan separuh
dari jatah yang ada.

Maka apa dampaknya bagi rakyat Inggris ?; sementara solusi ini
belum tentu bisa menyelamatkan mereka dari krisis, sedangkan dalam mengatasi 
krisis di tengah memburuknya resesi
dan ketatnya kredit, bank sentral yang tak bisa lagi memangkas rate karena
hampir mendekati nol, mencari solusi non konvensional untuk membalikan keadaan.

Dalam rangka memulihkan ekonomi dan menggairahkan perkreditan,
beberapa bank sentral besar memangkas suku bunga secara agresif hingga mencapai
hampir nol. Namun, langkah tersebut terlihat tidak manjur. Suku bunga sudah
amat rendah, namun arus kredit masih terhambat dan banyak bank yang enggan
untuk mengucurkan kredit.

Akhirnya mereka menemukan resep yang “kelihatannya” ampuh untuk
mendorong perkreditan, pembelanjaan dan pertumbuhan, yaitu Quantitative Easing.

Dengan kata lain, bank sentral menciptakan uang dan menggunakan
uang tersebut untuk membeli surat utang, seperti obligasi pemerintah, dari
institusi keuangan, di pasar terbuka. Institusi keuangan itu lalu dapat
menggunakan uang itu untuk mengucurkan kredit atau membeli aset lain. Namun, 
kini
uang baru itu cenderung diciptakan secara elektronik dari pada dicetak secara
fisik.

Tujuan Quantitative Easing adalah menambah jumlah uang beredar
dengan pertambahan kredit yang akhirnya dapat merangsang arus uang di ekonomi
seiring meningkatnya pembelanjaan. Quantitative Easing adalah solusi ketika
cara normal menambah pasokan uang dengan memangkas suku bunga tidak ampuh lagi,
biasanya ketika suku bunga hampir nol dan mustahil untuk memangkasnya lagi.


Meski pernah ada yang menerapkannya, faktor historis tidak bisa
memberi jaminan cara ini akan efektif. Hanya ada satu kasus sukses, yaitu
Jepang antara 2001 dan 2006. Namun, para ahli tidak bisa sepakat apakah taktik
ini jitu. Di satu sisi, PDB Jepang tidak merosot. Di sisi lain, pertumbuhan PDB
kecil dan tidak konsisten setelah program itu berakhir. Selain itu, program itu
berbarengan dengan program pembelanjaan pemerintah yang besar. Jadi tidak bisa
dipastikan apakah kebijakan moneter non konvensional itu atau kebijakan fiskal
agresif yang berhasil membalikan keadaan.

Meski Quantitative Easing belum tentu efektif, patut dicoba bila
tidak membahayakan. Namun, keamanannya jauh dari pasti. Sekali lagi, sejarah
tidak bisa menjadi patokan keberhasilan. Jepang tidak mendapat efek samping,
inflasinya rendah dan yen-nya kuat. Tapi pencetakan uang yang terlalu banyak
terbukti membawa bencana, seperti yang terjadi di Zimbabwe.

Meski ekonomi AS dan Inggris jauh lebih kuat dari Zimbabwe,
Quantitative Easing tetap berisiko. Terlalu banyak uang beredar, bila tidak
segera ditanggulangi, bisa menyebabkan hiperinflasi. Selain itu, belum dapat
dipastikan apakah banjirnya kredit akan membantu ekonomi yang luluh lantah
karena dampak merajalelanya kredit yang serampangan. Tapi bila sudah
dijalankan, yang terpenting bagi bank sentral dan Departemen Keuangan adalah
berkomitmen dan bekerjasama untuk membalikan kebijakan ketika keadaan membaik.

Teknik-teknik canggih dalam mengatasi krisis semacam ini, sangat
mungkin dilakukan oleh negara-negara lain juga; mungkinkah juga di negara kita
?. Oleh karenanya rakyat atau melalui wakil-wakilnya hendaknya memiliki akses
terhadap para pengambil kebijakan-kebijakan publik sehingga ada yang memahami
dan mengawasi mereka.

Kalau kita tidak yakin tentang pengawasan ini, rakyat tetap bisa
berbuat mengamankan hasil jerih payahnya yaitu dengan mempertahankan asset
fisik atau uang dengan nilai intrinsik yang bisa berupa emas, perak, kebun,
ternak dsb, semoga membantu.
Regards,
Richie Saham

 

 


Kirim email ke