*China** Genjot Beli CPO*

Kamis, 11 November 2010 | 03:45 WIB

Jakarta, Kompas - Pertumbuhan ekonomi China yang signifikan membuat konsumsi
minyak nabati meningkat. Importir China bakal mengimpor lebih banyak minyak
nabati, di antaranya minyak kelapa sawit mentah untuk memenuhi permintaan
domestik.

Demikian dikatakan Wakil Sekretaris Jenderal Kamar Dagang Impor dan Ekspor
Bahan Makanan dan Produk Hewani Republik Rakyat China Wang Huiquan seusai
berbicara dalam Pertemuan VIII Meja Bundar Minyak Kelapa Sawit Lestari
(Roundtable on Sustainable Palm Oil/RSPO) di Jakarta, Rabu (10/11).

China tengah mempelajari standar kelestarian untuk mengantisipasi tren
global atas produk ramah lingkungan.

”Saya percaya impor minyak nabati kami akan lebih tinggi, termasuk CPO.
Keunggulan CPO saat ini adalah harga yang lebih murah dari minyak kedelai,
tetapi kalau naiknya terlalu cepat, harga menjadi pertimbangan lagi bagi
konsumen,” ujar Wang.

Ia menekankan, China mendukung CPO lestari. Namun, soal harga premium, masih
butuh waktu karena impor CPO baru 22,4 persen dari minyak nabati China.

CPO merupakan minyak nabati kedua terbesar setelah minyak kedelai yang
dikonsumsi warga China. Wang mengungkapkan, China mengimpor 24 juta ton
minyak kedelai dan 6,4 juta ton CPO selama 2009-2010.

*Harga naik*

Pangsa pasar CPO China meningkat tajam dibandingkan sebelum tahun 2001 yang
masih mencapai 1,5 juta ton. Malaysia memasok sedikitnya 4 juta ton dan
Indonesia 2,4 juta ton.

Permintaan yang terus tumbuh di tengah pasokan yang terbatas turut
memengaruhi pasar. Harga CPO untuk kontrak pengiriman Januari-Maret 2011,
termasuk ongkos angkut dan asuransi di Rotterdam, Belanda, sudah 1.137,5
dollar AS per ton.

Adapun di pelabuhan ekspor di Malaysia untuk pengiriman November-Desember
2010 mencapai 1.105 dollar AS per ton.

Pada awal tahun 2010, harga CPO masih berkisar 600-650 dollar AS per ton.
Produksi yang turun dan kenaikan permintaan untuk mengantisipasi libur akhir
tahun menjadi faktor utama kenaikan harga.

Sementara itu, Wakil Presiden RSPO Derom Bangun mengungkapkan, kali ini
tidak ada spekulasi yang memicu kenaikan harga CPO.

Berbeda dengan tahun 2008 saat krisis global terjadi, para pialang beralih
ke bursa komoditas untuk menutupi kerugian mereka di bursa saham sehingga
harga komoditas menjadi liar.

”Jika tak ada hal-hal yang aneh dan baru, kemungkinan menjelang akhir tahun
2010 harga CPO bisa mencapai 1.200 dollar AS per ton di Rotterdam.
Permintaan begitu kuat, sementara produksi ternyata tidak bisa mengimbangi,”
ujar Derom.

*Standar Indonesia*

Dalam sesi pertama pada hari kedua pertemuan VIII RSPO, Ketua Minyak Sawit
Indonesia Rosediana Soeharto memaparkan Standar Minyak Sawit Lestari
Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO).

Peserta menanggapi beragam pemaparan ini, ada pihak yang mendukung dan ada
pula yang mencibir.

Serikat Petani Kelapa Sawit menuding ISPO menjadi standar tandingan karena
tidak sanggup memenuhi RSPO. Rosediana menegaskan, ISPO tidak berkompetisi
dengan standar kelestarian lain, misalnya RSPO.

”Kami memakai ISPO untuk menolong kami sendiri, yakni menciptakan produk
lestari dan komitmen untuk menurunkan emisi karbon 26 persen tahun 2020,”
ujar Rosediana. (ham)

-- 
send from my hoki blackberry@

Kirim email ke