Beberapa analis asing komoditas telah mengeluarkan sinyal masuk koreksi untuk komoditas. Likuidasi long-position yang mendadak atas future komoditas perak disertai dengan kenaikan persyaratan marjin komoditas perak oleh Chicago Mercantile Exchange mempengaruhi laju 'rally' komoditas ke depan.
Perak telah naik tajam belakangan ini, demikian juga 'soft commodities' seperti gula, kapas dan kopi. Continuous Commodity Index sudah mencapai puncaknya selama dua tahun high di 604.30 Selasa lalu, dengan total kenaikan 15% sejak awal Oktober. Dengan demikian komoditas secara keseluruhan rentan terhadap 'pullback' korektif. Mike Zarembski, analis komoditas optionsXpress menyatakan sembari merujuk kepada pelemahan 'range' harga, "That was probably a signal that a much-needed correction overall in commodities is long overdue. You’re seeing a lot of that following through today." Bill O'Neill, pimpinan LOGIC Advisors juga mensinyalir bahwa peningkatan drastis penjualan opsi 'put' atas emas akhir-akhir ini diindikasikan sebagai awal dari likuidasi komoditas metal, khususnya terkait momentum pertemuan G-20. “We’ve had such a huge run-up that you can have these kinds of corrections in less than a moment’s notice,” ujar O’Neill. Bart Melek, strategis komoditas global BMO Capital Markets menekankan pada kenaikan dolar akhir-akhir ini terhadap Euro. Dolar yang menguat akan menyebabkan komoditas secara umum, mulai dari perak hingga minyak, gula dan daging, akan menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang selain dolar dan akan mempengaruhi permintaan. "Komoditas biasanya akan terjun bebas lebih cepat daripada ketika mendaki," Zarembski melanjutkan. Source: Kitco "+"
