Naiknya harga minyak mentah ('crude oil') membuat obrolan tentang peristiwa
2008 marak kembali. Namun demikian, sejumlah tokoh investasi masih meyakini
jika OPEC akan menahan kenaikan harga minyak lebih lanjut dengan
meningkatkan produksi.
Minyak mencoba tembus US$92 'intraday' tadi malam sekaligus level tertinggi
sejak Oktober 2008. Tentu, masih banyak yang mengingat bagaimana minyak
memuncak di US$147,27 pada 11 Juli 2008 untuk kemudian menghujam turun
mendekati US$32 enam bulan kemudian selama krisis finansial global.
Pandangan 'bulls' yang meyakini minyak akan segera ke US$100 didukung pada
prinsipnya oleh keyakinan bahwa musim dingin yang cukup buruk di Eropa dan
AS akan berlanjut dan percepatan laju perbaikan ekonomi global yang akan
meningkatkan permintaan enerji. Salah satu ekonom dunia yang berpandangan
seperti ini adalah Ed Yardeni. Yardeni menyatakan bahwa dia tidak akan kaget
melihat harga minyak akan di atas US$120 pada pertengahan tahun. Namun
jangan lupa, sejumlah analis dunia lainnya tidak seoptimis Yardeni dan
berpandangan bahwa kenaikan di atas US$100 tidak akan berlangsung lama.
*Kapasitas Cadangan*
Berbeda dengan tahun 2008, sejumlah anggota kunci OPEC, seperti Arab Saudi,
memiliki kapasitas produksi belum terpakai/cadangan yang cukup banyak.
Mengingat melonjaknya harga minyak dapat menghambat pertumbuhan ekonomi
global sehingga pada akhirnya melemahkan permintaan atas minyak itu sendiri,
sebagaimana terjadi selama krisis 2008-2009, maka justru menjadi kepentingan
jangka panjang OPEC untuk dapat menstabilkan harga minyak bumi. Oliver
Jakob, analis dari lembaga riset Petromatrix yang berbasis di Swiss
menyatakan jika saat ini banyak minat spekulatif atas harga minyak.
Menurutnya fundamental pasar tidaklah sedramatis yang dibayangkan. OPEC
sedang siaga dan masih menunggu konfirmasi apakah persediaan minyak sedang
menurun. Jakob menambahkan bahwa 2008 sulit untuk kembali terulang karena
masih terlalu banyak kapasitas cadangan yang tersedia pada OPEC, khususnya
Arab Saudi yang sekaligus merupakan motor produksi utama OPEC, dan OPEC
pasti akan turun tangan segera.
Sementara, Edward Morse, kepala riset komoditas Credit Suisse, menyatakan
bahwa kenaikan pesat produksi minyak di Irak dan anggota OPEC lainnya akan
membantu menjinakkan harga. Morse mengutip data bahwa produksi minyak Irak
akan naik 10% pada kuartal 1-2011, dan mengingatkan jika kenaikan potensial
juga akan terjadi dari Nigeria dan Angola, dan kesemuanya ini kesimpulannya
satu: "banyak minyak bumi". Sejalan dengan Jakob, Morse meyakini bahwa OPEC
dapat diandalkan untuk menghindari bencana harga komoditas 2008.
Dua belas (12) anggota OPEC berkontribusi atas lebih dari 40% produksi
minyak mentah global meskipun dominasi tersebut mulai berkurang dengan
naiknya produksi dari Rusia, Brazil dan lainnya. Paul Horsnell, analis
Barclays Capital, dalam catatan risetnya menegaskan bahwa selama 2011 OPEC
akan memainkan peran proaktif untuk memadamkan ledakan harga minyak dan
memastikan jika harga rata-rata kuartalan dan tahunan minyak mentah tidak
akan mencapai US$100. Horsnell juga memperkirakan jika OPEC akan mengambil
langkah pengamanan lebih cepat dibandingkan siklus yang terjadi pada 2008.
Sementara itu, Cambridge Energy Research Associates (CERA) mengindikasikan
momentum kenaikan minyak bumi saat ini didorong oleh faktor cuaca dingin di
AS dan Eropa. CERA meramalkan jika harga minyak akan jatuh dan menetap di
kisaran US$80-an pada kuartal 1-2010.
*OPEC Lebih Nyaman dengan US$70-80*
Ketika harga minyak ambruk pada krisis finansial 2008, OPEC memotong
produksi hingga 12% menjadi 24,8 juta barel/hari pada awal 2009. Sementara,
awal bulan lalu, OPEC menaikkan batas ('ceiling') produksinya meski harga
minyak sedang naik.
Dalam pernyataannya Juni lalu, OPEC menegaskan jika mereka merasa nyaman
('comfortable') dengan kisaran harga US$70-80. Arab Saudi dalam pernyataan
sepihaknya masih bisa menerima harga US$90. Rapat OPEC berikutnya akan
berlangsung 2 Juni 2011.
Harga minyak sudah naik 35% sejak Mei 2010. Harga Pertamax di Indonesia
yangsemula Rp7.050 sudah naik menjadi Rp7.500/liter. International Energy
Agency (IEA) baru-baru ini mengeluarkan prediksi-nya tentang kenaikan
permintaan global atas minyak mentah sebesar 1,4% menjadi 88,2 juta
barel/hari selama 2011. IEA mencatat bahwa kenaikan permintaan yang
signifikan akan datang dari 'fast-growing emerging markets', seperti Cina,
India dan Indonesia.
Kenaikan harga minyak bersamaan dengan reli harga pada komoditas lainnya,
seperti batubara, CPO, nikel, timah dan lainnya. Edward Morse setuju jika
kejadian euforia komoditas 2008 pasti sedang dalam benak mayoritas investor
saat ini. Morse menambahkan, "We're seeing some similarities with 2008 in
industrial metals. However, I think it's going too far to say that 2011 will
be 2008 all over again." ("Kami melihat sejumlah kesamaan dengan 2008 pada
pergerakan harga logam industri. Namun demikian, saya kira terlalu jauh
untuk mengatakan bahwa 2011 akan menjadi 2008 lagi.").
Sehubungan dengan prospek emiten yang berkaitan dengan komoditas dan prospek
peningkatan kebutuhan enerji di Indonesia, Pemerintah RI mulai mengambil
langkah-langkah konkret komprehensif meliputi aspek regulasi maupun
kebijakan teknis untuk mendorong iklim dan kegiatan usaha hulu migas.
Menjelang tutup tahun, Pemerintah RI diberitakan mengajukan penawaran lelang
50 area kerja migas untuk 2011 (
http://www.reuters.com/article/idUSJKB00418720101231).
Terlepas apakah harga minyak selama 2011, akan melampaui US$100 atau kembali
ke 'comfort zone' OPEC di US$70 atau bahkan merosot ke US$50, peningkatan
kebutuhan minyak mentah untuk menopang akselarasi pertumbuhan ekonomi
Indonesia tidak akan surut, dan harus sudah diantisipasi. Kondisi ini
memberikan prospek cerah bagi sejumlah emiten yang berhubungan langsung
dengan pengelolaan/pengembangan kegiatan usaha hulu. Dan, satu-satunya
emiten BEI yang menyediakan jasa penunjang terintegrasi yang cukup
komprehensif untuk kegiatan eksplorasi dan ekspolitasi migas, mulai dari
seismik, pengeboran hingga 'oilfield services' adalah ELSA. Manajemen ELSA
harus dapat memanfaatkan momentum ini dengan sebaik-baiknya dengan ekspansi
agresif dan mengambil setiap kesempatan yang ada.
Pefindo cukup beralasan untuk masih memasang peringkat korporasi "idA"
dengan 'outlook' stabil pada kuartal 4-2010 lalu. Mengutip Pefindo, "The
rating reflects the Company’s strong presence in oil and gas (O&G) service
business, diversified business segment, and strong liquidity." Fakta, ELSA
masih tercatat sebagai emiten anggota LQ45, dan pergerakan harga yang masih
belum 'over-extended' atau 'naik terlalu jauh' sebagaimana banyak saham
komoditas, serta top institutional buyer yang tidak mengurangi porto ELSA
tetapi menambah sepanjang 2010, akan memberikan prospek 'upside' yang besar
untuk ELSA di 2011.
Recommend ELSA for 'intermediate investment' buying in 2011.
'+'