menaikkan GWM dan LDR dalam waktu panjang efeknya sama kan dengan menaikkan interest rate bi. Dan kan kata om Darmin juga "Tekanan inflasi karena kenaikan harga komoditi, bukan fenomena moter sehingga tidak perlu dijawab oleh perubahan kebijakan moneter"
Anyway, jangan heran kalau pertengahan tahun ini BI Rate akan minus dibanding core inflation. 2011/1/14 Kayogo Buntara <[email protected]> > > > Ikut nimbrung aja nih,kayak cara China lebih elegent untuk mentakle inflasi > yaitu menaikan GWM dan naikan Gaji.....equilibriumnya akan terjadi ,katanya > pemerintah Indonesia mau duplikat style nya china . Lets do it ! > > ------------------------------ > *From:* positif01 <[email protected]> > *Sent:* Friday, 14 January 2011 10:13:49 > *Subject:* Bedanya Amerika dan Indonesia Re: [saham] BI dan suku bunga, > sekali lagi? > > > > Dari sejumlah negara-negara 'emerging markets' termasuk representasi BRIC > (Brasil, Rusia, India, Cina) dan yang ada dalam lingkup Asia/Asia Tenggara, > hanya Indonesia yang belum menyesuaikan suku bunga atas dasar argumentasi > 'core inflation' belum melampaui 'headline inflation' (food and fuel). > > Yang kukuh dengan posisi core inflation vs headline inflation ini adalah > Amerika Serikat, yang cenderung/kerap mengabaikan 'headline inflation'. Tapi > ada alasannya, kenapa. Pernah dibahas dan dimuat di Bloomberg, sekaligus > membandingkan mengapa 'emerging markets' tidak punya alasan serupa. Karena > komponen 'headline inflation', food and fuel itu menyumbang 30-40% dari > total pendapatan ('income') per kapita penduduk AS. Bandingkan di 'emerging > market' apalagi negara berkembang/dunia ke-3, makanan dan bbm bisa > menyumbang >70%....termasuk di antaranya Indonesia. > > Oleh karena itu, jika banyak analis/lembaga internasional yang > merekomendasikan BI untuk sigap menyesuaikan suku bunga bukan karena > tendensi negatif, tetapi memang sepantasnya seperti itu menurut mereka. Jika > argumennya kekhawatiran akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi, > kenyataannya Cina dan India yang lebih tinggi persentase pertumbuhan > ekonominya sudah beberapa kali menaikkan suku bunga tahun lalu selain > menaikkan GWM. Dan, sebagaimana disebutkan oleh Reuters bahwa 'decoupling' > atau disparitas/perbedaan antara 'headline' dan 'core' inflation itu secara > historis tidak akan pernah lama. Kurang lebih kalau pelaku pasar yang lebih > pragmatis mengatakan, "Apa perlu menunggu dampak sampingan yang lebih > serius?" > > '+' > > On Fri, Jan 14, 2011 at 9:57 AM, PyRiEL PyRiEL <[email protected]>wrote: > >> >> >> Diskusi bang ian.. >> Naiknya BI rate ataupun RR selalu dijadikan alasan banking untuk naikin >> suku bunga pinjaman.. >> Sejak RR dinaekin dari 5 ke 8%, naik tuh suku bunga kredit.. >> >> Sebenernya, transmisi yang lebih stabil untuk sedot likuiditas ya RR ini.. >> >> Tapi apapun itu, untuk selesaikan masalah inflasi saat ini seharusnya >> bukan dari sisi moneter yang digenjot.. >> Kutip dari Positive: >> 1. the core inflation rateheld steady in December at 4.3 per cent >> 2. consumer price inflation – driven by food – continued to accelerate to >> 7 per cent >> 3. rate rises need not attract inordinate amounts of hot money. >> >> Jangan sampe salah obat, yang ada makin parah sakitnya >> >> >> >> >> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:35 AM, Irwan Ariston Napitupulu < >> [email protected]> wrote: >> >>> >>> >>> Suku bunga ngga perlu naik karena malah jadi penyebab inflasi itu sendiri >>> dalam kasus Indonesia. >>> >>> Naikan saja GWM nya, Giro Wajib Minimum (kalau istilah di buku pelajaran >>> adalah Reserve Requirement) yang saat ini masih terlalu rendah, baru 8%, >>> untuk negara dengan growth seperti Indonesia. China tingkat GWM nya 18,5%. >>> Sementara tingka suku bunga deposito 1 tahun di China hanya 2,75% dan >>> tingkat suku bunga pinjaman di China 5,81%. >>> >>> Peningkatan GWM sangat efektif dalam menekan jumlah uang beredar. >>> Bagi yg ingin belajar apa itu GWM dan bagaimana pengaruhnya ke ekonomi, >>> silakan baca2 di: >>> >>> http://en.wikipedia.org/wiki/Reserve_requirement >>> >>> jabat erat, >>> Irwan Ariston Napitupulu >>> >>> >>> >>> >>> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:24 AM, positif01 <[email protected]> wrote: >>> >>>> >>>> >>>> Ferry Wong, head of Indonesia research at Macquarie Securities in >>>> Jakarta, said the central bank was behind the curve on inflation. >>>> >>>> "I think some foreign investors were not too comfortable with the >>>> central bank's not raising interest rates despite high inflation," he said. >>>> (Reuters) >>>> >>>> BI’s decision to keep its policy interest rate at 6.5 per cent for the >>>> 17th month <http://www.bi.go.id/web/en/Moneter/BI+Rate/Data+BI+Rate/>in a >>>> row rests on two assumptions: that food price inflation won’t spill >>>> into core inflation, and that interest-rate increases would attract >>>> damaging >>>> short-term<http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/10AAF037-83D2-4972-A561-8DFF73D22DE9/21042/GBI_IndonesiaInvestmentForumJakarta.pdf>capital >>>> flows. Both are dubious. First, it is true that the core inflation >>>> rate (excluding food and energy) held steady in December at 4.3 per cent, >>>> while headline consumer price inflation – driven by food, which accounts >>>> for >>>> about a third of the >>>> CPI<http://dds.bps.go.id/eng/brs_file/eng-inflasi-01dec10.pdf>basket – >>>> continued to accelerate to 7 per cent, well outside the target zone >>>> of 4 to 6. But headline and core never decouple for long. Consumer surveys >>>> and rising 10-year bond yields suggest that inflation expectations are >>>> taking root. Second, rate rises need not attract inordinate amounts of hot >>>> money if capital >>>> controls<http://www.ft.com/cms/s/0/f730a2b6-1c26-11e0-9b56-00144feab49a.html#axzz1Ab0kjIbh>are >>>> effective, and everyone else is >>>> tightening<http://www.ft.com/cms/s/3/60a426c4-fd31-11df-b83c-00144feab49a.html#axzz1Ab0kjIbh>too. >>>> (Financial Times). >>>> >>>> >>>> >>>> >>> >> > > >
