Cina baru saja merilis angka inflasi terbarunya di bulan Januari 2011.
Inflasi yang berbasis harga-harga konsumer naik 4,9% y-on-y atau meningkat
dari sebelumnya 4,6% Desember lalu. Kenaikan ini merupakan kenaikan
tertinggi sejak 6 tahun lalu dan melampaui target inflasi Pemerintah Cina
sebesar 4% untuk 4 bulan pertama di 2011. Bahkan kenaikan 'headline
inflation' atau inflasi yang bersumberkan harga-harga pangan sudah mencapai
2 digit di 10,3% y-on-y. Begitu juga indeks harga produsen yang mendaki 6,6%
tertinggi dalam 8 bulan terakhir.

Perkembangan terakhir di AS pun juga sejalan dengan tren inflasi global
dengan naiknya 'import prices' sebagaimana dirilis Selasa kemarin. Suku
bunga rata-rata yang ditetapkan oleh 11 bank sentral utama AS, termasuk 5 di
antaranya merupakan penentu kebijakan moneter G7, juga naik 1,38% dari 1,36%
akhir tahun lalu (
http://www.reuters.com/article/2011/02/15/global-rates-idUSGLOBAL20110215).

Dalam siklus ekonomi yang sudah mengkonfirmasi inflasi pada semua level
pasar dan bursa global, penting untuk bertindak menyesuaikan dengan strategi
investasi yang adaptif. Perbankan sebagaimana ditunjukkan pada awal tahun
dan dalam beberapa minggu terakhir, menjadi pemimpin sektoral yang
mendapatkan tekanan terdalam. Mengingat kontribusi perbankan yang signifikan
terhadap IHSG maka pelemahan perbankan pada awal tahun membawa 'follow-on'
effect kepada sub-sub-sektor lainnya tidak terkecuali komoditas yang akrab
kepada inflasi. Namun, dengan penyesuaian mentalitas dan pemahaman pelaku
pasar, ke depan pelemahan rasional terhadap perbankan akan mampu ditahan
dengan sentimen positif inflasi terhadap sektor komoditas.

Pada penutupan perdagangan di AS kemarin, saham-saham finansial tercatat
menjadi grup industri yang mengalami penurunan terdalam di antara 10 grup
industri dalam indeks MSCI Asia Pacific. China Construction Bank Corp.
anjlok 1,6% di Hong Kong atas kekhawatiran bahwa Cina akan kembali menaikkan
suku bunga . Demikian juga China Minsheng Banking Corp turun 0,8% di
Shanghai.

Bagaimana dengan perbankan Indonesia hari ini, setelah 2 large-caps bank,
BMRI dan BDMN dalam laporan keuangan 'unaudited'-nya gagal memenuhi apalagi
melampaui ekspektasi pasar atas kinerja Q4 on quarterly only basis y-on-y?

Kita masih mengingat bagaimana pasar bereaksi menyikapi sentimen inflasi
pada awal tahun ini. Pasar masih butuh waktu 1 bulan untuk pada akhirnya
mengambil tindakan rasional dengan melepas porto perbankan setelah inflasi
di Indonesia pada Desember melampaui target Pemerintah. Patut dicatat bahwa
sebelum kenaikan inflasi signfikan pada Desember, inflasi di Cina sudah
merongrong pasar regional sejak pertengahan tahun 2010 diikuti dengan
tindakan penyesuaian suku bunga. Apakah kali ini pasar akan menunggu sama
lamanya untuk bereaksi atas perkembangan di Cina, ataukah pasar sudah lebih
tanggap membaca situasi dan mengambil tindakan preventif. Tentu kalau Anda
memegang porto perbankan yang tidak cukup 'margin of safety' untuk
menghadapi penurunan ke depan, Anda sudah harus melepas saham-saham
perbankan tersebut.

Bagaimana dengan komoditas? Ceritanya akan berbeda dengan dampak 'follow-on
effect' dari koreksi perbankan sekaligus profit taking awal tahun pasca
kenaikan komoditas yang signifikan sepanjang 2011. Kecenderungan pasar
bertindak lebih rasional dan berlindung pada komoditas akan menjadi sentimen
positif saham-saham komoditas ke depan. Selain itu tindakan OPEC untuk
menjaga harga minyak di level $70-80 akan menjaga kesinambungan
('sustainability') harga komoditas untuk jangka waktu yang lebih panjang
dari volatilitas yang terjadi pada tahun 2008. 'Bullish' untuk emiten oil
and gas dan coal.

'+'

Kirim email ke