http://m.kompas.com/news/read/2011/09/02/20055336/Dipuji..Penurunan.Rasio.Utang.Pemerintah.SBY...

Dipuji, Penurunan Rasio Utang Pemerintah SBY 
Jumat, 2 September 2011 | 20:05 PM


JAKARTA, KOMPAS.com — Meskipun secara nominal utang pemerintahan Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono diakui mengalami peningkatan, akan tetapi jika 
dibandingkan pemerintahan sebelumnya, pemerintahan Presiden Yudhoyono dinilai 
paling cepat dalam akselerasi penurunan rasio utang terhadap produk domestik 
bruto (PDB).

Dari rasio utang terhadap PDB sebelumnya sebesar 56,6 persen akhir tahun 2004, 
kini turun tajam hingga Semester I lalu menjadi sebesar 26,1 persen. Sedangkan, 
secara nominal, total utang pemerintah pada akhir Semester I lalu mencapai Rp 
1.723,9 atau setara dengan 200,5 miliar dollar AS dari sebelumnya Rp 1.299,4 
triliun atau setara dengan 139,9 miliar dollar Amerika Serikat pada akhir 2004.

Demikian diungkapkan Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan 
Rachmat Walujanto kepada Kompas, Jumat (1/9). "Jadi, penurunan rasio utang 
terhadap PDB dengan akselarasi paling cepat ada pada pemerintahan Yudhoyono," 
tandas Rachmat.

Menurut Rachmat, upaya menurunkan rasio utang selama tujuh tahun pemerintahan 
Presiden Yudhoyono dilakukan di antaranya dengan memastikan terpenuhinya 
kebutuhan APBN, dengan cara mengoptimalkan potensi pendanaan utang dari dalam 
negeri melalui penerbitan surat berharga negara (SBN) dalam mata uang rupiah.

"Melakukan diversifikasi instrumen utang dan basis investor agar diperoleh 
instrumen yang lebih cost-efficient dan risiko minimal. Misalnya, pinjaman luar 
negeri diarahkan untuk membiayai pembangunan infrastruktur yang memberikan 
dampak pada pertumbuhan ekonomi," tambah Rachmat.

Rachmat menambahkan, langkah lainnya melakukan pengelolaan utang yang prudent, 
mempertahankan kebijakan pengurangan pinjaman atau kredit luar negeri secara 
bertahap serta mencapai struktur portofolio utang yang optimal (cost and risk).

"Juga memperoleh persayaratan terms & conditions utang yang favorable, seperti 
penarikan pinjaman/kredit luar negeri dilakukan sepanjang memenuhi kebutuhan 
prioritas, memberikan terms and conditions yang menguntungkan Indonesia, dan 
tanpa agenda politik dari kreditor serta waktu penerbitan SBN yang tepat," 
jelas dia.

Lebih jauh Rachmat mengatakan, upaya lainnya melakukan koordinasi dan 
komunikasi yang lebih aktif dengan pemangku kepentingan pengelolaan utang 
negara.

"Selain itu, juga mengembangkan pasar SBN dan menjaga stabilisasi pasar dalam 
negeri, menciptakan pasar yang aktif, deep dan likuid melalui upaya peningkatan 
absorpsi pasar dan menciptakan efisiensi pasar dalam pembentukan yield/price," 
kata Rachmat.

Kementerian Keuangan juga membangun Bonds Stabilization Framework dan Crisis 
Management Protocol sebagai antisipasi jika terjadi pembalikan (reversal) dana 
asing, di antaranya dengan memanfaatkan dana sisa anggaran lebih (SAL) dan 
sumber dana lainnya. 
Thanks,
Bagya
Powered by Telkomsel BlackBerry®

------------------------------------

Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.

SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN ADMIN MILIS. 
SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK MEMBELI ATAU MENJUAL EFEK. 
SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK INVESTASI ATAU 
PEMILIK MODAL.

[email protected] untuk berhenti dari milis saham
[email protected] untuk bergabung ke milis saham
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke