Artikel lama, namun siapa tahu bermanfaat bagi yang doyan saham model BAYU,
GOLD, TMPI.

Semoga bermanfaat


Salam,
Dimas

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber : http://www.investium.net/invlog1n/saham/?p=39

Cara Mengenali Saham Gorengan “Gosong” melalui Bid-Offer di Order Book
Posted by *Highlander* on August 3rd, 2010
[image: Burnt-Toast2]

Saham gorengan itu baik jika para retail bisa masuk di harga yang berdekatan
dengan harga “bandar” kemudian saham digoreng sampai beberapa hari dan
menghasilkan profit tinggi serta koreksi di saat reversal tidak terlalu
cepat sehingga para retail bisa keluar ketika tanda2 breakdown sudah muncul.

Namun ada pula saham gorengan yang bisa mencelakakan banyak trader terutama
para retailer yaitu saham gorengan “gosong”. Saham seperti ini biasanya
hanya diangkat dalam satu hari atau bahkan dalam beberapa jam atau menit,
kemudian di harga puncak ketika bandar sudah melepas hampir semua sahamnya
saat harga bergerak naik, harga langsung dibanting bahkan ada juga yang
langsung di short sell demi keuntungan ganda bagi bandar.

Untuk menghindari dan mengenali saham gorengan “gosong” ini, ada cara
gampang yang bisa dilakukan oleh para trader yaitu dengan melihat posisi dan
kondisi bid dan offer di order book dan jika memungkinkan bisa dikonfirmasi
dengan historis chart dari saham yang bersangkutan.

Berikut cara2 mengenali Saham Gorengan “Gosong” melalui Bid-Offer di Order
Book :

Dalam contoh ini kita akan menggunakan VRNA sebagai contoh.

Chart dari VRNA selama akhir Juli sd awal Agustus 2010 adalah sbb :

<http://www.investium.net/invlog1n/saham/wp-content/uploads/2010/08/VRNA-Chart-26-Jul-2-Agt-10.png>

Dari chart di atas, terlihat bahwa VRNA digoreng sampai gosong pada tanggal
26 sd 29 Juli 2010.
Dari chart di atas juga terlihat bahwa Bandar melakukan akumulasi sekaligus
mulai menggoreng VRNA di 23 Juli 2010.

Ketika 26 Juli 2010, VRNA terlihat digoreng sampai “gosong”. Tanda2
penggorengan gosong ini bisa dilihat melalui posisi dan kondisi bid-offer
yang ada di order book.

<http://www.investium.net/invlog1n/saham/wp-content/uploads/2010/08/VRNA-01.jpg>

Gambar di atas menunjukkan kondisi pada saat VRNA setelah mencapai puncak di
114 dan mulai mengalami reversal. Terjadi pada pukul 14:17 WIB.
Terlihat rasio antara bid dan offer sangat jauh yaitu jumlah bid +/- 5 x
jumlah offer.

Order pada bid di 108 sd 112 hampir merupakan kelipatan dari 10.000 lot.
Inilah salah satu tanda dari saham gorengan gosong. Yaitu pada bid dipasang
order yang banyak di saat harga mencapai puncak dan di saat reversal.
Bilangan biasanya bilangan kelipatan 1000, 10 ribu atau 100 ribu lot.
Tujuannya adalah untuk memberikan kesan bahwa tekanan beli masih tinggi
sehingga bisa memancing para retail untuk tetap membeli saham tsb. Selain
itu pada order dipasang jumlah lot cukup banyak supaya memaksa para retailer
untuk langsung membeli di harga offer.

Untuk offer, pada orderbook terlihat bahwa jumlahnya sangat sedikit bila
dibandingkan dengan bid. Pada harga 13 terlihat bahwa offer hanya +/- 4.000
lot sedangkan pada bid di 112 +/- 24.000 lot. Namun demikian meskipun
jumlahnya sedikit, namun ketika offer sudah habis, selalu diisi lagi dengan
jumlah tidak terlalu banyak sehingga offer di 113 selalu ada. Hal ini
terjadi terus sampai seluruh saham milik bandar sudah dilepas semua dan bisa
berlanjut jika bandar tersebut berniat untuk melakukan short sell. Inilah
tanda kedua dari saham gorengan “gosong”.

Dari hal ini bisa dilihat bahwa bandar berusaha memberikan kesan bahwa
tekanan jual kecil sehingga para retail masih berminat untuk membeli di 113
karena melihat potensi untuk naik sangat tinggi mengingat jumlah offer yang
tidak banyak atau tekanan jual yang kecil. Padahal di saat yang bersamaan
bandar sedang berusaha melepas seluruh sahamnya dan bahkan melakukan short
sell.

<http://www.investium.net/invlog1n/saham/wp-content/uploads/2010/08/VRNA-02.jpg>

Pada screenshot yang diambil sekitar 14:19 WIB atau 2 menit setelah gambar
sebelumnya, terlihat bahwa jumlah bid di 110 sd 112 tiba2 hilang dan bandar
langsung melepas VRNA di harga 110-111. Hal ini menunjukkan bahwa bandar
sudah melepas seluruh sahamnya dan terlihat bahwa bandar sedang mencoba
untuk menshort sell VRNA ini karena pada harga 106 sd 109 masih dipasang bid
dengan jumlah +/- 10.000 lot. Jadi bandar masih mencoba memberikan kesan
bahwa tekanan beli masih ada sehingga masih ada yang berniat membeli VRNA
karena menganggap harga sudah murah. Padahal di saat bersamaan bandar sedang
menshort saham tersebut di harga offer. Inilah yang menjadi tanda ketiga
dari saham2 gorengan “gosong”.

Tanda keempat dari saham gorengan “gosong” ini adalah hampir sama seperti
tanda kedua yaitu offer masih terlihat sedikit. Namun ketika habis selalu
diisi, sehingga harga dijaga di level tsb sampai bandar merasa cukup
memiliki posisi short di harga tersebut. Ketika keadaan ini telah tercapai,
maka bandar akan mencabut kembali bidnya dan mendorong lagi VRNA untuk turun
ke harga yang lebih rendah. Sebagai bukti bisa dilihat pada gambar berikut
yang terjadi +/- 1 menit kemudian yaitu pada pukul 14.20 WIB :

<http://www.investium.net/invlog1n/saham/wp-content/uploads/2010/08/VRNA-03.jpg>

Dari gambar di atas terlihat bahwa bandar telah mencabut order bidnya di
level 107-109 dan mulai melepas sahamnya di level 107-108.

Proses di atas diulangi terus sampai harga turun semakin jauh. Sebagai bukti
bisa dilihat pada gambar berikut yang diambil +/- 1 jam kemudian yaitu pada
pukul 15.28 WIB.

<http://www.investium.net/invlog1n/saham/wp-content/uploads/2010/08/VRNA-07.jpg>

Pada posisi ini terlihat bahwa VRNA sudah mencapai harga di level 98 atau
turun sebesar 10,9% dibanding previous pricenya. Sehingga terjadi perubahan
drastis dari + 3,6% menjadi – 10,9% hanya dalam waktu +/- 1 jam. Namun tentu
saja dalam perjalanannya, terjadi upaya2 untuk mengangkat kembali VRNA ini
yaitu para “nyangkuter” berusaha untuk melakukan averaging down yang
sebetulnya dilandasi oleh faktor fear and greedy yaitu takut akan loss yang
terlalu besar sehingga melakukan upaya2 untuk menurunkan %loss dan masih
berharap harga bisa kembali naik sehingga dengan averaging down, berharap
keuntungan bisa lebih tinggi.

Oleh karena faktor ini pula maka VRNA bisa closed di level 102 seperti yang
terlihat pada gambar berikut.

<http://www.investium.net/invlog1n/saham/wp-content/uploads/2010/08/VRNA-08.jpg>

Faktor lain yang menyebabkan kenaikan di saat closing ini adanya sebagian
buy back yang dilakukan bandar untuk mengcover short sell yang telah
dilakukan.

Jika ternyata kondisi untuk melakukan short sell masih memungkinkan (saham
masih likuid), maka short sell bisa dilanjutkan di hari2 berikutnya. Hal ini
terjadi pada VRNA dan bisa dilihat pada gambar berikut dimana VRNA di short
sampai harga 86 yang terjadi pada tanggal 28 Juli 2010.
Sebagai informasi tambahan, di 26 Juli 2010, VRNA termasuk saham yang top
aktif.

<http://www.investium.net/invlog1n/saham/wp-content/uploads/2010/08/VRNA-Chart-26-Jul-2-Agt-101.png>

Demikian tanda2 dari saham gorengan “gosong”.
Semoga bermanfaat.

Kirim email ke